JAKARTA | duta.co – Living Museum Roemah Toegoe kembali menjadi ruang perjumpaan budaya dunia melalui penyelenggaraan “Senandung Budaya dari Lisbon ke Batavia”, sebuah malam pertukaran budaya Indonesia dan Portugal yang berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026, pukul 17.00–22.00 WIB. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Budaya Michiels ini menghadirkan rombongan pelestari budaya dari Portugal, Viras do Tio Xico (Viras Txico), yang dipimpin oleh Francisco Lacerda e Megre.

Kunjungan ke Kampung Tugu menjadi destinasi pertama rombongan Viras Txico selama berada di Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan budaya ke beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemilihan Kampung Tugu sebagai titik awal bukan tanpa alasan. Kampung Tugu merupakan salah satu komunitas yang masih mempertahankan jejak budaya Portugis yang telah berasimilasi dengan budaya Nusantara selama lebih dari tiga abad, sehingga menjadi simbol hidup hubungan sejarah dan persahabatan antara Indonesia dan Portugal.

Acara dibuka dengan Tarian Betawi sebagai tarian penyambutan yang dibawakan dengan anggun oleh Putri Anak Indonesia Lingkungan 2026, Myesha, sebagai representasi budaya Jakarta. Suasana kemudian dilanjutkan dengan penampilan Volkdance Malhão-Malhão oleh Romerous da Tugu, yang memperlihatkan bagaimana warisan budaya Portugis tetap hidup dan berkembang di Kampung Tugu hingga saat ini.

Nuansa musikal semakin terasa ketika Krontjong Muda Indonesia membawakan sejumlah lagu berbahasa Kreol Portugis dan Portugis, antara lain Cafrinho, Rosa Branca, dan Très Pombhinas. Penampilan tersebut semakin menghangatkan suasana melalui lagu Sodade yang dilantunkan dengan penuh penghayatan oleh Angela, menggambarkan eratnya hubungan musikal antara tradisi Kampung Tugu dengan dunia Lusofonia.

Keceriaan berlanjut melalui penampilan tarian rakyat Portugal  Three Viras. Tidak hanya menjadi pertunjukan, tarian tersebut berubah menjadi ruang interaksi ketika anggota Viras Txico dan anggota komunitas Yayasan Rumah Budaya Michiels dan para undangan menari bersama. Momen ini menunjukkan bahwa musik dan tari mampu menjadi bahasa universal yang mempertemukan masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda.

Sebagai bagian dari pengalaman budaya yang utuh, Yayasan Rumah Budaya Michiels juga memperkenalkan kekayaan kuliner khas Kampung Tugu yang diyakini memiliki pengaruh Portugis. Para tamu menikmati berbagai hidangan tradisional seperti spet, gado-gado Tugu, ketan unti, kue Bugis, serta bakwan goreng. Kuliner tersebut menjadi media untuk memperkenalkan sejarah panjang akulturasi budaya yang masih dapat dinikmati hingga hari ini.

Selain seni pertunjukan dan kuliner, para tamu dari Portugal juga mengikuti edukasi membatik serta diperkenalkan dengan Michiels Batik Toegoe, sebuah karya batik yang mengangkat sejarah, identitas, dan kekayaan budaya Kampung Tugu ke dalam motif-motif kontemporer. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui seni pertunjukan, tetapi juga melalui kriya dan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya.

Memasuki malam, panggung diambil alih oleh Krontjong Toegoe yang tampil hampir selama satu jam membawakan medley lagu-lagu Krontjong serta lagu-lagu daerah Indonesia. Penampilan tersebut semakin memikat dengan suara merdu Rafa Ramaniya yang berhasil menghidupkan suasana dan mengajak seluruh tamu menikmati kekayaan musik Nusantara.

Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika sejumlah pemuda Viras Txico bergabung memainkan cello, bass, dan reque-reque bersama para musisi Krontjong Toegoe. Sebaliknya, Krontjong Toegoe turut mengiringi anggota Viras Txico menyanyikan beberapa lagu berbahasa Inggris. Kolaborasi spontan ini menjadi simbol nyata pertukaran budaya yang berlangsung secara alami, hangat, dan penuh persaudaraan.

Seluruh rangkaian acara dipandu dengan hangat oleh Rose dan Davi, yang berhasil menciptakan suasana akrab sepanjang malam.

Dalam sambutannya, pimpinan Viras Txico, Francisco Lacerda e Megre, menjelaskan bahwa rombongan mereka terdiri dari 23 sahabat dari lima keluarga, termasuk sebelas generasi muda, yang memiliki kecintaan terhadap musik, lagu, dan tarian rakyat tradisional Portugal Utara. Mereka merupakan bagian dari sekolah tari rakyat Viras do Tio Xico, sebuah komunitas yang secara sukarela mengajarkan seni tradisional kepada generasi muda agar warisan budaya tetap lestari.

Francisco mengungkapkan bahwa empat tahun lalu mereka memutuskan mengisi masa pensiun dengan mengunjungi komunitas-komunitas di berbagai belahan dunia yang masih menjaga warisan budaya Portugis.

“Kami bukan artis profesional. Kami hanya mencintai musik, lagu, dan tarian rakyat kami dengan penuh kegembiraan dan keikhlasan. Kami datang ke Tugu untuk melihat bagaimana warisan itu tetap hidup di sini, sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi tersebut masih hidup di Portugal saat ini.”

Ia juga mengaku sangat terharu ketika mendengar lagu-lagu Kampung Tugu yang dimainkan menggunakan cavaquinho (yang bertrasformasi menjadi macina dan prounga di Kampung Tugu) dan alat musik berdawai lainnya. “Melodi yang kami dengar mengingatkan kami pada Morna dari Cabo Verde dan Fado dari Portugal.”

Menurutnya, tahun ini mereka sengaja membawa anak-anak dan cucu-cucu mereka agar dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah warisan budaya mampu bertahan selama ratusan tahun dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam pesannya yang paling menyentuh, Francisco mengatakan: “Kehangatan manusia, tatapan mata, sentuhan tangan, dan hubungan hati dengan hati adalah pengalaman yang tidak akan pernah dapat diberikan oleh kecerdasan buatan.”

Ia berharap pertemuan ini menjadi pengalaman yang menginspirasi generasi muda Kampung Tugu sekaligus mempererat persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Portugal.

Ketua Yayasan Rumah Budaya Michiels, Lisa Michiels, menyampaikan bahwa terdapat kesamaan semangat antara Yayasan Rumah Budaya Michiels dan Viras do Tio Xico, yaitu sama-sama melestarikan budaya secara mandiri, berbasis komunitas, serta melibatkan generasi muda sebagai pewaris tradisi.

Menurut Lisa, kegiatan seperti ini merupakan bentuk nyata diplomasi budaya yang memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat menjadi jembatan persahabatan antarbangsa.

“Apa yang kami lakukan di Yayasan Rumah Budaya Michiels kiranya dapat menumbuhkan semangat masyarakat untuk terus melestarikan budaya sekaligus membuka ruang pertukaran budaya secara nyata dengan negara-negara di berbagai belahan dunia. Budaya adalah bahasa universal yang mampu menyatukan manusia tanpa mengenal batas negara.”

Apresiasi terhadap kegiatan ini juga datang dari Duta Besar Portugal untuk Indonesia, H.E. Gabriela Soares de Albergaria, yang dalam surat resminya menyampaikan:

“Allow me to convey my sincere appreciation to Yayasan Rumah Budaya Michiels for extending this kind invitation to the Embassy of Portugal. This initiative to honor the shared cultural heritage between Portugal and Indonesia is profoundly meaningful and highly commendable. It is a celebration of the longstanding friendship, history, and cultural ties that unite our two nations”

Bagi Yayasan Rumah Budaya Michiels, “Senandung Budaya dari Lisbon ke Batavia” bukan sekadar sebuah pertunjukan seni, melainkan sebuah perayaan persahabatan, sejarah, dan identitas budaya yang masih hidup hingga hari ini. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 499 Tahun Kota Jakarta, sekaligus bentuk dukungan nyata Yayasan Rumah Budaya Michiels terhadap upaya menjadikan Jakarta sebagai Kota Global yang berakar kuat pada sejarah, budaya, dan keberagamannya. Yayasan Rumah Budaya Michiels juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh mitra, relawan, seniman, komunitas, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan sehingga “Senandung Budaya dari Lisbon ke Batavia” dapat terselenggara dengan baik dan menjadi sebuah peristiwa budaya yang mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Portugal.

Tentang Yayasan Rumah Budaya Michiels

Yayasan Rumah Budaya Michiels merupakan lembaga pelestarian budaya yang mengelola Living Museum Roemah Toegoe di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Yayasan secara aktif melestarikan Musik Krontjong Kampung Tugu, bahasa Kreol Portugis Tugu, tari tradisional, kuliner, batik, sejarah Mardijkers, serta berbagai tradisi budaya lainnya melalui pendidikan, penelitian, pertunjukan, penerbitan buku dan booklet, dan pertukaran budaya internasional.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry