
SURABAYA | duta.co – Innalillahi wa innailaihi rajiun! KH Abdul Halim Mahfudz (Gus Iim) notabene kakak dari KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, wafat. Kalimat itu tersebar diberbagai grup medsos nahdliyin.
“Pesannya masih terngiang di telinga, agar generasi muda NU semakin pandai menerjemahkan warisan para kiai,” demikian disampaikan Prof Dr Mukhrojin kepada duta.co, Rabu (08/4/26) begitu mendengar kabar duka tersebut.
Menurut Gus Khozin, panggilan akrabnya, sosok Gus Iim sangat menginspirasi kader muda NU. Semangatnya luar biasa, begitu pula sepak terjangnya. Pesan tak pernah luntur, ia berharap generasi muda NU mampu menerjemahkan pesan-pesan ke-NU-an para kiai.
“Awal Maret (2026), kami dan Pemred Duta Masyarakat (Mokhammad Kaiyis red) sowan ke Gus Kikin bersama Gus Iim ke Ndalem Kasepuhan. Pesannya singkat, agar Museum NU dan Museum Islam Indonesia Hasyim Asy’ari (MINHA) Tebuireng berkolaborasi. Tugas Museum NU bukan sekedar memajang artefak (benda peninggalan para masyayikh), tetapi menerjemahkan perjuangan kiai dalam bahasa generasi terkini. Begitu pesan Gus Iim,” tegasnya.

Jejaknya di Jagat Pendidikan
Dunia (wartawan) telah mematri namanya. Tetapi di akhir hidupnya, Gus Iim tidak lepas dari dunia pesntren. Jagat luar terus diperhatikan. Dari ruang kelas yang penuh keberagaman, misalnya, seorang dosen menanamkan nilai halal bukan sebagai aturan, melainkan sebagai jalan hidup yang bersih dan transparan. Itulah Gus Iim.
Di sebuah sudut Jombang yang sarat sejarah, namanya tumbuh di tengah denyut pesantren dan semangat keilmuan yang tak pernah padam. Lahir pada 17 Juli 1954, Gus Iim bukan hanya pewaris darah biru pesantren, tetapi juga penjaga nilai dan pemikir masa depan tentang bagaimana keberkahan bisa hadir dalam dunia kewirausahaan modern.
Ia adalah putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah. Dari garis keturunan ibunya, Halim masih merupakan cicit dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng. Ibundanya, Nyai Abidah, adalah putri dari KH Ma’shum Ali dan Nyai Choiriyah, yang tak lain adalah putri KH Hasyim Asy’ari.
Jejak darah ulama itu menjadikan Gus Iim tak sekadar pewaris nasab, tapi juga penerus tradisi keilmuan dan tanggung jawab moral keluarga besar pesantren. Ayahandanya, KH Mahfudz Anwar, dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak, pesantren legendaris yang didirikan KH Ma’shum Ali, mertua sekaligus guru beliau.
Tak heran bila Gus Iim tumbuh dalam lingkungan yang menyatu antara ilmu, spiritualitas, dan pengabdian. Ia juga merupakan kakak kandung KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur saat ini.
Jejak Intelektual, Dari Seblak ke Cornell
Pendidikan Gus Iim dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Parimono, Jombang (1966), lalu berlanjut ke Pendidikan Guru Agama (PGA) empat tahun dan kemudian Sekolah Persiapan (SP) IAIN Jombang pada 1971.
Namun kisah pendidikannya tak berhenti di sana. Ayahnya mengirim Halim kecil untuk nyantri selama Ramadan di Lasem kepada KH Maksum, sahabat sang ayah. Di sanalah, Halim muda belajar bukan hanya ilmu agama, tapi juga kesahajaan seorang kiai, dari cara menyimak, melayani, hingga melinting tembakau untuk gurunya. “Belajar bukan sekadar dari kitab, tapi dari tutur dan laku,” begitu ia pernah mengenang.
Selepas SP IAIN, Gus Iim melanjutkan ke Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya dan mulai mengajar Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa IAIN. Ia juga sempat menjadi guru di MAN Surabaya dan MAN Sidoarjo. Tahun 1985, Ia terpilih mengikuti program Southeast Asian Student Leaders di Amerika Serikat atas undangan USIS, pengalaman yang membuka matanya tentang makna nilai-nilai Islam dalam konteks global.
Tiga tahun kemudian, Halim berangkat ke Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, untuk mempelajari Sejarah Asia Tenggara. Di kampus yang sarat intelektual itu, ia memperdalam pandangannya tentang dinamika sosial dan nilai etika lintas budaya, bekal penting yang kelak ia bawa pulang ke tanah air.
Meniti Karier dan Membangun Nilai
Sekembalinya ke Indonesia, Gus Iim sempat meniti karier di dunia profesional. Ia bergabung dengan Harian Surya di Surabaya, lalu hijrah ke Jakarta dan bekerja untuk lembaga-lembaga internasional seperti The Asia Foundation, Burson-Marsteller, Coca-Cola Indonesia, dan Standard Chartered Bank.
Pengalaman panjang itu memberinya pemahaman bahwa dunia korporasi pun membutuhkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberkahan, hal-hal yang diajarkan pesantren sejak kecil. Pada 2008, Gus Iim mendirikan Halma Strategic, perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi dan strategi bisnis.
Namun, darah pesantren dalam dirinya memanggil kembali. Sejak 2017, ia menerima amanat mengelola Yayasan Pendidikan dan Pesantren ROHMAH serta mengasuh Pesantren Seblak, tempat kakek buyutnya dulu mengabdi.
Gus Iim dikenal sebagai penggerak pendidikan halalpreneurship, sebuah konsep yang menjembatani nilai-nilai pesantren dengan semangat kewirausahaan modern. “Di kelas saya, ada empat puluh mahasiswa dari beragam latar belakang. Menariknya, hanya dua belas orang yang beragama Islam. Tapi justru dari keberagaman itulah saya melihat sesuatu yang berharga, yakni toleransi yang tumbuh dengan alami. Tidak ada sekat keyakinan, yang ada hanyalah rasa saling menghargai,” urainya suatu ketika.
Selamat Jalan Gus Iim, semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan menerima segala amal baik panjenengan! Lahulfaatihah. (mky)





































