“Menarik! Tulisan Amin Said Husni, Ketua PBNU soal ‘Relasi PKB dan NU’ publika.rmol.id hari ini, menarik kita simak. Ia menyebut banyak orang gagal paham dengan langkah Ketua Umum PBNU Kiai Yahya Cholil Staquf perihal relasi NU dengan partai politik. Termasuk PKB? Mengapa?”

Oleh Mokhammad Kaiyis*

TIDAK MUNGKIN bisa menyeragamkan pemahaman nahdliyin tentang ‘Relasi PKB dan NU’. Pun termasuk Ketua PBNU, Mas Amin (panggilan akrabnya). Tetapi, setidaknya, catatan mantan Bupati Bondowoso itu, bisa ‘menuntun’ pembaca, termasuk politisi PKB, bagaimana caranya ‘menghormati’ Nahdlatul Ulama yang telah bersusah-payah melahirkan PKB.

Nahdliyin pasti heran membaca tulisan KH Imam Jazuli, Lc MA  ‘PBNU Wajib Mengamanahkan Warga NU Jadi Ber-PKB’ tribunnews.com, Senin, 7 Februari 2022.

Apalagi, ia mengunggah foto lama, dokumen pribadi berupa Surat Tugas dari PBNU mengenai usulan pembentukan Partai Politik untuk mewadahi aspirasi politik warga Nahdlatul Ulama.

Surat Tugas itu kemudian ikut viral. Tidak lama, muncul juga kaos bertuliskan ‘NGAKU NU WAJIB BER-PKB – KARENA PKB ADALAH ALAT POLITIK NU’.

Beres? Sebentar. Tulisan alumni Universitas Al-Azhar, Mesir ini disambar Dahlan Iskan (disway), Sabtu (5/2/22) berujudul ‘Air Sirup’. Dahlan ‘meledek’ Gus Imam dengan mengikuti bunyi kaos ‘YANG MERASA NU HARUS BER-PKB’. Ia jawab sendiri dengan satu kata: ‘Hah?’ tulisnya.

Artinya, ajakan ‘Yang merasa NU Harus Ber-PKB’ menjadi impossible, tidak masuk akal.

Gus Imam perlu membaca (kembali) Surat Tugas PBNU No 925/A.II03/6/1998. Surat tersebut lahir setelah ada USULAN warga NU untuk membentuk Partai Politik guna mewadahi aspirasi politik warga Nahdlatul Ulama.

Kalimat lengkapnya begini: Menginventarisir dan merangkum usulan-usulan mengenai pembentukan Partai Politik untuk mewadahi aspirasi politik warga Nahdlatul Ulama.

Dengan begitu, jelas, bukan PBNU sebagai inisiator, tetapi fasilitator.

Masih soal Surat Tugas. Banyak yang menyebut, belum PBNU cabut. Padahal, tanpa PBNU cabut, habis sudah masa berlakunya.

Simak alenia terakhir dari surat itu: Surat tugas ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkannya sampai dengan selesai tugasnya. Surat Tugas yang diterbitkan sebelumnya tentang hal-hal yang tersebut di atas dinyatakan tidak berlaku.

Ada lagi ‘logika’ yang viral di medsos. Kalau tidak salah dari KH M Yusuf Chudlori Ketua DPW PKB Jawa Tengah. Gus Yusuf mengatakan, bahwa, PKB lahir karena tiga partai (Golkar, PDI dan PPP) tidak bisa menampung aspirasi warga nahdliyin.

Boleh juga. Artinya, saat (reformasi) itu, usulan warga NU membentuk Parpol sendiri, sangat logis. Tentu, lebih ‘berkah’, terlebih usulan itu mendapat ‘restu’ PBNU.

Masalahnya: Saat ini, Parpol bukan cuma Golkar dan PPP. Banyak Parpol menjadi pesaing PKB. Semua ‘mengakomodasi’ politisi nahdliyin. Selain keduanya, ada PDI-P, Partai Gerindra, NasDem, Partai Demokrat, hatta PKS juga menerima kader NU. Inilah tantangan berat Gus Yusuf.

Gagal Paham

Asyik menyimak tulisan Mas Amin ini. Ia membukanya dengan kalimat: Banyak orang gagal paham terhadap pernyataan dan langkah Ketua Umum PBNU Kiai Yahya Cholil Staquf tentang relasi NU dengan organisasi politik dan kegiatan politik praktis.

Lalu? Lanjutnya: Mereka mengira NU meninggalkan PKB. Yang bukan orang PKB lalu tepuk tangan, kegirangan. Sedangkan sahabat-sahabat saya di PKB (politisi anyaran yang juga gagal paham) menjadi Baper (bawa perasaan), merasa ditinggalkan. Padahal ya tidak begitu maksudnya.

“Relasi NU dengan PKB itu alami sekali. Karena dulu PKB itu diinisiasi, bahkan dideklarasikan oleh pengurus-pengurus PBNU,” demikian Mas Amin mengutip Ketua Umum PBNU Gus Yahya dalam wawancara dengan CNN Indonesia.

Meski masih debatable, ada kalimat Gus Yahya yang dikutip  dengan apik dan menarik: ‘Relasi NU dengan PKB itu alami sekali’.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) versi online mengartikan alami itu (1) bersangkutan dengan alam, (2) bersifat alam.

Seorang Ketua PCNU di Jawa Timur, memberikan makna menarik: Alami berarti tergantung seberapa mengerti PKB terhadap aspirasi nahdliyin.

Artinya, ketika sudah menjadi Parpol, PKB-lah yang butuh nahdliyin. Bukan PBNU yang wajib mengamanahkan warganya ber-PKB. Kalau PBNU wajib  mengamanahkan warganya ber-PKB, (kalau begitu) mengapa tidak NU saja yang menjadi Parpol?

Jadi? Gus Imam wajib membaca catatan Mas Amin. PBNU itu hanya sebatas fasilitator, menyatukan berbagai inisiatif nahdliyin. Dengan kata lain, peran PBNU saat itu adalah menfasilitasi lahirnya satu Parpol untuk warga NU, yaitu PKB. Meski deklaratornya ada pengurus PBNU, tetapi mereka atas nama warga, jamiyah, bukan pengurus NU.

Setidaknya ini bisa disimak pada naskah Deklarasi PKB di alenia terakhir: Maka dengan memohon rahmat, taufiq, hidayah dan inayah Allah SWT serta didorong oleh semangat keagamaan, kebangsaan dan demokrasi, kami WARGA JAM’IYAH Nahdlatul Ulama dengan ini menyatakan berdirinya partai politik yang bersifat kejuangan, kebangsaan, terbuka dan demokratis yang diberi nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Jelas, bukan? Selanjutnya terserah Anda, PKB! (*)

*Mokhammad Kaiyis adalah Wartawan Duta Masyarakat dan duta.co.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry