SURABAYA | duta.co – Hajatan nasional yang sangat menentukan bagi perjalanan bangsa sudah di depan mata. Bulan April 2019, akan memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan. Bukan hanya  pemilihan presiden (Pilpres) melainkan pemilihan legislatif (Pileg) serentak.

Dalam suasana yang seperti ini, penting sekali untuk saling mengingatkan agar sebagai sesama komponen bangsa, terus menjaga semangat persaudaraan dan kerukunan. Berbeda pilihan boleh, berbeda pandangan politik wajar wajar saja.

“Inilah yang mengilhami Malam Perhelatan “SANTUN BERMEDIA UNTUK PEMILU DAMAI” dengan hastag #SANTUNBERMEDIA2019 yang merupakan rangkaian dari pelaksanaan Hari Pers Nasional tahun 2019 yang dilaksanakan di Jawa Timur,” ungkap pennaggung jawab acara, Agus Sudibyo, Rabu (30/1/2019).

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan pentingnya profesionalisme, independensi dan netralitas dalam Pemilu, serta pentingnya para netizen untuk bijak bermedsos dan tidak turut menyebarkan pesan-pesan politik yang dapat memecah- belah masyarakat melalui saluran media sosial.

“Sebaliknya, kegiatan ini ingin mengajak semua pihak untuk menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi dan wacana yang bermanfaat untuk terselenggeranya pemilu yang damai dan berkualitas,” ungkap Agus.

Agus lantas menguraikan, bentuk kegiatanya meliputi orasi, penyampaian pesan moral, kesenian tari dan musik tradisi. “Waktunya, Rabu, 6 Februari 2019, jam 18.30-21.30 WIB. Nanti acara akan dipandu Nanda dan Topan (pelawak). Sedangkan  pengisi acara Sujiwo Tedjo dan Klantink. Tempatnya di Surabaya Convention Hall, Jl. Arief Rahman Hakim No. 131-133,” urainya.

Selain itu juga lanjut Agus, aka nada narasumber, di antaranya, Rudiantara (Menkominfo), Jenderal Tito Karnavian (Kapolri), Niken Widiastuti (Dirjen IKP Kemkominfo), Gus Ipul (Wagub Jawa Timur) Margiono (Penanggungjawab HPN), Agus Sudibyo (Indonesia New Media Watch).

“Kita perkirakan pesertanya ada 1500 orang, terdiri dari kalangan pemimpin redaksi dan wartawan di Jawa Timur Bawaslu, KPUD, akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat, masyarakat umum,” katanya.

Namun menurut Agus, selainsukses  perhelatan yang paling penting adalah bagaimana tetap menjaga toleransi, kebersamaan dan semangat saling-menghormati dalam perbedaan itu. Semua unsur masyarakat mesti memberikan andil untuk menjaga suasana kemasyarakatan yang tenang, guyup dan kondusif.

“Tentunya, tanpa terkecuali komunitas pers nasional. Perlu untuk dipastikan agar ruang media menjadi ruang yang mencerahkan masyarakat dan mendinginkan suasana. Perlu dijaga agar ruang media tidak menjadi sarana provokasi dan pecah-belah masyarakat. Para wartawan berada digaris depan dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan, dengan senantiasa menampilkan pemberitaan yang berkualitas, obyektif dan independen. Pers tidak boleh terseret dalam perkubuan politik dan selalu berada di tengah-tengah untuk mendampingi masyarakat di kala suasana politik semakin menghangat,” harapnya.

Dan yang tidak kalah penting adalah peranan netizen atau generasi millenial. Generasi Millenial menjadi faktor penentu kualitas demokrasi kita ke depan. Generasi millenial adalah penerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

Kepada mereka, perlu digelorakan gerakan bijak berinternet dan bermartabat dalam bermedia sosial. Mereka perlu menunjukkan karakter  generasi penerus bangsa yang santun dan penuh bertanggung jawab, termasuk ketika di ruang media sosial. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya, media sosial berperan memperkeruh keadaan.

“Kalau kita perhatikan medis social bukannya menyatukan masyarakat dalam forum dialog yang dewasa, guyup, saling menghormati, media sosial justru menciptakan kantong-kantong ideologi yang berhadap-hadapan dan senantiasa siap untuk saling mencela dan menjatuhkan,” tegasnya.

Karenanya, Agus berharap, pada tahun politik ini, pers nasional menjadi bagian dari solusi, dan bukan sebaliknya menjadi bagian dari masalah. Bangsa ini membutuhkan pers yang menjadi penjaga keutuhan nasional dan mampu mengondisikan bertemunya pihak-pihak yang bersengketa. Di saat yang sama, seluruh anak-bangsa yang menjadikan media sosial sebagai mode komunikasi dan interaksi sosial, seyogyanya senantiasa berpijak pada etika dan kepantasan ruang publik.

“Di tengah-tengah persoalan hoax, fakenews dan ujaran kebencian, perlu kiranya semua netizensenantiasa menjalankan media sosial dengan sikap bertanggung-jawab dan peduli terhadap sesame,” tandasnya. rum