Oleh Fahmi Arif El Muniry*

DI tengah berkembangnya gagasan kebebasan berpendapat dan demokrasi modern, salah satu konsep yang paling sering disalahpahami dalam kehidupan pesantren adalah sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami taat. Ungkapan ini kadang dipahami sebagai simbol kepatuhan yang berlebihan. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa budaya pesantren membuat santri takut berbeda pendapat, enggan mengkritik, dan lebih memilih mengikuti daripada berpikir.

Pandangan tersebut muncul karena sami’na wa atha’na sering dipahami hanya dari bunyi katanya, bukan dari praktik sosial dan tradisi intelektual yang hidup di pesantren. Padahal, dalam kehidupan pesantren, konsep ini bukanlah ajaran untuk mematikan akal. Sebaliknya, ia merupakan metode pendidikan untuk membentuk kedewasaan berpikir.

Di pesantren, seorang santri pertama-tama diajarkan untuk mendengar. Ia mendengar pengajian kiai, membaca kitab para ulama, mempelajari berbagai pendapat, dan memahami alasan di balik setiap pandangan. Mendengar dalam konteks ini bukan sekadar aktivitas fisik menggunakan telinga, melainkan proses intelektual untuk memahami sesuatu secara utuh sebelum memberikan penilaian.

Karena itu, sami’na wa atha’na lebih dekat dengan makna tentang belajar sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan menguasai persoalan sebelum mengambil kesimpulan. Kepatuhan yang dibangun bukanlah kepatuhan buta kepada seseorang, melainkan kepatuhan kepada proses belajar dan pencarian ilmu.

Nilai ini memiliki kemiripan yang kuat dengan kebijaksanaan leluhur Jawa. Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa; jangan merasa paling bisa, tetapi belajarlah memiliki kesadaran diri. Ada pula ajaran andhap asor, yaitu kerendahan hati yang membuat seseorang selalu terbuka untuk menerima pengetahuan baru.

Dalam tradisi Jawa, orang yang bijaksana bukanlah orang yang paling banyak berbicara, melainkan orang yang paling matang pertimbangannya. Karena itu, kemampuan mendengar selalu dipandang sebagai bagian dari kedewasaan. Seseorang yang terlalu cepat berbicara sering dianggap belum selesai memahami persoalan.

Mendengar sebagai Jalan Kebijaksanaan

Pesantren tumbuh dan berkembang di tengah kebudayaan Nusantara yang menghargai kebijaksanaan semacam itu. Maka tidak mengherankan jika tradisi pesantren menempatkan mendengar sebagai langkah awal dalam proses belajar. Bukan karena santri tidak boleh berbicara, melainkan karena mereka diajarkan bahwa ilmu membutuhkan kesabaran.

Menariknya, pandangan ini juga memiliki landasan dalam teori politik modern. John Stuart Mill dalam On Liberty (1859) menjelaskan bahwa kebenaran tidak lahir dari keyakinan sepihak. Menurut Mill, seseorang hanya dapat memahami sebuah pendapat secara mendalam apabila ia juga bersedia mendengar pendapat yang berbeda. Bahkan ketika seseorang yakin bahwa dirinya benar, ia tetap membutuhkan pandangan lain agar pemahamannya tidak berubah menjadi dogma.

Apa yang dijelaskan Mill sesungguhnya dekat dengan kehidupan intelektual pesantren. Seorang santri tidak hanya belajar satu pendapat. Ia membaca berbagai pandangan ulama, mempelajari argumentasi yang berbeda, dan memahami mengapa para ulama bisa sampai pada kesimpulan yang tidak selalu sama. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa ilmu berkembang melalui dialog, bukan melalui penutupan diri.

Pandangan serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran Hannah Arendt melalui The Human Condition (1958). Arendt menjelaskan bahwa kehidupan publik yang sehat membutuhkan kemampuan melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Kemampuan tersebut hanya mungkin lahir apabila seseorang memiliki kesediaan untuk mendengar.

Dalam kehidupan pesantren, kemampuan mendengar itu kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai tradisi keilmuan. Setelah mengikuti pengajian, santri berdiskusi dalam musyawarah, mengikuti bahtsul masail, dan mengkaji berbagai persoalan melalui rujukan kitab. Mereka tidak hanya diminta menerima pendapat, tetapi juga memahami dasar argumentasi yang melatarbelakanginya.

Bahkan banyak orang tidak menyadari bahwa pesantren sejak lama mengajarkan ilmu logika. Pada tingkat dasar, santri mempelajari Sullam al-Munawraq fi ’Ilm al-Mantiq karya Imam Al-Akhdari. Kitab ini tidak mengajarkan apa yang harus dipikirkan, melainkan bagaimana cara berpikir yang benar. Santri diperkenalkan pada cara menyusun definisi, memahami proposisi, dan membedakan antara argumentasi yang kuat dan yang lemah.

Keberadaan ilmu mantiq menunjukkan bahwa tradisi pesantren sesungguhnya tidak dibangun di atas kepatuhan tanpa nalar. Justru sebaliknya, pesantren berusaha mempertemukan adab dan akal dalam satu proses pendidikan. Adab mengajarkan kerendahan hati untuk mendengar, sementara logika mengajarkan kemampuan untuk berpikir secara sistematis.

Pengamatan Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (1999) menunjukkan bahwa pesantren merupakan pusat transmisi ilmu yang bertumpu pada kajian teks dan dialog keilmuan. Sementara Ronald A. Lukens-Bull dalam A Peaceful Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java (2005) menemukan bahwa pesantren membentuk pribadi yang mampu memadukan tradisi, moralitas, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Karena itu, sami’na wa atha’na tidak tepat dipahami sebagai semboyan yang membatasi kebebasan berpikir. Ia adalah metode pendidikan yang mengajarkan bahwa kebebasan memerlukan kedewasaan. Sebelum berbicara, seseorang perlu mendengar. Sebelum mengkritik, seseorang perlu memahami. Sebelum mengambil keputusan, seseorang perlu mempertimbangkan berbagai pandangan.

Pada akhirnya, pesantren tidak sedang mencetak manusia yang takut berpendapat. Pesantren sedang membentuk manusia yang menyadari bahwa setiap pendapat memiliki tanggung jawab. Dari mendengar lahir pemahaman, dari pemahaman lahir kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan lahirlah kemampuan untuk berpikir, berbicara, dan bertindak secara tepat. Dalam pengertian itulah sami’na wa atha’na menjadi jalan pendidikan yang membebaskan akal, bukan membelenggunya. Wallahu a’lamu.

*Fahmi Arif El Muniry adalah Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry