By Isfandiari MD

JENGKEL, miris dan tak habis pikir. Bagaimana bisa, keseharian kita dijejali hal-hal receh di berbagai bidang. Di dunia spiritual, banyak terjejal narasi-narasi zonder manfaat, kisah-kisah ajaib yang dikarang-karang, hiperbolis. Masih lekat dalam ingatan, hadirnya rantai emas dari langit, pesawat mundur, jubah yang bisa bicara,  manusia terbang karena karomah gurunya dan  selaksa sampah narasi lainnya.

Semua itu keluar di mimbar-mimbar yang ditonton banyak orang. Disampaikan orang yang kelihatannya alim dan cocok jadi ulama. Apa khadirin terpukau, percaya? Orang waras tak mungkin kagum. Mereka kecewa begitu murahnya koar-koar demi popularitas. Gawatnya lagi, ini jaman digital. Kisah ‘bocor’ di platform medsos dan mempermalukan. Siapa yang rugi? Otak kita yang rugi, tercemar,  overload  dan kehilangan fungsi idealnya.

Dunia pendidikan umum juga begitu. Polah laku pendidik banyak antiproduktif! Aksi guru memotong celana siswa karena kepanjangan di depan umum, hukuman  rambut kepanjangan  atau mengecat rambut menyalahi aturan. Siswa yang suka detail penampilan dengan parfum atau alat kecantikan dirazia dan seterusnya. Semua itu layak di evaluasi karena jaman sudah berubah, gen z, alfa dan nanti yang termuda sudah tidak lagi intens pada soal-soal beginian. Mereka insan yang berbeda dari jaman sebelumnya musababnya informasi yang sudah terbuka lebar dari berbagai arah.

Jadi apa yang harusnya dibenahi? Berikan mereka contoh, role model dan cara berpikir yang hasilnya kreativitas. Kembangkan komunikasi dialogis intens, biarkan mereka berkembang secara mental – spiritual dan ajarkan prioritas berpikir sistematis dan struktural buat bekal mereka yang katanya manggung sebagai generasi emas 2045.

Kenapa penting? Karena pola berpikir dan bertindak banyak yang sudah cemar. Tabrakan KA di Bekasi, dikomentari ibu  mentri  secara absurd : gerbong  perempuan sebaiknya di tengah. Jalan rusak gubernur malah berpikir membeli mobil offroad supermewah. 

Penjelasan anggota DPRD Jember Achmad Syahri   yang udud dan main games di Jember ‘ngeles’ karena Sapi Virtualnya belum dikasih makan. Katanya,  “Saya sebagai anak muda juga banyak kekurangan…” Dan seterusnya. Pasti ada yang salah dengan mentalnya, jauh dari marwah seorang anggota DPRD , ini bukan soal muda-tua.

Issue-issue lingkungan tak jauh beda. Contoh, sungai tercemar berat langsung disalahkan ikan sapu-sapu  (loricariidae) sebagai biang keroknya. Pahahal pakar lingkungan bilang, spesies invasif seperti ikan sapu-sapu adalah indikator jujur atas pencemaran air. Kata mereka, musababnya karena hilangnya vegetasi riparian, sedimentasi dan carut marut tata ruang. Fenomena ini  ditilik dari kajian ilmiah yakni aksi ekologi lewat langkah konkret restorasi sungai, penguatan tata kelola DAS, edukasi publik, urgensi sinergi antara gerakan sipil (LSM/NGO), kalangan kampus (akademisi) juga aksi teritorial dan penegakan hukum (TNI-POLRI). Syukurlah untuk soal ini terjadi pertemuan intens Jumat,22 Mei lalu.

Hadir para pakar, Prof. Manneke Budiman,Ph.D, Endra Saleh Atmawijaya (Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia), pendiri RIMBA-Relawan Indonesia Pembela alam, Letjen TNI.Dr.Mohammad Hasan,S.H,M.H, Nanang Asfarinal (direktur eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia) dan   E.T Hadi Saputra (Pakar Konstitusi dan Hukum Adat). Sebuah kabar baik mencerahkan, sebuah issue dievaluasi secara ilmiah dan jadi pembelajaran penting. Ini yang diperlukan kita dan moga semakin intens dan memperkaya wawasan.

Kajian mereka luarbiasa manfaat. Di moment itu diangkat tema Menyongsong Fajar Ekologis. Bebuka acara sequel teatrikal tentang lingkungan, pertunjukan seni dengan performance art. Selanjutnya hadirin diajak berpikir jernih, Nanang Asfarinal sang kandidat doktor di FIB bagikan pengalan nyata soal pemulihan sungai,”ketika sungai sekarat itulah tanda nyata mundurnya martabat peradaban bangsa kita.” E.T  Hadisaputra, penulis buku termasuk karya bagus Magnus Opus-Etika Konstitusi memberikan kuncian penting-Solusi dari keresahan ekologis seluruh generasi sejatinya memiliki dasar yang sangat kuat dalam etika konstitusi negara, yang harusnya jadi sandaran utama dalam membuat perlindungan hukum bagi alam, tegas dan berwibawa. Letjen Mohammad Hasan punya sepak terjang fenomenal dalam kelestarian alam.

Tanpa anggaran negara, ia dan 1500 relawan menginisasi gerakan adat dan ekologi bertajuk Ngalokat Sirah Cai Ciliwung, mereka membuka kembali-revitalisasi telaga yang menampung 5 juta kubik air dan berkembang jadi desa wisata  lestari. Katanya, krisis banjir di hilir karena prilaku destruktif manusia di hulu. Seperti alih fungsu lahan, hilangnya 150 telaga akibat real estate zona Bogor. Jadi bukan karena ikan sapu-sapu! Paparannya di tanggapi Nanang,”inilah esensi sejati dari hukum adat yang hidup (living law). Saat hukum negara masih tertidur manyusun dokumen anggaran, rakyat dan kearifan lokal di hulu sudah bergerak memulihkan hak alam.

Negara berhutang budi pada keteguhan nurani seperti iti.” Sinta Ridwan, arkeolog FIB UI, memba cakan  prasasti Sanghyang Tapak dari abad ke-11 peninggalan raja Sunda Sri Jaya Bupati Sukabumi. Ini pesan raja adalah betapa tingginya kesakralan leluhur Nusantara dalam merawat peradaban sungai yang menentukan masa depan ekologi  generasi berikutnya.

Bambang M. Djaja, ahli spasial Sekolah Ilmu Lingkungan UI  mengkritisi lemahnya program pemerintah saat ini. Kordinasi antarinstansi berjalan sendiri-sendiri. Kalangan akademisi menawarkan bantuan membangun sistem data Daeral Aliran Sungai (DAS) secara konprehensif demi masa depan tata ruang yang lebih baik. Abdul Kodir dari komunitas Ciliwung-Condet membeberkan fakta rusaknya eskositem sungai, salah satu indikatornya ikan endemik di sana hanya tersisa 8 persen saja, ia berharap pemerintah serius akan hal ini dengan menghentikan betonisasi yang merusak fungs alami sungai dan kerap mengabaikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Rasanto Adi, pakar geografi UI menekankan pentingnya memperluas Hutan Kota untuk mencegak abrasi dan cadangan air tanah. Tak kalah menarik masukan Bambang Asrini (kurator seni dan pemerhati budaya), intinya perjuangan ekologis tak akan mendapatkan tempat di hati khalayak jika disampaikan secara kaku, deretan angka statistik. Harus disampaikan secara estetis melalui seni yang menyentuh palung-palung empati manusia. Kebudayaan dan ekspresi estetika harus jadi garda terdepan memulihkan kepekaan masyarakat.

Masukan Bambang sangat relate dengan apa yang terjadi sekarang. Info zonder manfaat, kisah-kisah ajaib yang ngawur, cara berpikir bengkok dan tidak urgent, polah tokoh dan pejabat absurd segera diperangi dengan konten digital ber-nas.  Issue lingkungan yang urgent sebagai keresahan para pakar harusnya jadi ‘makanan’ paling catchy para pemerhati seni-budaya termasuk konten kreator dengan mengemasnya jadi karya seni renyah tersebar masif. Penggiat audio visual, konten kreator, buzzer sampai white hat hacker sudah saatnya naik ke permukaan, lebih militan membangun kembali peradaban Nusantara yang siap beralih generasi. Belum terlambat dan sudah saatnya! (*)