Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas berbincang dengan Kepala Smamda, Astajab di sela seminar pendidikan yang bertajuk "Membentuk Generasi Kreatif Diera Revolusi Industri 4.0" di Surabaya, Selasa (26/2). DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co – Sekolah harus mendorong tumbuhnya sektor kreatif. Cara lama tidak akan mungkin bisa melakukan lompatan jauh untuk menciptakan generasi muda yang kreatif.

Hal tersebut diungkapkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di hadapan kepala sekolah SMP sederajad di Surabaya, Selasa (26/2).

Bupati Anas menegaskan memang tidak hanya sekolah namun peran pemerintah lokal, provinsi hingga skala nasional berkewajiban melahirkan anak-anak kreatif.

“Sekarang banyak yang terbunuh produknya karena kebiasaan milenial. Ada 100 kebiasaan produk yang akan terbunuh karena kebiasaan-kebiasaan tradisi yang menjadi referensi baru dari milenial. Misalkan dari olahraga yang diprediksi akan terbunuh misalnya golf. Golf tidak lagi diminati generasi milenial. Sejak 2016 golf turun 75 persen untuk peserta tur internasional,” ujar Anas dalam seminar Membentuk Generasi Kreatif di Era Revolusi Industri 4.0, yang diselenggarakan Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Surabaya.

Menurut Anas, semua itu imbas munculnya tren-tren baru. Di dunia start up kini ‘dibanjiri’ anak muda, anak kreatif hebat yang tidak melalui struktur formal. Dia mencontohkan anak muda umur 24 tahun yang pendapatannya sudah mencapai Rp 100 juta per bulan.

“Dia baru lulus dari Inggris dan menjadi start up terkenal, day saya baru bertemu mereka. Ada anak usia 21 tahun, gajinya sudah Rp 40 juta per bulan, kerja di start up,” paparnya.

Semua itu terjadi, kata Anas, lantaran perubahan tradisi. Dimana transaksi sekarang tidak lagi di mall namun sudah secara online. Kreatifitas dan karakter menjadi kunci keberhasilan kaum milenial menggapai sukses.

“Jadi sekarang kuncinya bukan lagi hanya skill tapi juga kreatifitas. Maka sekarang di Eropa yang didorong bukan lagi produk-produk industri namun sektor kreatif. Dan saya kira di Indonesia ini ruangnya sangat besar untuk mendorong sektor kreatif,” urainya.

Keberadaan sekolah, masih kata Anas, mempunyai tradisi dan harus melalui lompatan khusus untuk mendorong sektor kreatif.

Dia mencontohkan di Banyuwangi yang kini menyelesaikan proyek kerjasama antara Pemkab dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) serta Bank Mandiri dalam membuat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan kopi dan coklat.

Keberadaan SMK itu dipadukan dengan pesantren sehingga santri yang hafal Qur’an bisa menjadi Barista. Ini sudah jalan, menyusul keberadaan SMK batik yang lebih dulu ada.

Senin sampai Jumat belajar Al Qur’an, Sabtu dan Minggu membatik. Batik yang dihasilkan sudah diantre oleh sanggar batik. Ini bukti produk kreatif sudah bisa menghasilkan uang.

“Tren anak milenial sekarang tidak mau bekerja dari pagi sampai sore. Bahkan kalau bisa trennya bekerja sambil berlibur tapi hasil duitnya lebih banyak,” paparnya.

Anas mengakui selama ini banyak sekolah menemui kendala mencetak anak-didik sebagai generasi kreatif. Ini tak lepas dari sekolah yang masih mengedepankan paradigma lama, pembelajarannya masih formal.

Namun di Smamda, Anas mengakui menemukan pemberlakuan kurikulum Cambridge serta penerapan metode baru. Sekolah lain harus terus didorong menggali dan menerapkan metode baru.

“Di Banyuwangi saja, pola kinerjanya diubah. Kalau tidak, tidak mungkin di Banyuwangi sekarang ada penerbangan internasional. Sekarang penerbangan dari Jakarta ke Singapura dibanding dari Banyuwangi ke Singapura jauh lebih murah yang dari Banyuwangi,” paparnya.

Kepala Smamda Surabaya, Astajab  menegaskan sekolahnya sengaja mengundang kepala SMP dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan serta Bimbingan dan Konseling SMP di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik.

“Perkembangan teknologi sekarang yang luar biasa, sekolah dituntut mampu menyiapkan anak-anak di era globalisasi. Saat ini anak-anak dihadapkan pasar bebas. Oleh karena itu anak-anak harus mampu bersaing hadapi masa berbeda,” tandas Astajab.

“Smamda sudah menyiapkan pola menghasilkan lulusan kreatif. Apalagi kini kami memiliki 35 kelas berikut sekitar 1000 siswa-siswi didukung  sembilan kelas internasional.

Dan kini membangun kerjasama dengan sekolah lain di dalam maupun luar negeri. Keberadaan 50 ekstra kurikuler (Eskul) mendukung,” tukasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.