FOKUS KULIAH : Kiper Tim Nasional U23, Satrias Tama bermain bola di kampus tercinta Unitomo. DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co  –  Pujian tak lantas membuat kiper  tim nasional sepakbola Indonesia U23, Satria Tama lupa diri.

Dia pun merasa sepakbola yang membesarkan namanya tidak akan selamanya dia geluti. Karenanya, Satria sadar dari semua popularitas itu, pendidikan yang paling utama.

Karenanya, di sela kepulangannya ke kampung halamannya di Sidoarjo untuk menerima penghargaan dari Gubernur Jatim Khofifah, Satria menyempatkan diri datang ke kampusnya.

Satria memang tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2015 pada program studi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Unversitas Dr.Soetomo (Unitomo) Surabaya, kemarin.

Satria bukan sekadar mampir, dia mengurus kartu rencana studi (KRS) untuk semester genap ini.

“Kuliah tetap penting, saya sadar karena selamanya pasti tidak bisa berkarier penuh menjadi atlet sepak bola,”  tutur bungsu dari tiga bersaudara ini yang ingin menjadi aparatur sipil negara (ASN) setelah lulus nanti.

Pria kelahiran Sidoarjo 23 Januari 1997 ini banyak menceritakan kecintaannya  di bidang olah raga. Pada awal obsesinya adalah di cabang atletik. Namun seiring berjalannya waktu iapun jatuh cinta pada cabang sepak bola.

“Alhamdulillah, keluarga saya sangat suport dengan obsesi dan tujuan saya terutama Ayah. Beliau sejak kecil membiasakan dan memotivasi saya bahwa semua itu nomor satu. Sekolah nomor satu, ibadah nomor satu, bola nomor satu,” ujar Satria.

Ketika dia awal fokus ke bidang atletik, membuatnya banyak di lapangan dibanding sekolah. Namun dia tidak meninggalkan, apalagi melupakan kewajiban menempuh pendidikan. Karena konsisten membagi waktu sejak kecil, membuat Satria kini tak kesulitan antara bola dengan kuliah.

Satria yang mulai tertarik sepakbola sejak duduk di bangku SMP itu memang sempat bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda (IM) di kawasan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari.

Pasang surut dunia bola sempat dia rasakan. Banyak SSB di Surabaya ‘lesu darah’, kompetisi internal tidak jalan dan jarang latihan. Ketika ada Akademi Widodo Cahyono Putro (WCP) di Kabupaten Gresik yang didirikan Widodo Cahyono Putro, mantan punggawa Persebaya, Satria mendaftar. Dia pindah dari IM ke WCP.

Sejak saat itu, karir bola ditapaki Satria. Dia akhirnya masuk ke Persegres Yunior, kemudian senior. Hingga akhirnya terbukalah jalur masuk Timnas, masuk dan hingga kini. “Semoga prestasi Timnas ini terus berlanjut, menjadi kebanggaan dunia sepak bola nasional,” ujar anak pasangan Bambang Hardiyanto dan Saning.

Satria hingga kini fokus ke Timnas U-22. Kendati demikian dia berharap kelak bisa bergabung ke Timnas senior. Satria mengaku kuliah karena di bola tidak seterusnya karena ada batasan umur. Kuncinya menjaga kondisi agar bisa main bola hingga nanti tidak bisa main lagi.

Terlebih Unitomo memberikan kemudahan dengan memberikan program blanded learning yang memadukan perkuliahan tatap muka dengan jarak jauh melalui piranti dalam jaringan (daring).

“Alhamdulillah saya bisa membagi waktu. Saya juga ingin sepenuhnya memanfaatkan kesempatan belajar atas beasiswa dari Unitomo,” sebut alumni SMAN 10 Surabaya ini.

Budiono selaku dosen pembimbing akademik mahasiswa (DPAM) Satria Tama ikut bangga dengan Satria. Budiono mengaku masih ingat betul ketika Satria awal masuk kuliah dengan cidera pada jari tangan.

“Sejak Mas Satria masuk itu mahasiswa murni. Awal masuk yang masih saya ingat jarinya cidera. Untuk jadwal perkuliahannya, kita sesuaikan waktunya dia (Satria). Karena kendalanya pada waktu. Sama pak dekan FIA, ini dibahas. Jangan sampai nasib kuliah Satria sama dengan Evan Dimas yang sempat ganti Nomor Induk Mahasiswa (NIM),” kata Budiono.

Karena itu,  kampus  memberikan  perlakuan  khusus  pada semua atlit olah raga yang kuliah di Unitomo. Salah satunya, dengan e-learning atau kuliah jarak jauh. Bisa juga blanded learning. Jadi ada tugas yang diberikan melalui kuliah daring.

“Intinya, kita memberi nilai tapi harus ada tugas, ada perkuliahan. Dan ini tidak menyalahi aturan. E-learning, blanded learning diperbolehkan secara aturan,” tandas Budiono. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry