SURABAYA | duta.co – Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada pertengahan Februari 2020 hingga saat ini, anak didik yang belajar di berbagai jenjang pendidikan terpaksa belajar di rumah melalui daring (online) supaya generasi penerus bangsa itu tidak ikut terpapar penyakit yang belum ada obatnya tersebut.
Lamanya waktu belajar model baru yang tak tahu kapan akan berakhir itu membuat anak-anak jenuh. Bahkan para orang tua juga bertambah kesibukannya karena harus menemani anak-anaknya supaya tetap belajar walaupun efektivitas belajar daring bagi sebagian siswa masih diragukan.
Terbukti, sejumlah warga RW 08 Kelurahan Krembangan Utara Kecamatan Pabean Cantikan Kota Surabaya saat menghadiri reses jaring aspirasi masyarakat Hadi Dediansyah SPd MHum anggota DPRD Jatim dari Dapil Kota Surabaya sebagian besar menyampaikan uneg-unegnya seputar persoalan pendidikan anak-anaknya.
“Sampai kapan Pak, anak-anak belajar daring padahal mereka sudah kangen ketemu dengan teman-teman dan gurunya. Kami para orang tua juga tambah pusing karena dipaksa harus melek teknologi dan ikut belajar supaya bisa mengajari anak-anak,” kata salah satu warga, Kamis (17/9/2020).
Bukan hanya para wali murid, tenaga pendidik juga ikut menyampaikan keluhan soal efektivitas pembelajaran daring. “Terkadang kami harus mengelus dada sebab seperti tukang jualan jamu ngomong sendiri. Sementara yang diajak bicara justru abai bahkan ditinggal main,” beber Endah warga RT.4/RW.08 lainnya.
Persoalan lain yang disampaikan warga Krembangan Utara adalah soal pelayanan kesehatan mulai dari puskesmas hingga rumah sakit yang sikapnya kurang ramah dan jarang tersenyum. Apalagi kepada pasien yang menggunakan BPJS PBI layanan yang diberikan tidak tuntas dan berbelit-belit.
“Saya alami sendiri pak, dari RS swasta disuruh opname tak ada kamar, lalu disuruh ke RSUD Soewandi ternyata alatnya rusak, sehingga pindah ke RSUD Soetomo. Tolong Pak, supaya dihimbau petugas kesehatan mulai puskesmas hingga rumah sakit supaya ramah dan murah senyum tidak pandang latar belakang kaya atau miskin,” ungkap warga.
Masih di tempt yang sama, Yudi berharap kepada Hadi Dediansyah bisa memberikan program pelatihan kepada anak-anak muda yang belum memiliki pekerjaan supaya ada kesibukan di tengah pandemi covid-19.
“Disini banyak anak-anak muda yang sudah lulus sekolah namun belum memiliki pekerjaan. Barangkali ada program ketrampilan atau pemberdayaan ekonomi supaya mereka  dilibatkan agar nantinya bisa berwirausaha,” harap pria paruh baya ini.
Menanggapi aspirasi warga, politisi asal Fraksi Partai Gerindra menyatakan bahwa covid-19 hingga saat ini belum ditemukan vaksin atau obatnya. Karena itu mengikuti protokol kesehatan adalah sangat penting supaya kita tidak ikut terpapar covid-19.
Ditegaskan Hadi Dediansyah, dampak pandemi covid-19 sungguh luar biasa, terutama sektor ekonomi mengalami kontraksi hingga ancaman resesi. Bahkan Pemprov Jatim melakukan refocusing dan realokasi anggaran APBD hingga Rp.2,3 triliun untuk percepatan penanggulangan covid-19 di Jatim.
“Refocusing dan realokasi APBD Jatim sebesar Rp.2,3 triliun itu tidak merata sebab bantuan langsung masuk ke rekening Pemkab/Pemkot. Kalau tahun 2021 covid-19 belum tuntas maka kami yang ada di DPRD Jatim akan mendesak program bantuan akan diusulkan melalui RT/RW setempat karena merekalah yang tahu data riil warganya,” tegas wakil ketua Komisi A DPRD Jatim.

Sementara untuk sektor pendidikan, politisi asli Surabaya ini sangat mendukung bahkan mendesak pemerintah supaya segera memulai pembelajaran tatap muka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Alasannya, jika sekolah daring tak jelas kapan akan berakhir maka para siswa akan ketinggalan bahkan semakin mundur ilmu pengetahuannya.

“Diakui atau tidak, sekolah daring itu yang tambah pandai adalah para orang tua khususnya ibu-ibu karena mereka harus mengajari anak-anaknya sehingga seperti ikut sekolah beneran sementara anak-anak cenderung santai bahkan bermain game bukan belajar lewat gawai (handphone). Iya khan ibu-ibu?” kelakar Hadi Dediansyah yang diamini warga.

Menurutnya, pemerintah khususnya Mendikbud harus berani memulai pembelajaran tatap muka. Terlebih para siswa itu orang-orang yang terdidik sehingga mereka pasti bisa mengikuti protokol kesehatan bahkan bisa membantu sosialisasi dan contoh bagi masyarakat lainnya.
“Aturan khan sudah jelas, kapasitas kelas tidak boleh lebih dari 50 persen, sehingga bisa masuk sekolah bisa bergantian. Pemerintah juga bisa menyediakan sarana dan prasarana penunjang kondisi new normal di lembaga pendidikan. Tatap muka itu sangat penting bagi siswa karena tidak semua pelajaran bisa digantikan daring, seperti praktek kerja bagi anak SMK dan lain sebagainya,” jelas Hadi Dediansyah.
Pertimbangan lainnya, tingkat imunitas anak usia pertumbuhan itu kuat-kuat sehingga terlalu berlebihan jika anak didik dipaksa sekolah daring hanya untuk menghindari tertular covid-19.
“Mereka ini generasi penerus bangsa, jangan sampai kalah dengan bangsa-bangsa lain karena ilmu pengetahuan mereka tidak bisa berkembang akibat sekolah yang tak normal. Jangan semua persoalan terfokus covid-19 sehingga mengabaikan kepentingan yang lain,” harap vokalis DPRD Jatim ini.
Ia mengakui anak-anak asli Surabaya selama ini hanya menjadi penonton di kotanya sendiri karena yang banyak menikmati kue  sampai pembangunan termasuk lapangan kerja di lingkungan pemerintahan adalah orang luar daerah karena anak-anak Surabaya kurang mendapatkan kesempatan.
“Awal tahun depan, pemprov Jatim akan melakukan rekruitmen sekitar 300 sampai 400 tenaga Pamswakarwa atau Linmas. Silahkan daftar bagi anak-anak yang memiliki badan bagus dan atletis,” jelas Hadi.
Khusus layanan kesehatan, Hadi mengaku kewenangannya adalah rumah sakit milik provinsi. “Silahkan hubungi saya, jika ada kesulitan keluarga yang membutuhkan layanan kesehatan di RS Soetomo, RS Haji dan RS Menur yang kebetulan ada di Kota Surabaya. InsyaAllah saya akan bantu dan fasilitasi jika ada kesulitan,” pungkasnya. (ud)
Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry