
SURABAYA | duta.co – Sebanyak lima mahasiswa UNESA (Universitas Negeri Surabaya) magang di Museum NU. Mereka juga ingin lebih dekat dengan misi besar jamiyah diniyah (organisasi keagamaan) ini, dalam ikut serta membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“NU selama ini dikenal dengan jargon ‘NKRI harga mati’. Bagaimana rekam jejak berdirinya NU, apa saja yang ditinggalkan para kiai untuk generasi muda, maka, Museum NU merekamnya dengan apik,” demikian disampaikan Muhammad Faris Habiburrahman, alumni Universitas Al-Azhar Kairo, penjaga Museum NU kepada duta.co, Selasa (19/5/26).
Lima mahasiswa UNESA itu adalah MOH RAMDHANA RAFIARCA SYAHPUTRA (Ramdhana), AKBARUDDIN SYAM AL FIRDAUS (Asyam), KURNIAWAN ROYYANU BACHTIAR (Kurniawan) MUHAMMAD ZAENUL FIKRI AUFANI (Zaenul) dan MOH. KHOIRUL WAFA (Wafa). Mereka dikoordinatori Ramdhana. Per 1 Juni mereka siap bergabung dengan petugas Museum NU. “InsyaAllah kami akan mulai bergabung 1 Juni besok. Hari ini, kita kulo nuwun dulu, syukur-syukur diterima dengan adanya surat balasan ke dosen pembimbing,” tegas Ramdhana sambil tersenyum.

Menurut Faris, banyak Kampus yang mengirim mahasiswa untuk magang di Museum NU. Bulan kemarin, baru saja selesai (4 bulan) mahasiswa dari FAHUM UINSA, Surabaya. Di sini, katanya, mahasiswa bisa melakukan improvisasi termasuk mengikuti acara-acara penting Museum NU.
“Menurut sejarahnya, bangunan Museum NU ini adalah ide Gus Dur (almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid) yang diwujudkan oleh Cak Anam (almaghfurlah Drs KH Choirul Anam), diresmikan oleh KH Sahal Mahfudz selaku Rais Aam PBNU. Museum NU ini bukan untuk diwaris keluarga Cak Anam, walau pun beliau yang sangat berkeringat,” tegasnya.
Penjelasan yang sama disampaikan Mokhammad Kaiyis, Pembina Yayasan Museum NU. Menurut Kaiyis, keberadaan Museum NU di Surabaya, ini bukan sebuah kebetulan, tetapi Surabaya sebagai Kota Pahlawan memiliki sejarah tersendiri bagi lahirnya NU. “NU lahir di Surabaya. Meski tokoh-tokoh banyak yang dari daerah, Jombang, Kediri, Rembang, Banten, dan lain-lain misalnya. Karena itu, Kota Surabaya memiliki sejarah tersendiri bagi NU,” tegasnya.

Kepada lima mahasiswa UNESA, Kaiyis menjelaskan, bahwa, Museum NU mestinya menjadi konsentrasi pemerintah. Ini lantaran isi Museum NU lebih banyak tentang bagaimana warga nahdliyin menjadi pelopor dalam hal kebangsaan, toleransi beragama, juga masalah-masalah kemandirian dalam sector ekonomi. “Maka, jangan heran, kalau teman-teman mahasiswa dari Universitas Kristen (UK) Petra merasa athome di Museum NU,” tegasnya.
Kaiyis juga berkisah tentang peran global kiai-kiai NU di dua tanah suci, haramain (Makkah – Madinah) Arab Saudi. Dulu, jelasnya, haramian lebih banyak dikuasi paham Wahabi. Kemudian kiai-kiai NU mengirim utusan (dikenal dengan sebutan Komite Hijaz) ke Arab Saudi. Meminta agar diperbolehkan amalan keagamaan di Makkah-Madinah menggunakan empat mazhab. “Alhamdulillah, Raja Saud (kala itu) memperbolehkan. Sampai sekarang di haramain berlaku untuk semua mazhab. Ada suratnya Raja Saud, dan kita abadikan sampai sekarang,” pungkasnya. (mky)





































