Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Drs Sukaryo Teguh Santoso. DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co –  Pandemi Covid-19 dikhawatirkan terjadi adanya baby booming di 2020 hingga 2021 mendatang.

Hal ini diakibatkan karena banyaknya aktivitas pasangan usia subur yang dilakukan di rumah sehingga kehamilan tidak terhindarkan, bahkan yang dikhawatirkan kehamilan yang tidak diinginkan.

Kekhawatiran ini nampaknya cukup beralasan. Karena data di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur, angka drop out Keluarga Berencana (KB) sejak Februari hingga April jumlahnya terus meningkat.

Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Sukaryo Teguh Santoso mengatakan kelahiran yang terlalu banyak di Jawa Timur juga tidak bagus.

Karena saat ini jumlah penduduk Jatim sebesar 40 juta atau nomor dua terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat. “Bagaimana pun laju pertumbuhan harus dikendalikan,” ujarnya, Kamis (14/5/2020).

Diakui Teguh, data di BKKBN Jatim, pada Februari 2020 saat di mana pemerintah mulai mengumumkan agar masyarakat waspada Covid-19, angka drop out KB sebesar 1,32 persen dari jumlah peserta KB sebesar 5.869.000 usia pasangan subur (UPS).

Pada Maret kembali terjadi kenaikan drop out KB sebesar 4,6 persen dari jumlah peserta. Dan pada April naik lagi menjadi 7,07 persen. “Apakah ada hubungannya pandemi dengan peserta KB, hanya Tuhan yang tahu,” tukasnya.

Yang pasti, dari data yang ada itu, jumlah drop out KB kata Teguh kebanyakan adalah peserta yang menggunakan alat KB seperti pil, suntih dan kondom. Sementara yang IUD, hanya mereka yang memang sudah masanya untuk melepas alat tersebut, namun tidak memasangnya kembali.

“Bisa jadi, memang peserta berhenti menggunakan alat kontrasepsi itu karena banyak hal. Dari prediksi kami karena mereka tidak lagi ke fasilitas kesehatan karena adanya pandemi ini. Bisa juga mereka lebih mengutamakan membeli kebutuhan pokok dibanding alat kontrasepsi dan sebagainya,” jelasnya.

Namun yang pasti, petugas BKKBN berusaha untuk terus mengedukasi masyarakat agar tetap menggunakan alat kontrasepsi.

BKKBN sudah melakukan koordinasi dengan fasilitas kesehatan, bidan, puskesmas untuk mendata peserta KB aktif yang sudah tidak lagi datang untuk berkonsultasi.

“Kalau mereka tidak bisa membeli atau menunda untuk membeli, kalau bisa melaporkan ke faskes kesehatan, ke bidan setempat agar bisa mendapat bantuan alat kontrasepsi gratis. “Kita siapkan gratis, jangan khawatir,” tukasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry