Oleh Imam Shamsi Ali* 
NEW YORK | duta.co  – Beberapa teman, bahkan di kedua pihak,  paslon 01 dan paslon 02, mempertanyakan bahkan (maaf) nyinyir dengan keputusan saya menjatuhkan pilihan ke paslon tertentu. Di antaranya bahkan ada yang meragukan kesungguhan dan keikhlasan, dukungan saya. Bahkan ada pula yang mencurigai karena sebuah kepentingan.
Sebagaimana telah Saya sampaikan bahwa sejak Minggu, tgl 7 April 2019, sekembali dari mengikuti acara kampanye akbar Paslon no. urut 02 di GBK, saya memutuskan untuk mempublikasikan dukungan ke khalayak ramai.
Keputusan saya ini kontan menimbulkan pro dan kontra di kedua kubu paslon presiden dan wakil presiden. Bahkan di saat saya di atas panggung utama kampanye akbar paslon 02 saja sudah ada yang menyebarkan foto-foto saya ketika bersama dengan beberapa pejabat yang dikenal dekat dengan paslon no. 01. Di antaranya foto saya bersama Gubernur RK dan Gubernur GP.
Intinya kehadiran saya dan dukungan penuh saya kepada paslon no. 02 itu hampir disabotase oleh pihak-pihak yang justeru mendukung paslon yang sama. Syukurlah masih lebih banyak lagi yang punya pemikiran positif ketimbang kecurigaan yang tidak berdasar.
Tentu di pihak lain (baca paslon 01), keputusan saya memberikan dukungan secara terbuka ke paslon no. 02 menimbulkan kekecewaan, bahkan boleh jadi kemarahan. Maklum 5 tahun lalu saya termasuk yang sangat gigih, bahkan melawan fitnah dan serangan karena mendukung capres Jokowi ketika itu.
Lalu kenapa saat ini saya merubah haluan? Kenapa pilpres kali saya berpindah dukungan dari Jokowi yang saya dukung pada pilpres lalu ke Prabowo yang juga nota benenya lawan Jokowi pada pilpres ketika itu?
Berikut saya kembali menuliskan alasan-alasan saya secara singkat, tapi panjang (hehe):
Pertama, saya mendukung bukan karena dorongan emosi semata. Pilpres lalu saya dukung Jokowi, selain karena faktor JK (sejujurnya), juga karena saya melihat serangan bahkan fitnah kepadanya berlebihan. Karenanya saya memposisikan diri pada “unshur akhaka zholiman aw mazhluman” (tolong saudaramu yang menzholimi atau Yang dizholimi). Kalau sekiranya saya mencari selamat semata saat itu, saya memilih pilihan mayoritas teman-teman dekat saya (baca PKS dan PAN) ketika itu.
Kedua, saya mendukung juga bukan untuk kepentingan apapun. Jika itu untuk kepentingan dunia, sudah pasti dukungan kepada petahana lebih memastikan. Tapi dukungan saya murni karena pertimbangan-pertimbangan kepentingan yang jauh lebih besar. Kemuliaan agama dan umat. Dan demi Indonesia Raya.
Ketiga, saya mendukung bukan juga karena hanyut dalam arus keadaan sekitar (ikut-ikutan). Melainkan lewat proses panjang, mengamati, bertanya dan berkonsultasi. Tapi yang terpenting melihat langsung realita kehidupan bangsa yang masih jauh dari harapan. Sebagai putra bangsa memilih paslon itu sekaligus menitipkan harapan. Maka ketika harapan itu tidak dipedulikan, dukungan itu berhak untuk ditarik kembali. Dan ini berlaku juga pada dukungan saya ke paslon no. 2 saat ini.
Keempat, sebagai putra bangsa yang cinta negeri, saya menoropong negeri ini dari luar. Saya menemukan bahwa janji-janji dan retorika politik pemerintah terlalu banyak yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Dari semua itu, saya meyakini bahwa pembangunan negara harus berorientasi kepada kepentingan rakyat (people oriented interest). Bukan pembangunan yang justru menjadikan rakyat semakin meranah terinjak hak-haknya.
Kelima, saya menilai bahwa selama ini telah terjadi keadaan di mana masyarakat telah merasakan hilangnya “rasa keadilan” (sense of justice) itu. Di bidang perekonomian masih segelintir pemilik modal yang diuntungkan. Sementara masyarakat luas masih merasakan himpitan hidup yang berat. Janji-janji kemudahan, termasuk dengan kartu-kartu itu, ternyata tidak lebih dari “campaign tool” (alat kampanye) musiman.
Keenam, hilangnya “sense of justice” (rasa keadilan) di masyarakat itu juga terasa di bidang hukum. Di satu sisi kita merasa semakin baik, bijak, demokratis. Namun di sisi lain wajah keramahan dan senyuman itu kerap menyembunyikan “tangan besi”. Betapa banyak yang dikriminalisasi hanya karena sikapnya yang menentang kebijakan kekuasaan yang dianggap tidak sesuai. Runyamnya pula, rata-rata yang dikriminalisasi adalah dari kalangan mayoritas bangsa ini.
Ketujuh, dukungan saya juga didorong oleh kenyataan bahwa ada gerakan tersembunyi (hidden movement) yang berusaha membenturkan antar kelompok umat ini. Cara-cara seperti ini, mengingatkan kita di tahun 60-an. Kita sadar bahwa tulang punggung pertahanan bangsa ini ada pada umat Islam dan TNI. Ketika umat Islam terpecah berarti satu dari Pilar itu melemah. Yang satu lagi akan dilemahkan melalui kebijakan-kebijakan yang kurang perpihak. Intinya, saya mendukung paslon no. 02 karena negara ini memerlukan Pemimpin yang kuat dan mampu menjaga negeri dari ancaman yang diam (silent threat).
Kedelapan, saya mendukung paslon no. 02 karena saat ini saya melihat ragam pengakuan yang terpelintir. Ambillah sebagai contoh Freeport misalnya. Seolah dengan kepemilikan saham 51% ke anak negeri, menjadi kredit (jasa) pihak tertentu. Padahal kontrak Freeport memang sudah akan selesai dan masanya dinegosiasikan (dirundingkan) kembali. Jadi siapapun presidennya sesungguhnya sudah menjadi keharusan untuk melakukan itu. Masalahnya isu ini seolah menjadi “hasil keringat” pihak tertentu. Apalagi kemudian dipakai sebagai alat politik. Intinya saya menemukan adanya hal-hal yang tidak sesuai dengan fakta. Atau dalam bahasa Yang lebih vulgar ada ketidak jujuran dan kebohongan-kebohongan itu.
Kesembilan, saya juga menjatuhkan dukungan setelah melihat dari dekat siapa saja ulama-ulama yang mendukung Prabowo. Di sana Saya melihat wajah-wajah ulama yang ikhlas. Sebutlah sebagai misal KH Abdullah Syafi’i, KH Didin Hafiduddin, dan lain-lain. Mereka ini ikut merekomendasi Bapak Prabowo sebagai capres dan kemudian meridhoi Bapak Sandiaga Uno sebagai cawapres. Apapun kata orang, paslon no. 02 adalah rekomendasi para ulama yang amilin mukhlisin Insya Allah. Dengan dukungan terbuka ulama-ulama yang Saya hormati, seperti UAS, UAH dan Aa Gym, Saya semakin yakin dengan dukungan saya.
Kesepuluh, saya menjatuhkan dukungan karena sadar bahwa realita perpolitikan di Indonesia berbeda dengan realita politik Amerika. Di Indonesia, yang sesungguhnya berkuasa adalah partai-partai politik. Karenanya sering kita dengarkan jika serang presiden disebut “pekerja partai”. Maka melihat kepada dukungan partai-partai Saya menilai paslon no. 02 akan lebih aman. Mereka didukung oleh partai-partai yang selain penuh loyalitas dan dedikasi untuk bangsa dan negara, juga peduli dengan agama dan umat.
Kesebelas, saya kali ini juga ingin memposisikan diri pada posisi “unshur akhaka zholiman aw mazhluman” (menolong saudara karena teraniaya atau menganiaya..dg menghentikannya). Prabowo Selama ini dituduh sebagai pelangggar HAM dengan kasus Timtim. Saya sebenarnya menunggu kapan pemerintah RI membawanya ke rana hukum, bahkan ke Internasional Court. Kenyataan bahwa tuduhan itu tidak pernah dibuktikan, bahkan beliau menjadi capres 2 kali dan cawapres sekali, menunjukkan bahwa tuduhan itu adalah fitnah belaka. Maka saya mendukung paslon 02 sebagai respon kepada fitnah itu.
Saya ingin menutup dengan sedikit menjelaskan perihal politik identitas. Sesungguhnya politik identitas itu tidak akan pernah terhindarkan dari kehidupan manusia. Karenanya ini kami sadari di Amerika. Kelompok putih inginnya Pemimpin dari kalangan putih. Yang salah ketika “identitas” itu, baik ras, suku, maupun agama, dijadikan basis untuk membenci orang lain. Tapi kalau dipakai untuk “self empowerment” (mengembangkan diri dan kelompok) bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan alami sifatnya.
Sejujurnya pilpres kali ini harus diakui sarat dengan politik identitas. Dukungan kepada paslon no. 02 tidak bisa dilepaskan dari spirit 212 yang ketika itu memang bertujuan membela Al-Quran dan kehormatan umat. Karenanya targetnya adalah mendapatkan dukungan luas dari umat Islam.
Tapi jangan lupa. Paslon no. 01 juga melakukan politik identitas, bahkan “identitas di atas identitas”. Memilih KH Ma’ruf Amin itu karena tujuannya meraup suara dari kalangan umat Islam. Tapi lebih spesifik lagi, dari kalangan Nahdhotul Ulama. Itu yang saya maksud “identitas di atas identitas”.
Bahkan kecurigaan dan kekhawatiran saya adalah jangan-jangan dengan memilih KH Ma’ruf Amin ini, juga menjadi bagian dari upaya membenturkan elemen-elemen umat sebagai usaha “pelemahan” tadi. Dan jika umat berbenturan pasti terjadi kelemahan dan pelemahan. Jika itu terjadi, maka ancaman tersembunyi (hidden threat) yang Saya sebut tadi itulah yang bertepuk tangan.
Berhati-hatilah wahai bangsaku!
* Anak bangsa di rantau (New York. AS).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.