Muhammad Thamrin Hidayat – Dosen PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

TELAH kita ketahui bahwa sekolah/perguruan tinggi merupakan sebuah lembaga yang bergerak dalam jasa. Dalam mengembangkan pengelolaannya banyak yang dirasakan  sangat lamban. Dari sinilah kita harus menganalisa mengapa sampai terjadi demikian. Kita tidak dapat menentukan sesuatu kesalahan/kelemahan tersebut  tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.

Kita sering menggunakan anilisis SWOT dalam menentukan program yang akan datang. Analisis SWOT ada yang didapatkan dari analisis dari hasil program yang telah dilakukan, tetapi banyak SWOT didapatkan dari hasil renungan yang tidak akurat. Setelah didapatkan hasil analisis SWOT anilisis tersebut sering bukan  merupakan acuhan untuk melangkah pada program yang akan datang.

Walaupun sebagai acuahan untuk program berikutnya karena hasil SWOT bukan hasil analisis yang sebenarnya maka hasilnyapun merupakan hasil semu karena bukan pisau yang sebenarnya untuk membedah kekurangan, kelemahan, kekuatan, maupun tantang yang harus dihadapi. Tapi naifnya analisis SWOT suatu keharusan yang harus ada dalam program setiap tahunnya, tapi tidak harus menjadi acuhan untuk tindakan ke depan.

Teori tentang permintaan jasa yang dikemukakan oleh Mc. Kinsey ada 6 faktor yang harus diperhatikan yaitu: Share of value, Strategy, Structure, System, Staff, Style.(Alshaher, 2013)

Dengan mengacu teori di atas, marilah kita membahas tentang keberadaan sekolah   apakah sudah memenuhi kreteria yang dimaksud tersebut, untuk menjawab tantangan setiap saatnya dari masyarakat pengguna jasa. Marilah kita kaji teori yang dikemukakan Mc. Kinsey di atas.

Share of value dimaksudkan adalah apakah kita (baca sekolah) telah memberikan apa yang diminta oleh para pengguna jasa atau yang telah dijanjikan sewaktu promosi. Kalaulah tidak, maka hal inilah yang harus difikirkan secara seksama tentang permintaan yang tidak tertulis oleh setiap orang tua (baca masyarakat) yang ada.

Karena hal tersebut telah dijanjikan oleh penjual jasa. Kalaulah sudah maka suatu harapan sudahkah sesuai dengan kenyataan. Bila jawabnya ya, maka kepuasan yang akan yang didapat oleh masyarakat (pengguna jasa). Dari sinilah promosi secara tidak langsung akan terjadi dengan sendirinya. Tetapi bila harapan yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan, maka hasilnya kekecewaan yang sangat mendalam.

Alhasil kita akan menuai promosi negative dari mereka. Demikian pula bila harapan melebihi dari kenyataan maka kita akan lebih menuai sanjungan yang berlebih, dan akhirnya  kita akan mendapatkan pujian secara tidak sengaja dari masyarakat dengan jalan mereka akan memihak/mendaftarkan putra putrinya ke sekolah kita. Amien.

Strategi merupakan suatu kiat kita untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Apa saja Strategi yang harus dilakukan oleh kita, agar sekolah mendapatkan simpati yang berlebih dari masyarakat?  Banyak jalan yang harus kita tempuh. Di antaranya memenuhi masalah Share of value di atas. Selain itu juga yang kita perhatikan jangan sampai sekecil apapun yang kita miliki harus sesuai dengan amanah yang diberikan kepada kita.

 Berdasarkan pengalaman penulis. Seorang siswa pindah keluar dari sekolah karena tidak jelasnya perbedaanya 0,05 nilai seorang siswa dengan siswa lain (nilai 9,5 dengan 9,45). Hal tersebut menyebabkan siswa yang didukung oleh orang tua  bertekad pindah dan pindah ke sekolah lain dengan menuduh sekolah kurang adil dan bijaksana dalam mengelola nilai yang ada. Jalan lain adalah kita harus melayani masyarakat dengan penuh perhatian dan ketulusan.

Di samping itu pula kita harus menyikapi isu negative yang berkembang di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar. Namun tanggapan tersebut harus penuh kehati-hatian jangan sampai terjadi bahkan menjadi kontra produktif (merugikan kita). Masih banyak strategi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan simpati dari masyarakat sekolah khususnya dan masyarakat umumnya.

Structure di sini yang dimaksud adalah apakah struktur kelembagaan sudah tertata rapi dan sudah berjalan dengan baik. Bila tidak di manakah yang perlu dibenahi, dan kalaulah perlu direformasi. Tidak perlu segan-segan untuk meniadakan suatu seksi/bidang kalaulah tidak efektif dalam kerjanya dan tidak menyentuh substansial permasalahan yang ditangani terutama yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Kalaulah baik perlu dipertahankan dan tidak segan-segan untuk ditambah karyawannya. Masyarakat pasti akan merasakan ketimpangan ketimpangan baik secara langsung atau tidak yang ada di dalam suatu lembaga yang mereka tempati. Karena suatu sistem kalaulah ada ketimpangan pasti akan dirasakan  oleh semua yang terkait.

Misalnya rumput dihalaman tumbuh tak terawat atau halaman tidak terawat, maka dapat dipastikan ada ketidak harmonisan antara atasan dan bawahan atau adanya kesenjangan yang terjadi walaupun sangat kecil. Kita tidak perlu menyalahkan apakah pegawai yang malas atau teledor. Hal itu karena kurang koordinasi yang harmonis dari berbagai pihak. Bila ada koordinasi yang baik maka keluhan akan  sampai pada siapa saja, sehingga yang berperan akan menanggapi keluhan tersebut. Dengan demikian tidak terjadinya keadaan yang “kurang” dalam pekerjaan yang seharusnya dilakukannya.

Sistem adalah suatu kerjasama unit-unit yang dalam suatu perusahaan secara  sinergis. Dengan demikian bila sistem yang ada kurang harmonis maka mengakibatkan jalannya roda “perusahaan” akan pincang. Ingat kepincangan akan terasa oleh masyarakat pengguna. Hal ini jangan dianggap remeh keadaan seperti ini.

Kita sering merasakan suatu panitia tidak berjalan dengan baik. Misalnya satu di antara anggota panitia tidak mengetahui apa yang seharusnya setelah  kegiatan tertentu, dan siapa yang mengurusi dsb. Misalnya pengguna jasa ingin mengetahui kapan libur dan kapan masuk sekolah. Bila dari masyarakat sekolah (baca personil sekolah) tidak dapat menjawab ada tidaknya libur sekolah, maka masyarakat akan menyangsikan sistem yang ada di dalam lembaga terebut.

Staff, Style yang dikehendaki di sini adalah staf yang mumpuni atau yang berkualifikasi dalam bidangnya. Hal itu menjadi salah satu penilaian masyarakat, atau dikatakan merupakan nilai tambah untuk instansi tersebut. Masalahnya di Indonesia ini masih menganut setifikat/ijazah mainded.

Walaupun stafnya tampan, cantik, ramah tetapi tidak memiliki kualifikasi standar yang dimaui oleh masyarakat, maka jadinya lembaga tersebut akan dilihat sebelah mata. Bila memiliki kualifikasi yang ditetapkan ditambah penampilan tampan, cantik, sopan, dan pandai, maka orang akan memuji dan akan memilihnya sebagai partner di dalam “berbisnis”.

Marilah kita renungkan faktor mana yang merupakan batu sandung dari lembaga yang kita kelola di dalam melangkah atau manakah merupakan sensitive point (hal yang kecil tapi berperan penting yang menentukan keberhasilan). Semoga tulisan ini menjadi renungan semua fihak dalam menghadapi setiap tahun ajaran baru.  Dengan menerapkan teori Mc. Kinsey secara langsung kita juga telah menerapkan dan membenahi kinerja kita ke depan. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry