SURABAYA | duta.co – Mengenal lebih dekat dengan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Itulah yang dilakukan 115 siswa YAPITA (Yayasan Pendidikan Islam Tarbiyatul Aulad) Surabaya, Selasa (18/11/25). Mereka sengaja belajar mengenali tokoh-tokoh Aswaja An-Nadliyah.

“Di sini mereka bisa belajar dengan riang, apalagi disambut dengan 5 mahasiswa UNESA yang lagi magang di Museum NU. Anak-anak bisa mengenal lebih dekat profil tokoh-tokoh NU,” demikian disampaikan Muhammad Azharuddin, penjaga Museum NU Surabaya, Rabu (19/11/25).

Siswa SD YAPITA ini, datang di bawah Koordinasi M Nurul Arifin MPd. Mereka bisa menjelajah koleksi, atau artefak (benda bersejarah) yang ada di Museum NU. “Karena ini domain anak-anak SD, maka, materi yang paling tepat adalah menambah atau menanamkan Aswaja An-Nahdliyah secara tepat sejak dini,” jelas alumni PP Gontor tersebut.

Menurut Azhar, panggilan akrabnya, secara kebetulan di Museum NU sedang ada 5 mahasiswa magang dari jurusan Sejarah di UNESA. “Akhirnya mereka sekaligus bisa berperan sebagai guide (pemandu) anak-anak untuk mengenali sejarah berdirinya NU. Layaknya guru les, yang bisa menjawab dapat hadiah snack (makanan ringan red),” jelas Azhar yang kini tengah menuntaskan studi S2 di UNESA tersebut.

Perlu Kerjasama dengan Ma’arif

Melihat animo anak-anak SD atau MI yang ingin memperdalam Aswaja An-Nahdliyah, maka, Museum NU sudah waktunya untuk memberikan kisah ajar ketika anak-anak berkunjung ke Museum NU. “Kita sedang gagas untuk kerjasama dengan LP Ma’arif PWNU Jatim. Intinya bagaimana peluang ini harus ditangkap dengan baik,” jelas Prof Dr Mukhrojin, MA yang juga penasehat Museum NU.

Menurut Prof Mukhrojin, dokumen atau arsip serta artefak yang ada di Museum NU Surabaya, bukan saja penting untuk masa depan Ormas ini saja, tetapi juga penting bagi masa depan Indonesia. Di Museum NU ada dokumen terkait Komite Hijaz, Resolusi Jihad serta semangat kebangsaan yang lain, tegasnya.

Karena itu, tambahnya, semangat anak-anak, guru-guru SD/MI, SMP/MTs atau juga SMA/MA sangat penting untuk dijawab. “Ini kesempatan emas untuk membumikan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah, nilai-nilai Islam yang ramatan lil alamin. Apa yang diajarkan para guru, kiai, ustad, habaib kita adalah Islam yang ramah, ini harus kita pupuk terus pada anak-anak kita,” pungkasnya. (nzm)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry