
Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi arah pendidikan dasar yang berpijak pada kreativitas, prestasi dan nilai keislaman.
Seluruh siswa SD Khadijah Wonorejo bersama para wali murid turut ambil bagian dalam perhelatan tahunan tersebut.
Beragam penampilan ditampilkan, mulai dari tari Remo, pencak silat, taekwondo, hingga drama kolosal bertema perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah.
Panggung haflah tidak sekadar menjadi ajang hiburan, melainkan medium pembelajaran historis dan karakter bagi peserta didik.
Momentum haflah tahun ini memiliki makna tersendiri. Selain menandai delapan tahun perjalanan SD Khadijah Wonorejo, pelaksanaannya bertepatan dengan Hari Lahir Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Hal ini tercermin dari pengangkatan tema drama resolusi jihad, yang menjadi benang merah antara pendidikan, sejarah, dan identitas kelembagaan sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Khadijah, bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Kepala SD Khadijah Wonorejo, Muchammad Rochman Firdian, mengatakan haflah menjadi wadah bagi siswa untuk menampilkan kreativitas dan potensi yang dimiliki.
Menurut dia, pendidikan dasar tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus memberi ruang bagi ekspresi seni, olahraga, dan nilai kebangsaan.
“Yang menarik, kami mengangkat drama resolusi jihad karena haflah ini bertepatan dengan hari lahir Nahdlatul Ulama. Ini bagian dari upaya menanamkan nilai perjuangan dan ke-NU-an sejak dini,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa makna jihad yang ingin ditanamkan kepada siswa bukanlah dalam konteks fisik, melainkan jihad intelektual dan moral.
Jika pada masa lalu jihad dilakukan dengan mengangkat senjata, maka pada masa kini jihad diwujudkan melalui ikhtiar menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan bermanfaat bagi negeri.
“Harapan kami, anak-anak terus berkreasi, maju, cemerlang, dan berjuang di bawah panji-panji Nahdlatul Ulama. Mereka adalah santri untuk negeri, yang kelak memberi warna dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” kata Rochman.
Selain pertunjukan seni dan budaya, SD Khadijah Wonorejo juga memberikan apresiasi kepada siswa-siswa berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Penghargaan diberikan kepada peserta didik yang menorehkan prestasi di berbagai bidang, seperti pencak silat championship, KSNR 7 dengan raihan Gold Medalist, sepatu roda freestyle, serta kejuaraan lainnya.
Rochman menyebutkan, tingginya prestasi siswa sejalan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap SD Khadijah Wonorejo.
Hingga saat ini, jumlah siswa mencapai 647 anak. Angka tersebut diperoleh melalui proses seleksi ketat pada penerimaan peserta didik baru, mengingat jumlah pendaftar setiap tahun selalu melampaui kapasitas yang tersedia.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Karena itu seleksi harus dilakukan secara ketat agar kualitas layanan pendidikan tetap terjaga,” ujarnya.
Ketua I Yayasan Khadijah Surabaya, Dr. KH. Abdullah Sani, menilai tingginya kepercayaan publik merupakan amanah yang harus dirawat secara serius oleh seluruh unsur sekolah.
Menurut dia, pelayanan pendidikan harus diberikan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab moral, mulai dari pimpinan hingga tenaga pendukung.
“Tingkat kepercayaan masyarakat kepada SD Khadijah Wonorejo sangat tinggi. Ini harus dijaga dengan pelayanan yang maksimal, dengan sepenuh jiwa, agar anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing,” kata Abdullah Sani.
Ia menegaskan bahwa harapan orang tua, sekolah, guru, dan yayasan sejatinya berada pada satu tujuan yang sama, yakni menyiapkan generasi emas calon pemimpin bangsa.
Namun, kecerdasan intelektual, menurut dia, harus selalu berjalan beriringan dengan akhlakul karimah.
“Pikiran boleh maju, tetapi harus tetap dilandasi akhlak yang mulia,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdullah Sani juga mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan anak, tidak hanya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan di sekolah dan pendampingan di rumah, termasuk melalui doa dan perhatian orang tua.
“Kalau orang tua mendoakan anak-anaknya setiap selesai salat wajib dan diiringi dengan usaha nyata, maka separuh tugas kepala sekolah dan guru sudah selesai. Namun jika hanya pasrah pada sekolah tanpa dukungan di rumah, saya khawatir pencapaian anak tidak maksimal,” katanya.
Ia berharap kolaborasi antara sekolah dan orang tua dapat terus diperkuat demi mengantarkan anak-anak meraih masa depan yang terbaik.
“Mudah-mudahan seluruh anak berkembang potensinya, cerdas, meraih cita-cita, dan menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tua,” ujarnya.
Masih Abdullah Sani, Haflah Miladiyah ke-8 SD Khadijah Wonorejo menegaskan bahwa pendidikan dasar bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan upaya berkelanjutan membentuk karakter, menumbuhkan kreativitas, dan menanamkan nilai perjuangan.
“Dari panggung seni hingga pesan moral resolusi jihad, sekolah ini merawat optimisme bahwa masa depan bangsa bertumpu pada generasi yang cerdas, santun, dan berakhlak mulia,” pungkasnya. ril/lis





































