
SIDOARJO | duta.co – Proses Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) benar-benar dinamis. Itu juga yang terjadi di Desa Barengkrajan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Masih dalam perhitungan di Balai Desa, tim sukses calon sudah bisa menebak hasilnya per-TPS (Tempat Pemungutan Suara).
“Dalam hitungan kami, kami menang telak. Kami (pendukung No 1 atas nama Badrun SPd MM) dapat 2697 suara. Sedangkan rival terdekatnya (No 3 atas nama Asmono) mendapat 2122 suara. Selebihnya No 2 atas nama Suwono mendapat 49 suara dan Syaiful Arif No 4 memperoleh 709 suara. Ini hitungan kami per TPS,” demikian disampaikan salah seorang warga kepada duta.co, Minggu (24/5/26).
Data Lain
Klaim kemenangan ini sempat membuat suasana tegang. Di jalan Dusun Badas, Barengkrajan misalnya, terlihat banyak orang bergerombol. Mereka diduga pendukung Asmono, notabene kades lama. Mereka merasa dirugikan. “Ini masih dalam proses penghitungan, mbok ya dihormati panitia Pilkades,” tegas mereka.
Ustadz Didik Fanani, MPd, tokoh NU di Barengkrajan, melihat dinamika Pilkades ini masih lumrah dan terkendali. Menurutnya, semua masih batas wajar. “Ini adalah desa kita bersama. Soal siapa yang menang, itu sudah tertulis di sana (atas kehendak Allah SWT). Proses ini harus kita hargai bersama. Ini kemenangan kita bersama,” tegasnya kepada duta.co.
Ditanya soal klaim kemenangan No 1 atas nama Badrun SPd MM, menurut Didik memang hitungan per-TPS bisa diambil lebih cepat. “Sekarang semua serba cepat. Dan lagi, kemenangan Pak Badrun itu sangat wajar. Beliau dari keluarga besar, di samping itu warga rupanya ingin ada pergantian dan perubahan. Semoga kepemimpinan beliau amanah, itu saja,” tegasnya.
Sebelumnya, Badrun sendiri sebagaimana diunggah warta bratapos.com menyampaikan bahwa ia berkomitmen menghadirkan pemerintahan desa yang profesional, bersih, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. Ini yang menjadi semangat Badrun S.Pd.,M.M, calon Kepala Desa Barengkrajan, Kecamatan Krian, nomor urut 1.
Ia membawa visi besar untuk menata desa yang inovatif tanpa meninggalkan nilai budaya dan religius yang menjadi identitas masyarakat. Melalui visi “Menata Desa yang Inovatif dengan Tata Kelola Pemerintahan yang Profesional dan Berintegritas tanpa Menghilangkan Budaya Lokal yang Beretika, Berakhlak, serta Religius,” Badrun ingin pembangunan desa harus berjalan seimbang antara kemajuan, transparansi, serta penguatan nilai moral di tengah masyarakat.
Menurutnya, desa yang maju tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas pelayanan publik, kejujuran dalam pengelolaan pemerintahan, serta perhatian terhadap pendidikan dan kesejahteraan warga. “Pemerintahan desa harus hadir sebagai pelayan masyarakat. Profesional, terbuka, dan bekerja dengan integritas, sehingga kepercayaan masyarakat dapat terjaga,” ungkap Badrun kala itu.

Di sektor pembangunan, kata Badrun, penting ada pemerataan pembangunan infrastruktur, sarana, dan prasarana desa secara berkelanjutan, dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kompetensi agar pembangunan berjalan efektif dan tepat. “Barengkrajan memiliki potensi besar. Dengan tata kelola yang profesional, inovasi dalam pembangunan, serta dukungan masyarakat, saya yakin desa ini bisa berkembang lebih maju tanpa kehilangan jati diri budaya dan nilai religiusnya,” tegasnya.(mky)





































