
SURABAYA | duta.co – Ribuan warga, anak-anak, remaja, tua muda warga kelurahan Sidoresmo tumplek blek mengikuti kegiatan rutin Sholawat Keliling 1 Suro Kelurahan Sidosermo. Pada agenda tahun 2026 ini Wakil Walikota Surabaya Armuji hadir memberi sambutan sekaligus melepas Sholawat keliling di Kelurahan Sidosermo.
Setiap tahun, warga Kelurahan Sidosermo, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya, menjalankan tradisi turun-temurun yang telah berlangsung puluhan hingga ratusan tahun, yakni Perayaan 1 Suro dengan Sholawat Keliling. Tradisi ini menjadi wujud ikhtiar spiritual sekaligus pelestarian kearifan lokal yang dikenal sebagai Kampung Santri.
Ir. H Wahyu Herdyanto Ketua Panitia 1 Suro Kelurahan Sidosermo mengatakan perayaan ini kegiatan setiap tahun yang menjadi budaya dari masyarakat Sidosermo. Pertama sholawat keliling yang diikuti 7 RW, dimana mereka akan keliling bersholawat dan takbir. Kedua bersedekah kepada anak yatim.

“Dengan sedekah kita harapkan bisa mendapatkan keberkahan dari Allah masyarakat Sidosermo dari segala balak, penyakit serta keberkahan dalam hidup. Selaku ketua panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemuka masyarakat tokoh agama tokoh masyarakat dan juga seluruh warga yang partisipasi dan mensukseskan 1 Muharram 1448 Hijriyah.”
Ir. H Wahyu Herdyanto menambahkan kegiatan ini menjadikan tradisi positif yang bagus bagi seluruh warga Indonesia dan juga warga Kota Surabaya kususnya warga Sidosermo. Antusiasme masyarakat cukup tinggi, semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
“Kami berharap serangkaian acara ini dapat menjaga kelestarian adat istiadat warisan leluhur Sidosermo. Lebih dari itu, tradisi ini menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda Kelurahan Sidosermo yang juga dikenal sebagai Kampung Santri,” ujar Ir H Wahyu Herdyanto selaku Ketua Panitia 1 Suro Kelurahan Sidosermo.
Sementara Muhaimin, salah satu legislatif DPRD Kota Surabaya mewakili warga masyarakat sekaligus mewakili Pemerintah Kota Surabaya sangat mendukung kegiatan reguler 1 Muharram ini. Banyak peristiwa besar yang dialami para nabi dan terjadi di bulan Muharram.
“Kegiatan turun menurun yang diisi dengan dengan dzikir membaca Sholawat, Tahmid, Tahlil dan berdoa agar diberi keselamatan dan keberkahan oleh Allah,” jelas Muhaimin.
Dari segi sosial budaya, tradisi Sholawat Keliling 1 Suro ini diyakini menjadi satu-satunya di Indonesia. Karena itu, menjadi kewajiban generasi penerus untuk terus melestarikannya agar berkelanjutan.
Awalnya tradisi ini digelar selama tujuh hari tujuh malam dengan melibatkan seluruh warga, dari anak-anak hingga sesepuh. Pembacaan Sholawat Keliling semula dilaksanakan setiap 10 Muharram, kemudian bergeser ke 1 Muharram bertepatan dengan momentum hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Saat ini, rangkaian perayaan 1 Suro di Sidosermo tidak hanya Sholawat Keliling. Panitia juga menggelar Khotmil Quran di seluruh masjid dan mushola se-Kelurahan Sidosermo serta berbagai kegiatan keagamaan dan sosial budaya lainnya. Imm







































