Pertemuan Forum Dekan Keolahragaan seluruh Indonesia di Unesa,. DUTA/istimewa

Sistem Portofolio Belum Bisa Menunjukkan Potensi Maksimal

SURABAYA | duta.co – Seleksi keterampilan untuk bidang olahraga tetap penting dilaksanakan.

Ini  untuk mencari potensi dan kualifikasi para calon mahasiswa yang melalui seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri  (SBMPTN).

Pasalnya, sistem portofolio yang mempercayakan sekolah dan pengalaman kejuaraan  untuk melihat prestasi di bidang olahraga belum bisa menunjukkan potensi maksimal setiap calon mahasiswa baru (maba).

Itulah rekomendasi dari Dekan Keolahragaan seluruh Indonesia yang berasal dari 16 Perguruan Tinggi yang menggelar forum di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kemarin.

Selama tiga hari mereka menggelar pertemuan untuk memberikan masukan kepada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Seperti diketahui untuk SBMPTN 2019 mendatang, panitia menetapkan mahasiswa yang mengambil jurusan olahraga cukup dengan menyertakan portofolio, tidak lagi seperti sebelumnya dengan tes keterampilan di awal saat pendaftaran.

“Harusnya tes itu tetap dilakukan untuk mengetahui apa yang bersangkutan benar-benar memilii kemampuan olahraga atau tidak,” ujar Prof.Dr. Soegiyanto, Kepala Program Studi S2 dan S3 Pendidikan Olahraga, dari Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Hal yang sama juga diungkapkan Dr. Budi Valianto, Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Medan (Unimed).

Kebijakan baru SBMPTN itu mungkin bisa diterima dan sangat bagus bagi jurusan lain.

Namun sangat tidak adil jika itu juga diterapkan di fakultas atau jurusan berbasis keterampilan seperti Fakultas Olahraga dan Seni.

Maka dari itulah, Forum Dekan Keolahragaan se-Indonesia itu hadir untuk melakukan kajian bersama.

Dr. Budi Valianto menegaskan bahwa tes keterampilan sebaiknya tetap diadakan.

Sebab itu  merupakan modal awal bagi bagi calon mahasiswa yang masuk ke fakultas atau jurusan seperti Olahraga dan Seni.

Karena jika tidak memiliki modal awal, maka dikhawatirkan kualifikasi studinya tidak maksimal.

Sementara Ketua Tim Rekomendasi Forum Dekan Keolahragaan se-Indonesia, Dr. Wahyudi mengatakan tim rekomendasi tersebut juga akan melakukan penilaian sejauh mana efektivitas jalur Portofolio yang akan digunakan dalam SBMPTN 2019 itu.

Kualifikasi mahasiswa hasil dari tes portofolio itu akan dibandingkan dengan kualifikasi mahasiswa yang mengikuti tes keterampilan.

Tapi biasanya, berdasarkan pengalaman tim di fakultas masing-masing, dari segi skill jauh lebih baik menggunakan tes keterampilan dibanding tes portofolio.

Pria yang juga sebagai Ketua Prodi S2 Pendidikan Olahraga Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali itu menegaskan dalam forum tersebut sudah disepakati bahwa untuk seleksi masuk perguruan tinggi tidak bisa mengandalkan portofolio saja.

Namun perlu dilakukan tes keterampilan yang memadai.

Dalam siaran pers Kemristekdikti Oktober lalu secara redaksi tidak meniadakan tes keterampilan. Maka pihaknya akan menyampaikan rekomendasi itu sesegera mungkin.

Dr. Wahyudi menambahkan rekomendasi itu harus dipertimbangkan oleh pusat. Sebab, itu sangat penting dan menentukan masa depan generasi dan mempengaruhi kualifikasi lulusan Universitas itu sendiri.

Terlebih fakultas atau jurusan Olahraga yang menuntut perkembangan skill yang cepat. Sehingga memerlukan calon mahasiswa yang berkualifikasi terbaik untuk memajukan SDM Olahraga serta memajukan bangsa Indonesia lewat prestasi para atletnya.

Rektor Unesa Prof.Dr. Nurhasan, M.Kes menyampaikan bahwa tahun ini Unesa menjadi tuan rumah pertemuan Forum Dekan Keolahragaan untuk memberikan masukan positif bagi perkembangan Fakultas Olahraga ke depannya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.