CATATAN PINGGIR
Dr. Romadlon Sukardi, MM*

DI tengah arus transformasi global, pendidikan tidak lagi sekadar ruang belajar, tetapi menjadi fondasi strategis pembentukan peradaban masa depan. Sinergi antara visi nasional Prabowo Subianto melalui Sekolah Rakyat dan kepemimpinan transformatif Khofifah Indar Parawansa menghadirkan model pendidikan inklusif yang modern, adaptif, dan berdaya saing global.

Dari ruang-ruang sederhana hingga panggung internasional, lahir generasi baru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter, tangguh secara sosial, dan siap memimpin masa depan dunia.

Maka, oleh karena itu, di tengah arus perubahan global yang bergerak sangat cepat—ditandai dengan disrupsi teknologi, kompetisi talenta lintas negara, dan transformasi sosial yang kompleks—pendidikan kembali menemukan makna dasarnya: bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia utuh yang memiliki daya pikir, daya juang, dan daya nilai.

Dalam konteks inilah, arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto melalui penguatan konsep Sekolah Rakyat menemukan relevansinya. Pendidikan tidak lagi boleh eksklusif, elitis, atau terjebak pada sekat-sekat sosial. Ia harus menjadi ruang terbuka—inklusif, membebaskan, dan mampu menjangkau anak-anak dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang selama ini berada di pinggiran akses pendidikan.

Namun, gagasan besar itu tidak akan memiliki makna tanpa implementasi nyata di tingkat daerah.

Dan di sinilah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa menemukan momentumnya.

Upacara Hari Pendidikan Nasional 2026 di Grahadi bukan sekadar simbolik. Ia adalah representasi konkret dari bagaimana konsep Sekolah Rakyat dihidupkan dalam praktik pendidikan yang inklusif, kolaboratif, dan penuh keberanian inovasi.

Ketika Paskibra tingkat provinsi melibatkan siswa lintas jenjang—dari SD, SMP hingga SMA—bahkan dengan komandan barisan dari siswa SD, sesungguhnya yang sedang ditampilkan adalah sebuah filosofi pendidikan yang egaliter.

Bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh usia. Bahwa kepercayaan diri dapat tumbuh sejak dini. Dan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk tampil di panggung besar, selama diberi ruang dan kesempatan.

Lebih jauh lagi, penampilan murid Sekolah Rakyat yang mampu berpidato dalam lima bahasa—Indonesia, Inggris, Arab, Jepang, dan Jerman—menjadi simbol kuat bahwa pendidikan berbasis kerakyatan tidak identik dengan keterbatasan.

Justru sebaliknya. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir daya saing global. Dari keterbatasan itulah lahir ketangguhan. Dari kesederhanaan itulah lahir keunggulan.

Kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa membaca arah ini dengan sangat tajam. Melalui visi “Jatim Cerdas – Pendidikan Berdampak”, beliau tidak hanya menyelaraskan kebijakan daerah dengan arah nasional, tetapi juga memperkaya implementasinya dengan pendekatan yang lebih komprehensif: pendidikan yang menyentuh aspek intelektual, emosional, sosial, hingga spiritual peserta didik.

Di sini terlihat jelas bahwa transformasi pendidikan di Jawa Timur tidak berjalan parsial, tetapi terintegrasi dalam sebuah ekosistem besar—yang melibatkan sekolah, guru, orang tua, masyarakat, bahkan dunia usaha dan industri.

Inilah yang disebut sebagai partisipasi semesta. Sebuah konsep yang dalam perspektif modern justru menjadi kunci keberhasilan sistem pendidikan maju di dunia.

Menariknya, di tengah penetrasi teknologi digital yang semakin dalam, kebijakan penataan penggunaan gadget di sekolah menunjukkan bahwa arah pendidikan di Jawa Timur tidak sekadar mengikuti arus modernitas, tetapi berusaha mengelola modernitas secara bijak.

Teknologi digunakan. Tetapi manusia tetap menjadi pusatnya. Karakter tetap menjadi fondasinya. Dan interaksi sosial tetap menjadi ruhnya.

Lebih dari itu, berbagai program inovatif seperti SIKAP, Double Track SMA, pengembangan kendaraan listrik di SMK, hingga penguatan pendidikan karakter dan kesehatan mental menunjukkan bahwa Jawa Timur sedang membangun sistem pendidikan masa depan—yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan industri, tetapi juga mampu membentuk manusia yang utuh.

Dalam perspektif strategis, sinergi antara program nasional Sekolah Rakyat dan implementasi daerah melalui kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa adalah sebuah *model ideal multi-level governance* dalam pembangunan pendidikan. Yaitu, Pusat memberikan arah besar. Daerah menghadirkan inovasi konkret. Dan masyarakat menjadi aktor utama dalam pelaksanaannya.

Inilah wajah baru pendidikan Indonesia.
Sebuah sistem yang tidak lagi top-down, tetapi kolaboratif, adaptif, dan berorientasi masa depan.

Pada akhirnya, yang sedang dibangun bukan sekadar sistem pendidikan. Tetapi arsitektur peradaban baru.Yakni:

Pertama, Peradaban yang memberi ruang bagi semua anak bangsa untuk tumbuh.

Kedua, Peradaban yang menghubungkan nilai-nilai lokal dengan daya saing global.

Ketiga, Peradaban yang menjadikan pendidikan sebagai jalan utama menuju keadilan sosial dan kemajuan bangsa.

Dan jika arah ini terus dijaga, bukan hal yang berlebihan jika suatu hari nanti Jawa Timur akan dikenang bukan hanya sebagai barometer pendidikan nasional, tetapi sebagai salah satu pusat lahirnya model pendidikan kerakyatan modern yang menginspirasi dunia.
Sebuah warisan kepemimpinan yang tidak hanya mencetak generasi cerdas.
Tetapi melahirkan generasi yang siap memimpin masa depan. Wallahu A’lamu Bisshawab.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry