
“Al-muhafadhotu ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah adalah sebuah kaidah atau prinsip Islam (memelihara hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik).”
Oleh Rochmat Wahab*
KITA bersyukur dan mengucapkan selamat kepada jam’iyah kita Nahdlatul Ulama (NU) yang baru saja melewati 1 Abad kelahiran Jam’iyah NU, 31 Januari 1926. Kini kita memasuki perjalanan Abad kedua, di mana dinamika jam’iyah NU sungguh menantang. Sebagai institusi sosial, NU tentu tidak bisa menutup diri dari pengaruh dahsyat dari perubahan sosial yang terjadi, juga kemajuan Iptek yang sangat pesat. Belum lagi keragaman kemampuan dan kondisi pimpinan di semua level dan jamaah yang tidak bisa dipungkiri. Ini membuat Jam’iyah NU sedikit mengalami kegoncangan atau tantangan yang tidak ringan.
Kondisi yang sempat menghantam kepengurusan PBNU di ujung usianya satu Abad, membuat semua pihak harus introspeksi. Ada apa di balik itu semua? Sehingga kondisi PBNU mengalami persoalan yang sangat berat. Kita memang tidak bisa hidup ahistoris. Bahwa kejadian apapun itu jika ditelusuri secara jujur, pasti ada sebab musababnya. Kondisi yang cukup serius, secara langsung atau tidak langsung mengundang para sesepuh dan ulama atau kiai muda dengan ikhlas ikut membersamai dalam menghadapi persoalan yang sempat terjadi.
Alhamdulillah dengan penuh rasa ketawadluan dan keteladanan para pengurus, Kiai sepuh dan Kiai muda sebelum menginjak ujung usia 100 tahun sudah “menemukan titik terang” dalam menyelesaikan persoalan PBNU. Saya sangat yakin semua pengalaman yang sangat penting itu bisa dijadikan modal utama untuk kebangkitan NU ke depan. Kita perkuat Qonun Asasi dan Khittah NU serta berorientasi pada visi Abad Kedua NU, maka, perlu melakukan reformasi NU.
Tema yang diambil oleh Panitia Peringatan se-Abad NU sangatlah tepat, “Merawat Jagad, Membangun Peradaban”. Karena pada hakekatnya bahwa tema ini merupakan pengejawantahan “Al-muhafadhotu ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”. PBNU dan pengurus NU lainnya, memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara nilai-nilai yang baik, dan menfasilitasi dan mendukung upaya perbaikan peradaban yang sesuai dengan kemajuan jaman.
Walau NU dihadapkan tantangan yang besar, para pimpinan NU dituntut kemampuan kreatif dan inovatifnya serta kebijaksanannya, sehingga kehadiran NU itu menjadi solutif bagi persoalan bangsa dan ummat.
Bagi NU, perjalanan perjuangannya tidak boleh berhenti dan mundur, the point of no return. Karena itu untuk mengawali pengabdian NU di Abad kedua ini perlu dimulai dengan penuntasan kepengurusan PBNU hasil Muktamar ke-35 nanti dengan baik. Kita kubur sedalam-dalamnya pengalaman yang tidak baik. Mulai dengan muktamar dengan sistem yang disempurnakan, sehingga terhindar dari kepentingan-kepentingan yang tidak sehat bagi kehidupan jam’iyah NU ke depan.
Menjadikan NU ke depan sebagai kebanggaan kaum nahdliyin, ummat Islam dan bangsa Indonesia, memang tidak mudah. Menjadikan NU yang bisa berkontribusi untuk kemajuan bangsa Indonesa apalagi pemerintahan Indonesia yang sedang menghadapi persoalan besar dan ancaman bencana yang tiada henti dan missi kemanusiaan, sehingga bisa mewujudkan NU yang rahmatan lil’alamin juga membutuhkan keikhlasan.
Untuk membawa misi kebangkitan NU kiranya perlu disiapkan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU yang baik. Biasanya forum-forum ilmiah segera dilaksanakan di berbagai tempat, atau Mubes atau Munas yang membahas tema-tema penting sesuai dengan issu mutaakhir, termasuk sistem keorganisasian NU.
Semoga semua unsur kepengurusan NU di semua tingkatkan mulai dari PBNU hingga Pengurus Ranting NU, kompak dan solid secara horizontal dan vertikal, sehingga bisa mengawal Jam’iyah NU secara amanah dan akuntabel. NU seyogayanya bisa dijaga independensinya, di samping selalu siap berkolabarasi secara saling menguntungkan. (*)
*Prof Dr KH Rochmat Wahab adalah Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY Periode 2011-2016.





































