POSE BERSAMA: Rombongan 50 siswa dari Sekolah Dasar Islam (SDI) Darussalam Nginden, sekolah Sang Juara binaan Rumah Zakat (RZ) Surabaya berguru jurnalistik di Harian Duta Masyarakat di Graha Astranawa. (duta.co/wawan)

SURABAYA | duta.co  – Menulis, salah satu yang biasa dilakukan para siswa. Guna menanamkan cara menulis yang benar khususnya tulisan jurnalistik, Sekolah Dasar Islam (SDI) Darussalam, sekolah Sang Juara binaan Rumah Zakat mengajak dan berguru siswanya langsung ke Redaksi Harian Duta dan duta.co.

Sebanyak 50 siswa dari Sekolah Dasar Islam (SDI) Darussalam Nginden, sekolah Sang Juara binaan Rumah Zakat (RZ) Surabaya berguru jurnalistik di Harian Duta Masyarakat di Graha Astranawa.

Pada kunjungan SD juara binaan Rumah Zakat  (RZ) ini, para siswa diberi gambaran berkegiatan jurnalitik oleh Redaktur Pelaksana (Redpel), Mohammad Hakim.

Wawan Budiyanto LSU (Learning Support Unit) SD Juara Surabaya yang mengawal 50 siswa berkunjung dan berguru ke Redaksi Harian Duta mengatakan tujuan awal kunjungan siswa ke redaksi media yakni memberikan pengetahuan sekaligus memacu minat bakat siswa untuk menulis.

“Perlu sejak awal dikenalkan tentang dunia tulis menulis. Dan berkunjung ke redaksi media salah satu yang pas agar mereka bisa menanyakan langsung seluk beluknya. Tujuannya merangsang minat bakat siswa, siapa tau ada yang suka dunia jurnalistik,” jelasnya.

Karenanya sejak kehadiran di ruang redaksi, antusiasme siswa kelas 5 SDI Darussalam Nginden, sekolah Sang Juara binaan Rumah Zakat (RZ) Surabaya terlihat. Dengan segenap perhatiannya, mereka menyimak apa yang dilontarkan Mohammad Hakim, Redaktur Pelaksana Harian Duta.

Hakim, begitu disapa mencoba memberi gambaran kegiatan jurnalitik, mulai mencari dan menulis berita hingga mengenalkan personel-personel yang terlibat di dalam kegiatan jurnalitik terutama di bagian redaksi.

“Di redaksi itu ada wartawan, redaktur, redpel, yang kesemuannya itu merupakan satu kesatuan mulai dari peliputan, penulisan hingga akhirnya berbentuk naskah berita yang selanjutnya diolah oleh layout sebelum akhirnya dicetak,” jelasnya.

Penjelasan Hakim, membuat sejumlah siswa antusias untuk menanyakan secara detail seluk-beluk redaksi. Sayyadah misalnnya menanyakan bagaimana cara memeliput berita. “Saya ingin menanyakan, bagaimana menulis berita itu sebelum akhirnya bisa diterbitkan?” tanyanya.

Hal itu langsung dijawab oleh Hakim dengan menjelaskan tentang redaksi yang terbagi dalam beberapa bidang. Di duta ada bidang ekonomi bisnis, pendidikan, kota dan pemerintahan, dan hukum dan kriminal.

Sedangkan Shofiah menanyakan tentang keberadaan koran yang mulai tergerus oleh  media sosial (medsos). “Kenapa mesti membaca koran kalau sudah bisa membaca di medsos,” tanyanya.

Menanggapi hal itu, Hakim mengakui keberadaan medsos memang mampu mengerus oplah koran. Kendati begitu ada perbedaan antara koran dan medsos. Jika Koran harus memerhatikan kaidah-kaidah jurnalistik seperti berita harus aktual, juga akurat di medsos tidak memerhatikan hal itu. Semua bisa ditulis tanpa perlu memenuhi unsur-unsur di dalam jurnalitik.

“Makanya kita mengenal ada berita hoax. Itu yang lagi ngetren di medsos. Dan berita hoax tidak mengenal kaidah-kaidah jurnalistik, sehingga penyebar hoax rentan dijerat hukum,” tegasnya.

Dan satu lagi kelebihan koran, ungkap Hakim, beritanya dikemas lebih mendalam. Berita dikupas tuntas agar tetap diminati. Penjelasan itu langsung disanggah Aisyah, “Apakah agar diminati maka perlu ada cerita bergambar atau kartun?” sanggahnya.

Dan itu dibenarkan Hakim, di media khususnya media cetak ada banyak rubrikasi. Dan kesemuanya itu untuk memenuhi keingintahuan dan minat pembaca.

Dan sejumlah pertanyaanpun meluncur, mulai tentang berapa oplak Duta oleh Meysa, juga Idris yang bertanya masalah kerja wartawan, hingga tanpa terasa sudah dua jam lebih pertemuan yang berlangsung akrab itu berusaha mengulik apa itu jurnalistik.

Dan untuk memerlihatkan kecepatan kerja wartawan, langsung diperlihatkan kecepatan berita ditulis dan dimuat di media online yakni duta.co.(imm)

 

Tinggalkan Balasan