
SURABAYA | duta.co – Mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) punya banyak karya lukisan dengan beragam variasi yang ditampilkan. Dimanapun berada, SBY senantiasa membawa peralatan lukis sehingga ketika ada momen menarik langsung on the spot turun dan melukisnya.
Dan karya-karyanya itulah, setidaknya 100 mahakarya lukisan dari (SBY), Presiden ke-6 Republik Indonesia hadir dalam pameran tunggal perdananya mulai 16 hingga 29 September 2026 di Voza Tower Surabaya.
Dalam sambutannya, SBY mengungkapkan alasan memilih aktif berkesenian setelah meninggalkan jabatan presiden. Selain menjadi sarana berekspresi dalam bentuk apapun yang terlintas dalam pikiran, melukis, menciptakan lagu, dan menulis novel dipilih agar dirinya tidak terjebak dalam “post power syndrome” dan ikut campur dalam pemerintahan.
“Ada alasan lain, banyak politisi mengalami post power syndrome, stres, marah-marah, cawe-cawe yang bukan urusannya dan sebagainya,” ujarnya dalam seremoni pembukaan.
Namun demikian SBY mengakui, akan terus mengikuti perkembangan negara dan dunia, juga masih sering diundang untuk diskusi tentang perbaikan negara dan dunia. Namun ia pastikan tidak akan menggunakan kekuasaan sebagai mantan presiden untuk ikut campur dalam pemerintahan Prabowo Subianto Presiden RI.
“Saya sudah lama meninggalkan dunia politik, utamanya politik praktis dan politik kekuasaan. Dalam konteks itu (ikut diskusi), saya anggap itu ibadah. Tapi tentu saya sudah tidak ada di kekuasaan. Yang mungkin sekarang Pak Presiden Prabowo, saya harus menjaga sikap saya, tutur kata saya untuk tidak dianggap cawe-cawe dan tidak dianggap melampaui kepatutan sebagai seorang mantan presiden,” jelasnya lagi.
Pameran ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sisi artistik seorang SBY sebagai sosok Negarawan sekaligus seniman melalui karya yang merekam pengalaman, perjalanan hidup, lanskap hati, serta cara pandangnya terhadap kehidupan.
Dari Kekaguman, Lahir Sebuah Buku Monograf
Momentum pembukaan pameran pada Selasa (15/9) juga ditandai dengan peluncuran buku monograf berjudul “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono”. Pembukaan pameran dihadiri banyak tokoh nasional dari beragam latar belakang, mulai dunia usaha, ekonomi kreatif, pemerintahan, dan figur publik.
Gagasan pembuatan buku monograf ini berawal dari kekaguman Hermanto Tanoko terhadap karya seni para pelukis Indonesia. Di saat yang sama, ia juga kerap terinspirasi oleh sosok dan perjalanan kepemimpinan SBY. Kekaguman tersebut kemudian melahirkan sebuah gagasan untuk mendokumentasikan karya-karya lukis SBY dalam sebuah buku monograf.
Melukis merupakan salah satu hobi SBY, terutama setelah kepergian sang istri tercinta, Almh. Ani Yudhoyono. Selama hampir dua tahun, SBY menjalani hari-hari yang penuh duka. Di tengah proses berdamai dengan kehilangan, beliau menemukan kembali melukis sebagai ruang perenungan sekaligus sarana untuk mengingat, mengenang, dan mengabadikan berbagai pengalaman serta perjalanan hidupnya.
Bertepatan dengan ulang tahun ke-77 SBY, buku monograf tersebut diluncurkan sebagai hadiah istimewa sekaligus bentuk apresiasi Hermanto Tanoko terhadap sosok dan karya-karya lukisnya.
Peluncuran buku ini kemudian berkembang menjadi sebuah pameran yang diharapkan dapat memperkenalkan karya SBY sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni lukis Indonesia.
Menurut Hermanto Tanoko, perkembangan seni membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar dapat tumbuh secara berkelanjutan. Kolaborasi antara seniman, komunitas, dunia usaha, institusi, dan masyarakat menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem seni yang semakin kuat.
“Bagi saya, melukis dan mengelola bisnis memiliki filosofi dasar yang sama. Keduanya membutuhkan visi yang jernih, kepekaan terhadap rasa, keberanian dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam merajut setiap detailnya. Saya bukan kolektor lukisan tidak mulai menyukai lukisan, salah satunya karya SBY,” terang Hermanto disela pembukaan.
Penyusunan buku monograf dan pameran ini turut melibatkan kurator ternama, Suwarno Wisetrotomo. Ia merupakan kurator Galeri Nasional Indonesia pada 1998–2024 dan telah menangani berbagai pameran berskala nasional, regional, hingga internasional. Dalam proses penyusunannya, Suwarno juga melakukan wawancara eksklusif bersama SBY untuk menggali cerita, pemikiran, dan pengalaman yang melatarbelakangi setiap karya.
Kisah-kisah tersebut kemudian dirangkai dan dituangkan secara menarik ke dalam buku monograf serta dihadirkan kembali melalui pameran ini. Lebih dari sekadar peluncuran buku, momentum ini menjadi bentuk penghormatan atas perjalanan hidup, proses kreatif, dan dedikasi SBY dalam berkarya.
Membuka Akses Seni Lebih Dekat dengan Masyarakat
Pameran dibuka untuk umum setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB secara GRATIS bagi siapapun dari berbagai kalangan untuk menikmatinya. Kehadiran pameran ini diharapkan dapat membuat seni lukis semakin dekat dengan masyarakat, termasuk generasi muda, keluarga, komunitas, hingga masyarakat yang sebelumnya belum terbiasa mengunjungi ruang seni.
Selama masa pameran, berbagai kegiatan pendukung juga akan diselenggarakan setiap hari untuk memperkaya pengalaman pengunjung. Program-program tersebut dirancang agar pameran tidak hanya menjadi ruang melihat karya, tetapi juga menjadi tempat bertemu, berdiskusi, dan menikmati seni dalam suasana yang lebih inklusif.
Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan diharap menjadi salah satu titik penting bagi pengembangan seni lukis Indoneisa. Semangat utama yang dibawa adalah kolaborasi dan keterbukaan akses terhadap seni. Dengan menghadirkan karya-karya SBY kepada masyarakat, pameran di Surabaya ini akan menumbuhkan ketertarikan baru terhadap seni lukis sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak ruang seni ke berbagai kalangan.
“Kita akan melihat sisi lain dari sosok Bapak SBY. Di balik perjalanan panjangnya sebagai seorang prajurit, negarawan, dan pemimpin bangsa, ternyata ada jiwa seorang seniman,” kata Hermanto. Imm





































