
YOGYAKARTA | duta.co – Covid-19 tidak hanya melahirkan pengalaman berharga di bidang kesehatan tapi ternyata juga melahirkan banyak ide-ide kreatif. Salah satunya adalah para ibu di Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Manyar.
Awalnya, saat pandemi Covid19 dulu, para ibu di desa itu selalu mengonsumsi minuman herbal dari tanaman yang ada di halaman rumah.
Minuman itu diyakini bisa meningkatkan daya tahan tubuh sehingga bisa tahan terhadap serangan virus Covid19.
Kebetulan desa itu menjadi salah satu desa ring satu dari proyek eksploitasi Searah Ketapang. Atas bantuan pemerintah desa setempat, para ibu itu dipertemukan dengan tim dari Searah Ketapang.
Lilik Kusmiatin, koordinator para ibu Desa Sukomulyo mengaku percaya diri menawarkan ide-ide kreatifnya ke Searah Ketapang dengan tujuan agar difasilitasi membuat aneka minuman herbal dan aromaterapi dari bahan tanaman herbal.
“Alhamdulillah ide kami disambut baik,” kata Lilik yang ditemui saat ikut pameran di acara Lokakarya Media yang digelar Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) – Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Jabanusa di Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).
Awalnya Searah Ketapang memfasilitasi untuk pembuatan green house untuk menanam aneka tanaman obat keluarga (toga).
“Itu untuk bahan bakunya. Punya bahan baku terus tidak diolah kan sayang. Karenanya kami dibawa ke Rumah Atsiri Tawangmangu itu untuk belajar pengolahannya,” kata Lilik.
Di Runah Atsiri di Tawangmangu itu mereka bisa belajar bagaimana mengolah toga yang sudah dihasilkan menjadi barang jadi dan bernilai tinggi.
Pulang dari Tawangmangu Lilik dan kawan-kawan semakin semangat untuk menuangkan ilmu yang didapat.
Pada 2024 beberapa produk berhasil dibuat. Seperti teh telang rosela yang diberi nama Telas, serta berbagai jenis aroma terapi dengan berbagai aroma pilihan salah satunya serai, mawar dan lavender. Aromaterapi ini diberi merek Sukga.
Untuk menghasilkan produk ini, Lilik mengatakan ada empat kelompok tani (poktan) yang terlibat di pengembangan. Masing-masing poktan terdiri dari 15 hingga 30 orang. Sedangkan untuk produksi diakui Lilik hanya melibatkan 15 orang.
Dua tahun produksi Sukga, Lilik mengaku bantuan Searah Ketapang tidak berhenti. Searah Ketapang tetap memberikan pendampingan. Bahkan pemasaran juga lebih banyak melalui jaringan Searah Ketapang. “Setiap event Searah baik itu nasional maupun internasional, selalu kami dilibatkan,” jelasnya.
Namun, Lilik mengaku pihaknya tetap melakukan pemasaran dan promosi sendiri secara mandiri. Berjualan di market place sudah mulai dilakukan.
Bahkan untuk promosi, Sukga sudah terpajang di beberapa lokasi strategis seperti di kantor Dekranasda Gresik, Hotel Horison Gresik, Galeri Desa hingga di BUMDes.
Tidak hanya itulah, kini Sukga sudah menjadi tempat belajar masyarakat. “Karena banyak yang mau belajar, kita sudah mulai kembangkan eduwisata. Beberapa sekolah sudah mulai datang ke kami untuk pembelajaran,” tutur Lilik.
Kehadiran Sukga ini sudah menjadikan ibu-ibu di Desa Sukomulyo lebih berdaya. Mereka yang sebelumnya tidak bekerja, kini bisa memiliki kesibukan yang menghasilkan rupiah.
Bagi ibu yang selama ini hanya mengurus anaknya, kini bisa mendapatkan tambahan uang belanja sambil tak lupa menjaga anak. “Jadi semua bisa berdaya, ibu rumah tangga bisa menghasilkan uang sendiri,” kata Lilik.
Kini, aromaterapi herbal Sukga tidak hanya mampu mengharumkan rumah para konsumennya. Tapi juga sudah mampu mengharumkan nama Desa Sukomulyo.
Sesuai tagline produk Sukga.id, aroma, rasa, cerita dari Sukomulyo untuk dunia, diharapkan produk ini bisa mendunia dan mengharumkan nama desa yang banyak menyimpan cadangan gas itu. lis




































