“Kehadiran negara sangat diperlukan dan kehadirannya harus lebih cepat dari kehadiran Corona di segala lini kehidupan, sehingga tidak menambah panjang daftar korban Corona.”

Oleh: Dr Rosichin Mansur, SFil, MPd

CORONA menggemparkan dunia. Corona menjajah di berbagai negara belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Kehadirannya mengerikan, Corona atau Covid-19 tak ubahnya malaikat pencabut nyawa. Tanpa bicara panjang lebar, ia datang, nyawa pun melayang.

Tapi, ada pula yang jiwanya berpisah dari badannya, bukan karena Corona, melainkan karena kekerasan tangan manusia yang menyisihkan dan melupakan Tuhannya.

Merebaknya virus Corona di atas bumi pertiwi ini, menjadikan jalan-jalan, mall-mall, pasar-pasar dan warung kopi, sepi dari lalu lalang orang. Demikian kampus, sepi dari lalu lalang mahasiswa yang rajin ke perpustakaan. Dan sepi pula dari nyanyian-nyanyian mahasiswa yang membuat dinamis kehidupan kampusnya.

Sepinya kampus karena perkuliahan berpindah di rumah, kuliah dilakukan secara fullonline. Kuliah atau belajar di rumah menjadi salah satu jalan memutus rantai penyebaran virus yang menggila penyebarannya.

Lebih dari itu untuk menjaga keselamatan mahasiswa, sebagai generasi penerus bangsa dan pengisi kemerdekaan, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sepinya lalu lalang orang dan kendaraan, membuat pohon-pohon ‘tersenyum’ manis karena polusi udara yang keluar dari cerobong mobil dan motor yang biasanya terus menderu, menurun. Tetapi terlihat pohon-pohon merunduk sedih saat hari Jumat tiba, masjid kampus sepi, tak terdengar kumandang adzan dan khotbah Jumat yang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dan keilahian. Saat ini seakan Tuhan telah dimatikan.

Di tengah suasana perjuangan para medis melawan Corona untuk mempertahankan jiwa-jiwa, roh-roh agar tidak pergi ke alamnya, ternyata masih ada yang tega melakukan pencurian ribuan masker dan puluhan botol cairan pembersih.

Walau secara materi harga masker dan cairan pembersih yang raib tidak sebesar hilangnya uang negara yang dirampok orang yang tak takut Tuhan, seperti dalam kasus Jiwasraya, tetapi masker dan cairan pembersih itu sangat dibutuhkan dalam suasana dan masa sekarang ini untuk mengurangi persebaran dan menyetop jatuhnya korban dari amukan virus Corona.

Beberapa garda terdepan, para medis pun terkena amukan dan harus pulang keharibaan Tuhan, seperti Iwan Dwi Prahasto, guru besar farmakologi FK UGM, dan Bambang Sutrisna, guru besar epidemiologi FKM UI, serta masih banyak lagi para medis yang harus pergi selamanya demi keselamatan rakyat dan kenyamanan masyarakat dalam mengarungi kehidupannya.

Kehadiran negara sangat diperlukan dan kehadirannya harus lebih cepat dari kehadiran Corona di segala lini kehidupan sehingga tidak menambah panjang daftar korban Corona.

Kehadiran Corona bukan hanya memunculkan kepanikan masyarakat, sekaligus melahirkan kehati-hatian masyarakat dalam berbuat dan melangkahkan kakinya. Corona pun memporak-porandakan mimpi-mimpi besar para pejabat dan atau konglomerat sehingga harus berpikir ulang untuk dapat merealisasi ide atau mimipi besarnya, seperti mimpi besar dan monumental, pemindahan ibukota negara Indonesia.

Di samping itu Corona mampu menenggelamkan kasus-kasus di tanah air, seperti kasus Jiwasraya dan Asabri yang tak jelas ke mana larinya uang negara. Kasus pemerkosaan atau pencabulan oleh oknum pendeta terhadap jamaahnya di komplek gereja, dan kasus seorang ayah menghabisi anak kandungnya gegara kesal terhadap anaknya yang minta uang biaya studi tour sekolahnya, serta kasus-kasus lain kini tak terdengar lagi tenggelam disapu ombak besar Corona, dan entah sampai kapan kasus-kasus yang ada di bumi pertiwi itu akan berakhir dengan terungkap jelas.

Kasus pencurian, pemerkosaan, dan pembunuhan suatu fenomena yang kerap terjadi di kota maupun desa karena kepentingan sesaat. Pencurian, bila pencurian itu dalam wujud barang atau benda seperti masker, maka, akan mudah melacaknya, tetapi akan sulit bila pencurian itu dalam bentuk angka-angka dalam lembaran kertas. Dan akan memunculkan keprihatinan bila pencurian itu pencurian ide-ide yang tertuang dalam tulisan artikel dan sejenisnya (sebut plagiasi), karena sang pencuri (plagiator) adalah orang yang melek huruf, tahu etika dan tahu akibat ke depannya, tetapi semua kalah oleh godaan kepentingan sesaat, seperti kursi empuk yang ingin didudukinya, sehingga akibat buruk ke depannya pun tak terlihat tertutupi ambisinya.

Pada gilirannya etika pencuri (plagiator) hancur berkeping-keping, ide-ide besar yang ada dalam otaknya luluh lantah, dan kepercayaan masyarakat menurun, para masyarakat intelektual pun berkabung.

Pemerkosaan, perbuatan asusila yang sangat memalukan. Hanya untuk memenuhi hasrat birahinya yang meluap-luap melupakan adat istiadat, dan norma yang berlaku. Masyarakat pun secara alami akan menghukumnya. Kehidupan suram pun terus membayangi pelaku dan korbannya.

Demikian pula pemerkosaan terhadap ide-ide atau gagasan-gagasan, korban tak punya lagi kebebasan, kemerdekaan dalam menuangkan ide-idenya, dan mengembangkan kreatifitasnya. Tak ubahnya kerbau yang dicocok hidungnya, kebebasan layu sebelum berkembang oleh arogansi kekuasaan. Padahal manusia dalam mengonstruk sesuatu diawali oleh ide-ide, dan sejatinya manusia memiliki kebebasan, ‘bebas dari’ dan ‘bebas untuk’ sepanjanng perjalanan hidupnya.

Merobek-robek Kitab Suci

Pembunuhan, perbuatan biadab, perbuatan yang disponsori oleh setan. Tidak lagi mengenal kasih sayang, dan menerjang batas norma dan hukum yang berlaku. Mereka yang terbunuh hilang semuanya, tak memiliki sesuatu apapun, nyawa melayang, masa depan pun hilang, lenyap dari atas bumi, dan hanya menunggu peradilan Tuhan.

Demikian pun pembunuhan karakter meskipun tidak ada mengambil nyawa seseorang, tetapi merusak nama baik dan atau merusak reputasi seseorang. Ia menolak karakter orang lain karena tidak cocok dengan karakternya, dengan cara fitnah dan atau membuat nama buruk seseorang yang dituju di masyarakat. Nilai-nilai kemanusiaan telah sirna dari jiwa pembunuh, hanya napsu angkara yang ada dan menguasai dirinya

Pencurian, pemerkosaan dan pembunuhan dengan varian modus dan motifnya suatu perbuatan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan dan keilahian. Motif apa pun yang melatarbelakanginya itu hanyalah motif permukaan, motif yang bukan hakiki, dan motif yang mudah diketahui dan atau dianalisis orang kebanyakan.

Bila kita melihat lebih  dalam perbuatan itu dilakukan pada hakikatnya mereka telah merobek-robek kitab suci agamanya dan membakarnya menjadi debu, sehingga mereka tidak punya lagi pedoman hidupnya, hilang petunjuk hidupnya yang tertulis dalam kitab suci-Nya.

Mereka gelap mata gelap hati, logika membeku bagaikan batu, dan lenyap sudah rasa takut pada Tuhan sang Penguasa Jagad Raya, karena Tuhan telah dimatikan lebih dulu lewat pembakaran firman-firman-Nya yang termaktub dalam kitab suciNya. Bayang-bayang Tuhan tidak ada lagi, dunia dalam genggaman tangannya, di tangannya kekuasaan dipegangnya, dan di tangannya keputusan dijatuhkannya. Di sinilah tampak arogansi manusia terhadap Tuhan.

Arogansi manusia terhadap Tuhan tak akan muncul andai menengok pemikiran filosof muslim Alkindi, yang mengatakan Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam, bahkan Ia Pencipta alam, Tuhan tidak merupakan genus dan spesies, Tuhan hanya satu dan tidak ada yg serupa dengan Tuhan.

Demikian pun Descartes menempatkan Tuhan pada tempat yang tertinggi sebagai “Ada’nya zat yang tidak terbatas, dan sempurna. Oleh karena itu sebuah kesalahan besar manusia saat lupa pada dirinya, ia merasa meraih kemenangan setelah merobek-robek dan menghanguskan kitab suci-Nya menjadi abu, Tuhan pun telah dimatikannya. Padahal ia hanyalah menggapai kepalsuan, kekosongan, dan hanya seolah-olah Tuhan telah dimatikan, yang pada hakikatnya Tuhan adalah dzat tak terbatas, sempurna dan kekal abadi eksistensinya, Tuhan bukan termasuk benda-benda di alam yang bisa dibakar dan dimatikan. (*)

Dr Rosichin Mansur, SFil, MPd adalah dosen filsafat FAI Universitas Islam Malang.

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry