“Gagasan dan Rekam Jejak Kepemimpinannya Layak Menjadi Edisi Khusus Ulang Tahun Ibuku: Khofifah Indar Parawansa — 19 Juni 1965–19 Juni 2026.”
CATATAN PINGGIR
Dr ROMADLON SUKARDI, MM*

ADA perempuan yang hadir sekadar menjadi bagian dari sejarah. Namun ada pula perempuan yang kehadirannya justru mengubah arah sejarah itu sendiri. Khofifah Indar Parawansa adalah salah satu di antaranya. Dalam perjalanan panjang pengabdiannya, ia tidak hanya membangun kebijakan dan program, tetapi juga menanam harapan, merawat kemanusiaan, dan menghadirkan rasa teduh bagi jutaan rakyat kecil yang menggantungkan mimpi pada hadirnya pemimpin yang bekerja dengan hati.

GUBERNUR JAWA TIMUR, KHOFIFAH INDAR PARAWANSA: Selalu melayani dan menjadi idola rakyat kecil serta mengayomi seluruh masyarakat Indonesia.

Di usia yang memasuki 61 tahun, Khofifah tidak sedang berdiri sebagai sosok yang menikmati puncak kekuasaan, melainkan sebagai perempuan pejuang yang terus berjalan di tengah denyut kehidupan rakyatnya. Dari lorong pesantren, ruang pengabdian sosial, hingga panggung kepemimpinan nasional dan internasional, ia memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi jabatan diraih, tetapi tentang seberapa banyak air mata yang mampu dikeringkan, harapan yang mampu dinyalakan, dan cinta yang mampu ditanamkan dalam kehidupan masyarakat.

Tidak Hanya Dihormati, Tetapi Juga Dicintai

Ada orang yang dikenang karena jabatannya. Ada pula yang dicintai karena ketulusannya. Tetapi sangat sedikit pemimpin yang mampu hadir sebagai keduanya sekaligus: dihormati karena kepemimpinannya, dan dirindukan karena kelembutan kemanusiaannya. Di titik itulah nama Dr. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si berdiri. Bukan sekadar Gubernur Jawa Timur, bukan sekadar tokoh nasional, melainkan seorang perempuan yang menjadikan pengabdian sebagai napas hidupnya. Dalam dirinya, publik melihat perpaduan langka antara kekuatan visi, kecerdasan strategis, spiritualitas pesantren, dan empati seorang ibu bangsa.

Ulang tahun bagi sebagian orang mungkin hanya penanda bertambahnya usia. Tetapi bagi sosok seperti Khofifah, ulang tahun adalah penanda panjangnya perjalanan pengabdian. Perjalanan yang ditempa oleh doa-doa sunyi, kerja tanpa lelah, air mata rakyat kecil, serta keyakinan bahwa jabatan hanyalah alat untuk menghadirkan kemaslahatan. Dari lorong pesantren, ruang aktivisme, kabinet pemerintahan, hingga panggung diplomasi internasional, Khofifah tetap tampil dengan wajah yang sama: sederhana, membumi, namun berkelas dunia.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh polarisasi, ambisi kekuasaan, dan kompetisi tanpa empati, Khofifah menghadirkan wajah kepemimpinan yang berbeda. Ia tidak memimpin dengan kemarahan, tetapi dengan ketenangan. Tidak membangun citra melalui sensasi, tetapi melalui konsistensi kerja nyata. Ia memahami bahwa kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan hanya kemampuan membuat kebijakan, tetapi kemampuan menyentuh hati masyarakatnya.

 

Barangkali itulah sebabnya mengapa banyak rakyat kecil merasa dekat dengannya. Para guru madrasah merasa diperhatikan. Para perempuan merasa dimuliakan. Para santri merasa memiliki tempat. Para petani merasa didengar. Bahkan di banyak ruang sosial, nama Khofifah sering disebut bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai “ibu” bagi banyak harapan.

Yang menarik, di balik ketegasannya sebagai pemimpin, Khofifah tetap menyimpan sisi humanis yang begitu kuat. Ia mampu berdialog dengan dunia internasional, namun tetap khusyuk duduk bersama para kiai kampung. Ia mampu berbicara tentang SDGs, transformasi digital, green economy, dan geopolitik global, tetapi tetap fasih berbicara tentang kasih sayang, keberkahan, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Di sinilah letak keistimewaannya: modern tanpa tercerabut dari akar tradisi.

Dalam perspektif kepemimpinan global modern, Khofifah sesungguhnya sedang memperlihatkan model compassionate leadership — kepemimpinan yang bertumpu pada empati, keberanian moral, kolaborasi, dan ketahanan sosial dan masih banyak lagi lainnya. Ia tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun infrastruktur harapan. Tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga membangun optimisme rakyat.

Di ulang tahunnya yang ke-61 ini, melalui Catatan Pinggir edisi khusus ini, kami mencoba melakukan inventarisasi pemikiran, jejak pengabdian, capaian strategis, serta karakter kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa dari berbagai data, fakta, rekam jejak, dan perspektif yang valid serta komprehensif. Dari perjalanan panjang itulah tampak bahwa kepemimpinan Khofifah bukan sekadar kepemimpinan administratif dan birokratis semata, melainkan telah berkembang menjadi model kepemimpinan transformatif yang memadukan kekuatan intelektual, spiritualitas pesantren, sensitivitas sosial, kecerdasan geopolitik, keberanian inovasi, diplomasi kemanusiaan, serta kemampuan membangun peradaban yang berorientasi pada masa depan. Sosoknya menghadirkan wajah pemimpin perempuan Indonesia yang modern, berkelas dunia, membumi, sekaligus mampu menjaga harmoni antara nilai keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kemajuan zaman.

Beliau hadir sebagai model kepemimpinan yang lengkap, transformatif, inovatif, kreatif, adaptif, visioner, humanis, spiritualis, progresif, responsif, inklusif, kolaboratif, partisipatif, komunikatif, inspiratif, edukatif, strategis, diplomatis, moderat, solutif, integratif, akseleratif, produktif, kompetitif, profesional, elegan, berwibawa, membumi, berintegritas, berempati, berkarakter, berketahanan, berkelanjutan, futuristik, modern, berkelas dunia, berbasis nilai, berbasis pelayanan, berbasis kemanusiaan, berbasis inovasi, berbasis keberlanjutan, berbasis pemberdayaan, berbasis gotong royong, berbasis spiritualitas, berbasis keadilan sosial, berbasis pengabdian, berbasis transformasi sosial, berbasis kesejahteraan rakyat, berbasis pembangunan SDM, berbasis perdamaian dunia, berbasis budaya lokal, berbasis literasi global, berbasis ekonomi kerakyatan, berbasis teknologi, berbasis ketahanan pangan, berbasis pendidikan karakter, berbasis diplomasi kemanusiaan, berbasis pemberdayaan perempuan, berbasis harmoni sosial, religius berbasis nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta berbasis cinta kepada rakyat dan bangsa.

Di tengah perubahan dunia yang bergerak sangat cepat, Khofifah Indar Parawansa memperlihatkan bahwa kepemimpinan masa depan bukan hanya membutuhkan kecerdasan teknokratis, tetapi juga keteduhan moral dan kekuatan nurani. Ia menghadirkan wajah kepemimpinan yang tidak terjebak pada simbol kekuasaan, melainkan fokus membangun peradaban, memperkuat kohesi sosial, merawat keberagaman, mengangkat martabat perempuan, membela wong cilik, memperkuat generasi muda, serta menanamkan optimisme bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia melalui jalan pengabdian, pendidikan, inovasi, dan kemanusiaan.

Dan mungkin, itulah warisan terbesar yang sedang ia tinggalkan: keyakinan bahwa politik masih bisa dijalankan dengan hati nurani. Bahwa kekuasaan masih bisa dipakai untuk melindungi yang lemah. Bahwa perempuan mampu berdiri di garis depan perubahan tanpa kehilangan kelembutannya.

Di hari ulang tahunnya ini, publik tidak hanya merayakan pertambahan usia seorang pemimpin. Tetapi merayakan keteladanan, ketulusan, dan energi pengabdian yang terus menyala. Sebab sosok seperti Khofifah bukan hanya milik Jawa Timur, melainkan bagian dari harapan besar Indonesia tentang hadirnya pemimpin yang bekerja dengan akal sehat, hati yang teduh, dan jiwa yang penuh cinta kepada rakyatnya.

Selamat Ulang Tahun Ibu Khofifah Indar Parawansa.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, keberkahan umur, keluasan ilmu, dan kemuliaan pengabdian. Karena bangsa ini masih membutuhkan cahaya dari perempuan-perempuan kuat yang bekerja bukan demi popularitas, tetapi demi kemaslahatan umat dan masa depan peradaban. Wallahu A’lamu Bisshawab. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry