Maju Satu Langkah. Baliho Gus Muhdlor mulai terang-terangan. Siapa menyusul? (FT/MKY)

SIDOARJO | duta.co – Belum muncul lawan signifikan. Sampai hari ini, Rabu (27/11/20129) baliho Gus Muhdlor masih tampak sendiri. Puluhan baliho itu sudah terpasang di pinggir jalan, pinggir kali sepanjang Kecamatan Krian menuju Taman, Sidoarjo. Taglinenya ‘menantang’: HARAPAN BARU SIDOARJO MAJU.

Baliho Gus Muhdlor ini menggunakan background foto Gus Ali. Di bawahnya tertulis jelas: PUTRA KH AGOES ALI MASYHURI. Pesannya cukup singkat, padat dan mudah dipahami. Bahwa, putra Gus Ali ini, siap maju sebagai Sidoarjo-1.

Berbeda dengan baliho sebelumnya, Gus Muhdlor masih menuliskan nama lengkapnya, AHMAD MUHDLOR ALI dengan jabatan Direktur Pendidikan Sekolah Progesif Bumi Shalawat. Kali ini lebih jelas. “Ini Jagoku! Mana Jagomu!” demikian disampaikan santri Gus Ali kepada duta.co, Rabu (27/11/2019).

Gus Muhdlor tidak salah memasang foto Gus Ali, sang Bapak. Sebab, santri Gus Ali bisa dijumpai hampir setiap desa, bahkan RT. Ini pula yang membuat nama Gus Muhdlor semakin moncer. Tidak heran, kalau dia juga dilirik sejumlah partai-partai lain, seperti PDI-P.

Lawan yang Seimbang

Dunia politik memang tidak ‘hitam putih’. Kalau hari ini belum muncul lawan tading Gus Muhdlor, itu bukan berarti sepi alias tidak ada lawan. Sejumlah nama sesungguhnya sudah menjadi bahan rasan-rasan publik. Ada Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin yang belum mengambil sikap resmi, apakah mau maju kembali dalam Pilkada Sidoarjo 2020.

“Saya mendapat kabar Cak Nur (panggilan akrab Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin red.) belum akan maju. Cak Nur sendiri sekarang dalam ‘pengawasan’ politik. Yang sudah jelas muncul, adalah Bambang Haryo, Haidar Assegaf sebagai Bacawabup, Ambudi dan Agung Sudiyono. Mereka muncul dari Partai Gerindra,” demikian sumber duta.co yang masih enggan disebut namanya.

Di sisi lain, masih banyak kader-kader hebat NU di Sidoarjo yang berada di luar ring PKB. Mereka ini dulu juga ikut membesarkan PKB. Tetapi, karena konflik kepentingan di tubuh partai, mereka terpental, dan harus berjuang di luar partai. “Mereka juga melakukan konsolidasi, belum jelas, ke mana jatuh pilihan politiknya,” tambahnya.

Yang sudah jelas, keinginan tokoh-tokoh NU agar Bupati dan Wakilnya dari kader tulen NU. Bukan kader karbitan yang hanya menjadi panggung kekuasaan. Sejumlah tokoh NU, diinisiatori mantan Sekretaris PWNU Jatim KH Drs Fuad Anwar MSi telah menggelar pertemuan di Ponpes Jati Agung Al Qadir, Wage Taman Wage, Taman Sidoarjo, Jumat (22/11) malam.

Selain Ki Fuad (tuan rumah) , hadir Sudarsono (mantan ketua PW IPNU Jatim), HM Husin (Dewan Khos Pagar Nusa), Gus Malik (tokoh NU Cemengkalang) dan KH Abdul Hamid Kaseng (salah satu pendiri IAI Al Khoziny).

Para tokoh NU ini prihatin, dalam sepuluh tahun terakhir, Kabupaten Sidoarjo terkesan jalan di tempat. Tidak ada progres kemajuan berarti. “Kami ingin punya bupati yang benar sesuai dengan harapan warga Sidoarjo. NU tulen, benar–benar NU dari bawah,” tegas Kiai Fuad Anwar kepada duta.co, Sabtu (23/11). Nah? Kita tunggu! (mha)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry