
JOMBANG | duta.co – Terik matahari belum begitu menyengat pada Sabtu siang (28/6/25), namun semangat para peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Diklatsar PC Ansor-Satkorcab Banser Jombang sudah membara. Di antara ratusan peserta yang berdiri tegap mengikuti upacara pembukaan, seorang pria paruh baya tampak mencolok. Tubuhnya tegap, sorot matanya penuh semangat, dan ia mengenakan seragam lengkap. Namanya Joko Prasetyo, lebih dikenal dengan sapaan Bang Jack.
Tak banyak yang tahu, pria kelahiran Nganjuk ini adalah staf ahli Bupati Jombang. Jabatan itu tak membuatnya segan berbaris bersama kader muda lainnya. Ia datang bukan sebagai pejabat, tapi sebagai santri yang ingin belajar, berkhidmat, dan mencintai NU dengan caranya sendiri mengikuti pengkaderan di Ansor-Banser.
Namun tak disangka, ketika pembacaan Pancasila berlangsung momen sakral yang selalu menyentuh hati setiap warga negara Bang Jack tiba-tiba ambruk. Pingsan.
“Langsung kami beri pertolongan pertama dan bawa ke Puskesmas Bandarkedungmulyo,” ujar ketua panitia, Muhammad syauqi Hidayatullah. “Beliau sangat semangat sejak awal. Mungkin terlalu lelah,” lanjutnya.
Udara panas, kelelahan fisik, dan semangat yang terlalu tinggi bisa jadi pemicunya. Tapi yang paling mengejutkan, tak lama setelah sadar, Bang Jack justru tersenyum dan berkata lirih, “Saya masih siap ikut PKD lanjutan,” ujar bang Jack.
Tak banyak yang bisa mengatakan setelah pingsan. Tapi Bang Jack berbeda. Baginya, mengikuti Diklatsar adalah cara menebus rindu akan dunia santri yang pernah ia jalani di Krembyang, Tanjung Anom, Nganjuk.
“Saya ini lahir dari kultur NU. Sekarang bekerja di pemerintahan, tapi hati ini tetap ingin dekat dengan Nahdliyin. Diklatsar ini saya ikuti karena saya percaya bahwa Ansor Banser melahirkan manusia-manusia tangguh dari proses seperti ini,” tuturnya pelan.
Diklatsar yang ke-37 dilaksanakan di areal SMK Plus Umar Zahid. Ia rela meninggalkan sejumlah agenda penting di Nganjuk demi hadir penuh dalam pelatihan ini. Dengan latar belakang sebagai konsultan hukum dan staf ahli bupati di bidang hukum, ia merasa penting untuk terus terlibat dalam gerakan kebangsaan di akar rumput.
“Kalau tidak ikut merasakan proses kaderisasi seperti ini, saya khawatir akan kehilangan akar,” ucapnya dengan mata berkaca.
Hari itu, seorang staf ahli bupati bukan hanya menjadi peserta Diklatsar. Ia menjadi simbol semangat bahwa belajar, berkhidmat, dan mencintai tanah air bukan soal usia atau jabatan tapi soal komitmen dan keberanian untuk turun ke barisan. (din)