JAKARTA | duta.co – Ketua Umum P2N, Dr. Ir. Lukman Edy, menegaskan bahwa Pengusaha & Profesional Nahdliyin (P2N) memiliki karakter yang berbeda dibandingkan organisasi-organisasi lain di lingkungan Nahdlatul Ulama. Penegasan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Ta’aruf Pengurus Pusat P2N yang berlangsung di Auditorium RRI, Jakarta, Sabtu (18/7) malam.

Menurut Lukman Edy, apabila berbagai organisasi di lingkungan NU umumnya lebih banyak membahas persoalan politik, sosial, maupun keagamaan, maka P2N hadir dengan fokus yang berbeda, yaitu membangun kekuatan ekonomi warga Nahdliyin.

«”Kalau organisasi NU yang lain berkumpul, yang dibicarakan biasanya persoalan politik, sosial, dan agama. Tetapi kalau P2N berkumpul, yang dibicarakan adalah ekonomi, peluang usaha, bisnis, dan bagaimana menghasilkan ‘cuan’,” ujar Lukman Edy yang disambut antusias para peserta.»

Ia menegaskan bahwa orientasi ekonomi tersebut bukan semata-mata mengejar keuntungan pribadi, melainkan membangun kemandirian ekonomi warga Nahdliyin agar mampu menjadi pelaku usaha yang kuat, profesional, dan berdaya saing.

Lukman Edy mengajak seluruh pengurus dan anggota P2N untuk memanfaatkan setiap kesempatan bertemu sebagai ruang berbagi pengalaman bisnis, membangun jaringan usaha, membuka peluang investasi, memperluas akses pasar, serta menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan.

“Setiap pengurus dan anggota harus cerdas memanfaatkan waktu dan peluang. Kehadiran di P2N harus memberikan nilai tambah bagi usaha masing-masing sekaligus memperkuat organisasi,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa P2N tidak hanya bertujuan memperkuat ekonomi para anggotanya. Organisasi ini juga diharapkan menjadi kekuatan strategis yang mampu memberikan dukungan nyata kepada Jam’iyah Nahdlatul Ulama, sekaligus membantu pengembangan usaha para jamaah NU di berbagai daerah.

Ekonomi sebagai Pilar Penguatan NU

Pandangan yang disampaikan Ketua Umum P2N menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu kebutuhan penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama. Organisasi keagamaan yang besar memerlukan basis ekonomi yang kuat agar mampu menjalankan berbagai program pendidikan, dakwah, sosial, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

P2N hadir sebagai wadah yang mempertemukan para pengusaha Nahdliyin dalam sebuah ekosistem bisnis yang saling mendukung. Melalui jaringan tersebut, anggota tidak hanya memperoleh relasi usaha, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kapasitas, memperluas pasar, memperoleh akses pembiayaan, hingga membangun kemitraan strategis.

Konsep “cuan” yang disampaikan Ketua Umum P2N juga perlu dipahami dalam makna yang lebih luas. Cuan bukan sekadar keuntungan finansial, melainkan simbol dari produktivitas, inovasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, dan kemampuan membangun kemandirian ekonomi umat.

Dengan semakin banyak pengusaha Nahdliyin yang tumbuh dan berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh anggota P2N, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui terciptanya lapangan pekerjaan, meningkatnya aktivitas ekonomi lokal, serta menguatnya kontribusi dunia usaha terhadap pembangunan bangsa.

Melalui semangat kolaborasi, inovasi, dan kewirausahaan, P2N diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya pengusaha-pengusaha Nahdliyin yang tangguh, berintegritas, dan mampu membawa ekonomi umat menuju tingkat yang lebih maju. Pada akhirnya, keberhasilan para pengusaha Nahdliyin bukan hanya menjadi keberhasilan individu, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi yang menopang kemajuan Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan meningkatkan kesejahteraan jamaah secara berkelanjutan.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry