
“NU lahir bukan dari kalkulasi untung-rugi pasaran. Ia lahir dari sujud yang panjang di sepertiga malam, dari tirakat yang menguras raga, dan dari pengorbanan yang berdarah-darah.”
Oleh: Tejosuroso II
DI SEBUAH ruang yang riuh oleh ambisi, barangkali kita perlu sejenak menarik diri ke sudut yang sunyi, menjauh dari denting gelas hotel dan bisik-bisik di koridor. Merumuskan dalam benak kita sendiri akan sebuah definisi bahwa muktamar bukan sekadar ritual lima tahunan. Untuk memperebutkan kursi atau panggung bagi para orator yang pandai bersilat lidah. Ia, pada hakikatnya, adalah sebuah persaksian.
Namun, belakangan ini, ada aroma yang menyesakkan: bau anyir risywah. Sebuah praktik yang dalam kitab-kitab kita disebut sebagai yang terlaknat, namun di bawah meja sering kali dikemas dengan eufemisme yang santun, dianggap sebagai “pelumas” atau sekadar “tanda terima kasih”.
Bayangkan sejenak, di tengah keriuhan itu, wajah Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari atau Mbah Wahab Chasbullah hadir. Ada kepiluan yang mendalam, sebuah rasa haru yang menyesak di dada, jika kita membayangkan beliau-beliau berdiri di pojok ruangan, menyaksikan bagaimana warisan yang mereka bangun dengan darah dan air mata kini sedang ditawar-tawar layaknya barang dagangan di pasar loak.
NU lahir bukan dari kalkulasi untung-rugi pasaran. Ia lahir dari sujud yang panjang di sepertiga malam, dari tirakat yang menguras raga, dan dari pengorbanan yang berdarah-darah.
Para masyayikh mu’assisin membangun jam’iyyah ini dengan tapak kaki yang pecah-pecah menelusuri desa-desa terpencil, membawa misi menjaga martabat umat dan tegaknya panji Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka mengorbankan ketenangan keluarga, harta benda, bahkan nyawa, bukan untuk melihat anakcucu spiritual mereka berkelahi memperebutkan amplop di kemudian hari.
Kini, ketika lembaran-lembaran rupiah mulai berpindah tangan demi sekotak suara, kita sebenarnya sedang menghunus sembilu ke jantung sejarah kita sendiri. Setiap transaksi gelap itu adalah sebentuk pengkhianatan terhadap kejernihan niat para kiai sepuh.
Betapa teganya kita menukar warisan spiritual yang luhur, yang penuh dengan barokah, dengan transaksi recehan kekuasaan yang fana?
Ada rasa pilu yang sulit dilukiskan: melihat sebuah organisasi ulama, yang seharusnya menjadi kompas moral bangsa, perlahan terseret ke dalam lumpur pragmatisme yang dangkal.
Menyakiti para mu’assisin tidak selalu dilakukan dengan mencaci makam mereka atau merobek foto-foto mereka. Kita sejatinya bisa menyakiti mereka dengan cara yang lebih halus namun mematikan: dengan membiarkan politik uang merusak marwah organisasi yang mereka besarkan dengan doa dan air mata.
Risywah adalah racun yang bekerja diam-diam; ia mematikan nurani sebelum akhirnya membusukkan institusi. Ia mengubah sosok kiai yang seharusnya menjadi pengayom menjadi sekadar makelar, dan mengubah para mu’tamirin yang terhormat menjadi komoditas yang bisa dibeli.
Kita sering lupa bahwa NU adalah sebuah “rumah besar” yang tiangnya dipahat dari keikhlasan. Jika tiang-tiang itu kini kita ganti dengan kayu lapuk yang direkatkan oleh uang sogokan, jangan heran jika suatu saat bangunan ini akan roboh menimpa kita semua.
Kita berutang pada sejarah, berutang pada mereka yang telah tiada, untuk menjaga agar muktamar tetap menjadi forum yang suci, bukan ajang transaksi.
Maka, sebelum tangan Anda menerima atau memberi, sebelum jemari Anda menandatangani kesepakatan-kesepakatan gelap di balik pintu tertutup, ingatlah debu di jubah para pendiri. Ingatlah kelelahan Mbah Bisri Syansuri saat merumuskan hukum, atau keteguhan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jangan biarkan NU hancur bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam.
Jangan lukai mereka yang telah susah payah membangun jam’iyah barokah ini dengan kerakusan kita yang sementara. Kembalilah pada khittah, pada kesederhanaan yang bermartabat. Biarlah Muktamar kali ini menjadi saksi bahwa kita masih memiliki rasa malu. Sebab, jika rasa malu itu sudah hilang, apalagi yang tersisa dari kita sebagai santri?
Jangan sampai sejarah mencatat kita sebagai generasi yang tega menjual “rumah warisan” para wali hanya demi sepiring nasi dan jabatan yang akan berakhir dalam hitungan tahun.
Lereng Bromo, 08/04/26.





































