Bupati Warsubi saat hadiri sedekah dusun di Desa Keras, Kec. Diwek, Kab. Jombang.

JOMBANG | duta.co – Di bawah langit teduh Minggu pagi (6/7/2025), halaman rumah Kepala Dusun Kawur, Desa Keras, Kecamatan Diwek, tampak lebih ramai dari biasanya. Warga datang berduyun-duyun, mengenakan busana terbaik mereka. Anak-anak tertawa, para ibu sibuk menata tumpeng, dan para sesepuh duduk rapi di pelataran, menunggu dimulainya ritual sakral tahunan; Sedekah Dusun.

Di tengah keramaian yang sarat nuansa kekeluargaan itu, hadir sosok yang sudah akrab di hati masyarakat. Bupati Jombang, H. Warsubi, S.H., M.Si., datang bersama sang istri, Yuliati Nugrahani Warsubi. Bukan hanya sebagai pemimpin daerah, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar rakyat Jombang.

“Tradisi ini bukan hanya ritual, tapi napas kehidupan desa. Di sinilah kita belajar menghargai nikmat Tuhan, merawat warisan leluhur, dan menanamkan nilai kebersamaan pada anak cucu kita,” ucap Abah Warsubi dalam sambutannya. Doa dan harapan ia ucapkan dalam bahasa Jawa yang lembut, meneduhkan.

Mugi sedoyo warga Kawur pinaringan sehat, manfaat, barokah, rezeki lancar, putra putrinipun dados tiyang ingkang soleh solihah.” ujarnya.

Lebih dari sekadar ritual, Sedekah Dusun menjadi ruang bertemunya tradisi dan cita-cita. Tradisi yang menjaga akar budaya, dan cita-cita yang mendorong desa untuk tumbuh dan sejahtera. Dalam kesempatan itu, Abah Warsubi menyampaikan komitmennya mengalokasikan anggaran desa antara Rp800 juta hingga Rp1 miliar per tahun mulai 2026. Termasuk tunjangan untuk Ketua RT, dana operasional, hingga dukungan untuk Posyandu dan pegiat seni.

“Kita ingin desa menjadi pusat peradaban. Semua dimulai dari sini dari RT, dari warga, dari doa dan gotong royong,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Keras, Sukardi, mengaku bersyukur atas hasil panen tahun ini. Harga gabah yang menembus Rp7.000 per kilogram memberi angin segar bagi para petani. “Desa kami ini mayoritas petani. Kalau harga gabah bagus, artinya dapur warga juga ikut ngebul,” katanya.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus melupakan akar. Bahwa membangun desa bukan hanya soal fisik dan anggaran, tetapi juga tentang merawat jiwa masyarakatnya.

Saat matahari mulai naik, acara ditutup dengan doa bersama, tumpeng dibagikan, dan tawa anak-anak kembali terdengar. Di Dusun Kawur, Sedekah Dusun bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah denyut nadi, pengikat hati, dan penanda bahwa di tengah dunia yang terus berubah, masih ada ruang untuk kebersamaan yang tulus. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry