SURABAYA | duta.co – KH Nur Maymoen, pengasuh PP Miftahul Ulum, Madaris Majelis Taklim Tambangagung Ares, Ambunten, Sumenep, Madura mengaku miris mendengar pidato Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kiai SAS) yang berisi kesombongan.

“Memangnya dia paling benar? Ini kecongkakan dan ketakabburan. Itu bukan akhlaq NU. Merasa paling benar, orang lain salah, ini berbahaya. Sama bahayanya dengan mengkafir-kafirkan orang lain,” tegas Nur Maymoen kepada duta.co, Senin (28/1/2019).

KH Nur Maymoen, pengasuh PP Miftahul Ulum, Madaris Majelis Taklim Tambangagung Ares, Ambunten, Sumenep, Madura. (FT/MKY)

Seperti yang sedang viral di medsos, cuplikan pidato Kiai SAS berdurasi 23 detik dari Tv-9 itu beredar dan mendapat banyak tanggapan warganet. Dalam sambutannya di Harlah ke-73 Muslimat NU, Kiai SAS mendorong kader NU untuk lebih berperan di segala sektor, dari mulai peran agama, peran akhlaq, peran kesejahteraan hingga peran politik.

“Peran apa? Terus tanya terus, peran apa? Syuhudan diniyan, peran agama. Harus kita pegang. Imam masjid, khotib-khotib, KUA-KUA, Pak Menteri Agama, harus dari NU. Kalau dipegang selain NU salah semua,” ujar Kiai SAS disambut tepuk tangan muslimat NU yang hadir, di GBK, Jakarta, Minggu (27/1/2019).

Menurut KH Nur Maymoen, apa yang disampaikan Kiai SAS ini bentuk kesombongan. Ini justru akan ditertawakan orang. Di mana pun kesombongan akan hancur. Karena akan dilaknat Allah swt.

“Masak lupa, bagaimana kisah iblis meremehkan Kanjeng Nabi Adam. Iblis merasa lebih mulia dan lebih bagus dari Adam, akhirnya Allah swt memberikan hukuman. Dari sini ada sinyal bahwa mereka akan dilaknat oleh Allah swt.,” tegas orang dekat Gus Dur ini.

Masih menurut KH Nur, hari ini organisasi NU sudah dijadikan alat politik. Banyak pengurus NU yang berubah menjadi petugas partai. Sampai ada kiai yang bilang tidak memilih Kiai Ma’ruf sama dengan menginjak-injak kepala NU.

“Ini sudah tidak normal. Justru yang memaksa warga NU memilih salah satu pasangan calon, ini yang justru menginjak-injak khitthah NU. Tanya mereka, mulai kapan NU menjadi petugas partai?” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.