Simulasi pertemuan tatap muka di masa pandemi Covid-19. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Angka positif Covid-19 masih naik turun. Kegiatan pertemuan tatap muka (PTM) akan menjadi tantangan tersendiri mulai di level provinsi, kab/kota hingga sekolah/madrasah.

Sejumlah aturan dan ketentuan yang wajib dilaksanakan sebelum kegiatan PTM yang harus dipenuhi oleh sekolah/madrasah.

Namun dorongan orang tua agar siswanya secepatnya kembali ke sekolah/madrasah mendorong kab/kota maupun provinsi berjuang keras menciptakan kondisi yang tetap membuat anak merasa nyaman dan mengantisipasi timbulnya klaster baru setelah PTM dilaksanakan.

Memang pemerintah pusat menargetkan PTM secara terbatas bisa dimulai pada Juli 2021 sesuai dengan Surat Keputusan Bersama Empat Menteri. Belajar tatap muka terbatas bakal dimulai setelah guru dan tenaga pendidikan disuntik vaksin selama 2 kali.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikbud, Yaswardi  mengatakan persiapan tahun ajaran baru 2021-2022 selain pada sekolah yang panduannya telah ditetapkan bersama antara Kemendikbudristek dan Kemenag, peran orangtua juga sangat besar dalam mendukung keberhasilan pembelajaran.

“Selain itu juga perlu adanya sosialisasi secara lebih komprehensif dan menyeluruh kepada pendidik dan orangtua mulai di tingkat satuan pendidikan terkecil misalnya sekolah, agar memiliki persepsi yang sama terkait konsep pembelajaran di masa pandemi,” ungkap Yaswardi dalam webinar yang digelar Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) bekerjasama Kemendikbudristek dan Kemenag beberapa waktu lalu.

Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag, Moh Isom dalam kesempatan webinar pada Kamis (10/6/2021) mengatakan dampak Covid-19 ini sangat luar biasa dalam bidang pendidikan.

Maka Kemenag bersama Kemendikbudristek telah menyiapkan panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi dalam rangka mempersiapkan tahun ajaran baru 2021-2022.

“Dalam panduan tersebut dijelaskan secara detil bagaimana seharusnya satuan pendidikan sekolah /madrasah melaksanakan pembelajaran tatap muka di tahun ajaran baru nanti,” jelasnya.

Praktik baik terkait PTM sendiri dipaparkan Nurul Hamamah, Kepala MINU KH Mukmin Sidoarjo. MINU KH Mukmin Sidoarjo telah melaksanakan ujicoba pembelajaran tatap muka secara terbatas saat ujian akhir MI untuk kelas VI yang ditinjau secara langsung Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor pada Februari 2021 lalu.

Menurut Nurul selain bekerjasama dengan Gugus Covid-19 setempat untuk memastikan keamanan dan prokes, sebanyak 91 persen guru juga telah melaksanakan vaksin sehingga pembelajaran tatap muka terbatas dapat diselenggarakan.

“Siswa berangkat dan pulang harus diantar oleh ortu, setiap kelas diisi maksimal 15 anak dengan jam tatap muka maksimal 3 jam. Tidak menyalakan AC, tidak menggunakan taplak meja, dan secara rutin dilakukan penyemprotan disinfektan,” terangnya.

Kegiatan ujicoba ini menurut Nurul telah dianggap berhasil sehingga Pemkab Sidoarjo menjadikan MINU KH Mukmin Sidoarjo sebagai MI percontohan untuk tatap muka terbatas.

Sementara itu Mohammad Kozin Kepala MI Muhammadiyah Dermosari Kabupaten Trenggalek juga telah melaksanakan ujicoba pembelajaran tatap muka terbatas di madrasahnya karena wilayahnya telah memasuki zona hijau.

“Beberapa aturan ketat kami berlakukan selama ujicoba seperti anak harus diantar ortu, tidak boleh membawa bekal, harus mengenakan masker, harus cuci tangan, hingga dalam ujian akhir siswa kami melaksanakan ujian drive thru dimana siswa datang satu persatu, duduk menghadap guru untuk melaksanakan ujian dengan posisi tempat duduk berjarak dan diluar ruangan, lalu siswa boleh pulang. Hal ini kami lakukan sejak Bulan Agustus 202,” terangnya.

Arbaiyah, Ketua Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jatim menjelaskan, kebijakan Dikdasmen untuk sekolah, madrasah dan pesantren Muhammadiyah tidak diperkenankan memutuskan secara sepihak kebijakan pendidikan selama pandemi.

“Selain itu satuan pendidikan dan pesantren wajib memprioritaskan keselamatan dan kesehatan siswa/santri, kiai, ustadz, guru, pamong, musyrif dan tenaga kependidikan sebagai pertimbangan utama,” tuturnya.

Noor Shodiq Askandar, Ketua LP Ma’arif NU Jatim  mengatakan 13.237 sekolah dan madrasah di lingkungan NU telah bersiap menghadapi tahun ajaran baru 2021-2022 dengan kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi wilayahnya masing-masing.

“Untuk satuan pendidikan di wilayah pelosok sebagian ebsar telah melaksanakan pembelajaran tatap muka mengingat wilayah tersebut masuk dalam wilayah remote dengan keterbatasan sinyal sehingga tidak memungkinkan kegiatan pembelajaran daring dilakukan. Sedangan di wilayah perkotaan, apabila kedepan akan menyelenggarakan tatap muka terbatas maka wajib mengikuti sejumlah prokes dan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sesuai yang tertulis dalam buku panduan,” terangnya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry