Oleh: Dr Sama’ Iradat Tito SSi MSi*

PENDIDIKAN adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.

Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain (penulis Novel besar Amerika), “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya”. Pendidikan yang dimaksud Mark Twain adalah pengalaman hidup sehari-hari. Namun semua itu dilakukan karena Mark Twain “memilih” bekerja penuh waktu setelah ayahnya meninggal.

Sebenarnya tidak salah juga bahwa sebagian orang menganggap pendidikan formal tidak atau kurang penting. Adalah hak bagi setiap orang untuk mengikuti pendidikan formal atau tidak. Yang perlu diketahui adalah mengapa pilihan itu bisa terjadi dan bagaimana analisisnya.

Pertama, setiap orang memiliki potensi untuk Mental block (cara berpikir yang menghalangi atau menghambat tindakan tertentu) akibat dari kebiasaan sebelumnya sehingga sulit untuk memasuki kebiasaan baru. Mental block dapat berkorelasi positif maupun negatif. Mental block yang positif adalah untuk mencegah perbuatan negatif sedangkan mental block yang negatif seringkali ke arah menghambat pengembangan diri. Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam terhadap hal ini, sering kali lebih mendalam dari tanpa yang disadari, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Kedua, masih dalam kondisi tidak diharuskan. Yang perlu diingat bahwa semakin umur menua maka akan tersemat Keharusan. Semakin tua umur seseorang maka kewajiban, tanggung jawab dan tuntutannya semakin besar. Sehingga semakin tua umur seseorang dalam “Kondisi keharusan yang diharuskan”nya maka penolakan terhadap sesuatu juga semakin besar. Oleh karena itu belajar dan pendidikan formal dianjurkan semuda mungkin dilihat dari sisi “Ketidakharusannya”. Dampaknya dapat dilihat bahwa kemampuan penguasaan bahasa, penghafalan dan lain sebagainya, sangat baik sekali pada anak-anak dan anak muda daripada orang tua.

Ketiga, zona nyaman. Pada awalnya semua terasa baik-baik saja. Namun ternyata, banyak orang yang tidak memiliki persiapan yang baik untuk masa depan, baik secara sadar maupun tidak. Persiapan-persiapan yang matang dibutuhkan untuk mengarungi masa depan. Pandemi Covid adalah salah satu bukti rapuhnya persiapan-persiapan kita. Pendidikan formal secara nyata berpotensi membuka ruang dan peluang untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Sebagai contoh pekerjaan dengan strata S1 tidak bisa didapatkan dengan kualifikasi SMA, dan seterusnya. Kejadian PHK, kebangkrutan pengusaha dan melemahnya sisi ekonomi di berbagai pihak merupakan fakta nyata di masyarakat yang tidak terelakkan, sehingga memerlukan ada fleksibilitas. Fleksibilitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk luwes, mudah dan cepat menyesuaikan diri; karena hidup pada dasarnya adalah suatu rangkaian fase yang dinamis dan bukan statis. Koridor-koridor pekerjaan akan lebih terbuka pada orang-orang yang mempunyai diversifikasi kemampuan dan kompetensi daripada yang tidak. “The coronavirus didn’t break human and the world. It revealed what was fragile or already broken (Virus korona tidak merusak manusia dan dunia. Ia hanya mengungkapkan apa yang sebenarnya rapuh atau yang sudah rusak)”.

Keempat, Beberapa orang lebih terfokus pada otot fisik sehingga melupakan otot mental. Otot mental adalah gabungan dari otot kepala, pikiran dan logika. Hal ini tidak bisa dicapai dengan waktu yang instan. Segala sesuatu tumbuh dalam penggunaan. Oleh karena itu seringkali yang mengenyam pendidikan formal lebih dominan anak-anak yang tidak bertubuh besar, mudah sakit, dan mempunyai keterbatasan tertentu. Otot fisik yang kuat tidak selamanya ada dalam tubuh. Sedangkan keuntungan otot mental jauh lebih lama daripada otot fisik. Otot fisik atau badan ada batasnya namun otot mental sampai menua akan tetap hebat, sebagai contoh Bill Gates yang hebat pada masa muda dan tetap pakar di masa tua. Kualitas hidup akan lebih panjang dijamin dengan kekuatan otot mental daripada otot badan.

Uniknya saat ini, banyak siswa siswi atau mahasiswa dan mahasiswi di Indonesia yang telah sekolah dan kuliah, namun kurang menghargai kesempatannya untuk belajar. Padahal diluar sana banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk sekolah atau berkuliah. Hal yang harus dimengerti adalah sekolah dan kuliah itu tidak murah, gaji guru maupun dosen juga biasanya tidak tinggi. Berbagai pengorbanan telah dilakukan hanya agar masyarakat Indonesia dapat menerima pendidikan yang layak dan dapat berguna untuk orang lain. Alangkah baiknya agar siswa dan siswi, mahasiswa dan mahasiswi di Indonesia tidak lagi menyia-nyiakan privilege (hak istimewa) tersebut. “Those who are privileged to know have the duty to act (Mereka yang memiliki hak istimewa untuk mengetahui (belajar), memiliki kewajiban untuk bertindak).”- Albert Einstein

Milikilah target agar dapat termotivasi. Kita dilahirkan lemah, kita membutuhkan kekuatan; kita dilahirkan sama sekali tidak terbekali, kita membutuhkan bantuan; kita terlahir kosong, kita butuh penilaian. Segala sesuatu yang tidak kita miliki saat lahir dan yang kita butuhkan saat dewasa diberikan melalui pendidikan.

*Penulis adalah Kepala Pusat Studi Kelestarian Dan Keseimbangan Lingkungan (PUSDI K2L) FMIPA Unisma Malang dan Anggota Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI).

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry