Satkorwil Banser Jatim (tengah) saat pembukaan Diklatsus di Jombang.

JOMBANG | duta.co – Di tengah riuh tantangan ekonomi dan ancaman krisis pangan global, sebuah gerakan sunyi tapi pasti mulai bertumbuh dari desa-desa. Bukan dari institusi negara atau korporasi besar, melainkan dari barisan anak muda berbaju loreng Banser dan kemeja hijau Ansor. Mereka bukan hanya barisan penjaga ideologi, tapi kini juga menjadi penjaga perut rakyat lewat ladang, tambak, dan semangat gotong royong.

“Satu ranting satu ladang,” begitu jargon yang menggema dalam setiap rapat koordinasi yang digelar GP Ansor dan Banser se-Jatim. Instruksi tegas ini datang dari pimpinan wilayah sebagai langkah nyata menjawab tantangan zaman ketahanan pangan berbasis komunitas.

Di Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, hingga Lamongan, gerakan ini mulai terlihat bentuknya. Tak sekadar wacana, para kader muda itu menyingsingkan lengan baju, memegang cangkul, menebar benih, bahkan menjajaki ekspor hasil tambak.

Di Desa Jabon, Sidoarjo, misalnya, sahabat Ansor telah berhasil membudidayakan rumput laut yang kini menembus pasar ekspor. “Kami tidak muluk-muluk. Mulai dari apa yang ada, dengan siapa yang bisa diajak bergerak,” ujar Kepala Kasatkorwi Jatim. H. Rizza Ali Faizin kepada duta.co saat pembukaan Diklatsus Provost, Balantas dan Bagana, Sabtu kemarin (12/7/25).

Sementara di Lamongan, wilayah yang dikenal dengan perikanannya, para kader Ansor-Banser menyulap lahan tidur jadi kolam budidaya ikan. Mereka tak menunggu uluran tangan, tapi bergerak dengan prinsip swadaya sekaligus menggandeng pemerintah lokal sebagai mitra strategis.

“Ketahanan pangan bukan hanya tentang makan, tapi soal harga diri,” kata Kaji Riza—panggilan akrabnya—sembari meyakini, kader Ansor dan Banser memiliki potensi luar biasa.

“Saya yakin, sahabat-sahabat akan mampu menjawab tantangan ini. Kita bukan hanya bicara ideologi dan barikade, tapi juga perut rakyat,” tambahnya.

Kini, Jatim sedang bersiap menggelar rapat koordinasi zona arek yang melibatkan Sidoarjo, Gresik, Surabaya, Mojokerto, dan Jombang. Di sana, pelaku-pelaku lapangan akan dikumpulkan, berbagi praktik baik, dan merancang langkah konkret bersama pemerintah daerah masing-masing.

Gerakan ini memang tidak mencolok. Tak banyak yang meliput. Tapi dari balik ladang dan tambak itu, lahir satu harapan besar: bahwa organisasi kepemudaan seperti Ansor dan Banser bisa menjelma sebagai kekuatan ekonomi rakyat, bukan hanya kekuatan barikade.

“Para sahabat harus berkordinasi dengan pemerintah setempat mulai dari RT/RW kepala desa, kecamatan dan kabupaten, untuk menyiapkan satu ranting satu ladang,” pungkasnya. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry