Oleh Dr. H.A. Mukholis, MM.Pd*

BEBERAPA waktu terakhir, masyarakat banyak berbicara tentang Sekolah Rakyat. Ada yang membahas gedungnya, kurikulumnya, anggarannya, hingga siapa yang akan mengelolanya.

Semua pembicaraan itu penting, karena setiap upaya memperluas akses pendidikan tentu layak mendapat perhatian.

Namun, di tengah berbagai perbincangan tersebut, ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu kita renungkan bersama.

Sebenarnya, sekolah seperti apa yang paling dibutuhkan anak-anak kita?

Barangkali jawaban pertama yang muncul adalah sekolah yang bagus, lengkap fasilitasnya, ruang kelasnya nyaman, gurunya berkualitas, dan lingkungannya aman.

Semua itu benar. Tidak ada seorang pun yang ingin anak-anak belajar di tempat yang tidak layak.

Tetapi pengalaman panjang di dunia pendidikan mengajarkan bahwa sekolah yang baik tidak hanya dibangun dari tembok yang kokoh.

Sekolah yang baik dibangun dari orang-orang yang percaya bahwa setiap anak memiliki masa depan.

Ada anak yang datang ke sekolah membawa tas baru, tetapi pulang tanpa semangat karena merasa tidak pernah dihargai.

Ada pula anak yang belajar di ruang kelas sederhana, namun tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri karena setiap hari mendengar gurunya berkata: “Kamu pasti bisa!”

Di situlah letak kekuatan sebuah sekolah.

Gedung dapat dibangun dalam hitungan bulan.

Kepercayaan diri seorang anak kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh.

Karena itu, setiap ikhtiar menghadirkan sekolah bagi anak-anak patut kita apresiasi.

Bangsa ini memang membutuhkan lebih banyak pintu agar setiap anak memperoleh kesempatan belajar.

Tidak boleh ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena keadaan ekonomi, tempat tinggal, atau berbagai keterbatasan lainnya.

Namun, membangun sekolah hanyalah langkah awal.

Pekerjaan berikutnya jauh lebih besar, yaitu membangun budaya belajar.

Budaya yang membuat anak berani bertanya tanpa takut ditertawakan.

Budaya yang membuat guru tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menanamkan kejujuran, tanggung jawab, dan rasa ingin tahu.

Budaya yang membuat orang tua merasa bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama.

Sering kali kita berharap sekolah mampu menyelesaikan semua persoalan anak.

Padahal pendidikan tidak pernah bekerja sendirian. Ia membutuhkan keluarga yang mendampingi, masyarakat yang peduli, dan lingkungan yang memberi teladan.

Seorang anak mungkin belajar membaca di sekolah.

Tetapi ia belajar menghargai orang lain dari rumah.

Ia belajar disiplin dari kebiasaan sehari-hari.

Ia belajar peduli dari apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Karena itu, sekolah tidak boleh berjalan sendirian.

Sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah tiga ruang belajar yang saling melengkapi.

Apa pun nama programnya, apa pun bentuk sekolahnya, harapan kita sebenarnya tetap sama.

Kita ingin setiap anak Indonesia memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan percaya diri.

Bangsa ini tentu memerlukan sekolah yang lebih banyak.

Tetapi bangsa ini juga memerlukan sekolah yang mampu menumbuhkan harapan.

Sebab pada akhirnya, sekolah bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid.

Sekolah adalah tempat seorang anak mulai percaya bahwa dirinya berharga, mimpinya layak diperjuangkan, dan masa depannya masih terbuka.

Jika harapan itu berhasil tumbuh, maka apa pun nama sekolahnya, di situlah pendidikan sedang menjalankan tugasnya yang paling mulia.(*)

———-

*Dr. H.A. Mukholis, MM.Pd adalah Ketua LAZISNU Wonosobo; Direktur PKBM Prospek; Pegiat Pendidikan Masyarakat dan Penggerak Komunitas.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry