BERMAIN : Belajar sambil bermain di Sekolah Cikal Surabaya. DUTA/wiwik

SURABAYA | duta.co – Menempuh pendidikan yang sama, di sekolah yang sama, di kelas yang sama tapi mengapa anak bisa tidak sama pemahaman terhadap sebuah pelajaran yang diberikan guru?

Tidak lain karena setiap anak berbeda dalam menangkap pembelajaran yang diberikan pengajar atau guru.

Setiap anak punya cara masing—masing dalam menangkap hal-hal baru. Bisa dengan cara mendengar, melihat atau cara lainnya.

Sehingga sekolah pun harus memperlakukan masing-masing anak secara berbeda dengan memberikan cara pembelajaran yang berbeda pula.

Bagaimana caranya? Caranya dengan melakukan tes kinestetik. Kinestetik ini untuk mengetahui cara belajar seperti apa yang sesuai dengan karakter masing-masing anak.

Itu pula yang dilakukan Sekolah Cikal (Cinta Keluarga). Sekolah milik Najeela Shihab ini menerapkan tes kinestetik pada anak sebelum memasuki sekolah dan memasuki ruang kelas.

Direktur Sekolah Cikal Surabaya, Ratih Saraswati mengatakan ada dua tes yang harus dijalani anak sebelum masuk ke Sekolah Cikal.

Tes pertama adalah psikotes. Di sini pihak sekolah melihat kemampuan anak secara lebih mendalam. Sehingga nantinya anak bisa diarahkan masuk ke kelas apa.

Hal itu juga untuk menentukan minat anak sesuai dengan passionnya.

“Sehingga ke depan anak bisa bekerja sesuai dengan passion. Kalau besar bisa bekerja dengan passion, anak akan bisa senang setiap saat. Bisa menyalurkan hobby tapi menghasilkan uang,” tandas Ratih di sela acara bersama media, Rabu (6/3).

 Setelah mengetahui minat anak, dilanjutkan dengan tes kinestetik. Tes itu dilakukan untuk melihat cara belajar seperti apa yang cocok untuk anak.

“Karena untuk menangkap pembelajaran, anak-anak beda caranya. Misalnya membaca ya. Ada anak yang memahami apa yang dibaca sambil tiduran, sambil melihat pemandangan, sambil makan dan banyak cara lain. Itu kita biarkan. Kita fassilitasi semuanya,” jelas Ratih.

Itulah mengapa ruang kelas di sekolah milik Najeela Shihab ini didesain senyaman mungkin. Tidak ada kursi-kursi yang tertata rapi seperti ruang kelas di sekolah.

Siswa per kelas yang tak lebih dari 24 anak, disediakan kursi kurang dari itu. Lainnya di ruang kelas itu disediakan sofa, kasur, karpet dengan bantal-bantal empuh dan fasilitas lainnya.

“Kita ingin memberikan ruang yang senyaman-nyamannya bagi anak untuk belajar. Desain ruang kelas juga sesuai dengan keinginan anak, kita tinggal menyediakan fasilitasnya,” tandas Ratih.

Kinestetik itu juga melibatkan guru kelas yang setia melakukan observasi langsung pada anak selama tiga bulan.

“Melihat perkembangan anak, kelebihan dan kekurangan anak apa dan minatnya kemana,” tukasnya.

Diskusi dalam setiap pembelajaran. DUTA/wiwik

Di sekolah ini pula, tidak hanya anak yang belajar, orang tua juga dituntut untuk belajar. Bahkan sekolah memberikan pelatihan khusus bagi orang tua agar bisa mendidik anak dengan baik. Bisa mendisiplinkan anak tanpa harus bersuara keras.

“Di sekolah ini tidak ada reward dan punishment tapi anak-anak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan tugas dan kewajiban mereka. Mereka tahu apa yang harus dikerjakannya,” tandas Ratih.

Memang, karena konsep kedekatan dengan anak yang diterapkan sekolah yang berada di kawasan Lontar Surabaya ini, maka tidak banyak siswa yang bisa diterima.

Dari jenjang Paud, TK, SD dan SMP, Sekolah Cikal hanya memiliki 310 siswa. Dan spesialnya lagi, di sekolah ini anak tidak harus memakai seragam yang sama. end