PONTIANAK | duta.co – Dalam rangka merawat dan meneguhkan nilai-nilai Pancasila di kalangan milenial, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalimantan Barat menggelar seminar dengan tema “Pancasila dalam Perbincangan Anak Muda dan Mantan Narapidana Terorisme” Minggu (19/6/2022) di Aula Sekretariat FKUB Kalbar.

Hadir dalam kegiatan ini Ketua FKUB Kalbar, Dr. Ismail Ruslan, M.Si, perwakilan Satgas Wilayah Densus 88 Erlan, Mantan Narapidana Terorisme Rosnazizi, Akademisi IAIN Pontianak Dr. Ridwan Rosdiawan, MA, serta Novianto, S.Pd selaku pegiat Media Sosial.

Dalam sambutannya, Dr. Ismail Ruslan, M.Si menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah rangkaian dari berbagai kegiatan menyongsong pencanangan Tahun Toleransi 2022 di Kalbar.

Menurutnya, tema-tema kerukunann dan Pancasila tidak hanya menjadi concern pemerintah baik pusat dan daerah, tapi perlu juga disuarakan oleh barbagai kelompok sosial masyarakat dan pemuda yang ada di Kalbar. Apalagi faktanya banyak bermunculan berbagai kelompok yang mengganggu ketenteraman dan kenyamanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Hari ini kita berharap kalangan anak muda juga turut serta menjadi bagian dari kegiatan ini. Salah satunya adalah melalui ikhtiar lomba Video Tiktok dan Reels Instragram yang menyuarakan nilai-nilai Pancasila dan kerukunan. Mudah-mudahan kontribusi kecil ini dapat terus menguatkan nilai-nilai Pancasila khususnya dikalangan anak muda yang seringkali menjadi sasaran cuci otak kelompok-kelompok intoleran dan anti kerukunan”, ujar Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak ini.

Dalam paparannya, Rosnazizi menceritakan sedikit pengalamannya terlibat kelompok-kelompok ekstrem ini yang ia dapat secara individu dan pelajari secara otodidak.

Saya mendapatkan pemahaman Radikal ekstrem itu secara otodidak dengan membaca teks-teks Quran yang memuat beberapa ayat tentang Hukum Allah yang ternyata bertentangan dengan praktik hukum yang ada sat ini menurut pemahaman saya kala itu”, ujarnya.

Lambat laun dirinya kemudian menemukan berbagai kelompok ekstrem seperti Islamic States of Iraq and Syam serta kelompok-kelompok ekstrem lainnya yang memiliki pemahaman yang sama dengan yang ia pahami kala itu. Ia yang sempat berencana berangkat untuk bergabung bersama para mujahidin di Suriah ini tertangkap Tim densus 88 Anti Teror Mabes Polri dan kemudian merubah segala pola hidup dan cara pandangnya dalam memahami agama selama ini.

“Ketika saya didalam penjara, saya baru sadar bahwa pemahaman agama yang selama ini saya pahami ternyata salah. Inilah mungkin cara Allah SWT mendidik saya sehingga dapat kembali pada jalan yang sesuai dengan keinginan Allah SWT. Saat didalam penjara saya kembali membaca dan memahami teks-teks Quran dan banyak berdiskusi dengan berbagai pihak tentang pemahaman yang selama ini saya yakini. Disitu saya mendapatkan pencerahan atas pemahaman keagamaan yang diyakini selama ini”, jelasnya.

Menurut Rosnazizi, salah satu penyebab mengapa dirinya meyakini pemahaman yang salah adalah karena ketidaktahuaannya. Dirinya mencontohkan awalnya ia salah dalam memahami Pancasila padahal setelah dipelajari ternyata Pancasila merupakan hasil kesepakatan para Ulama dan pendiri bangsa ini.

Dirinya mengajak para pemuda untuk terus mempelajari agama secara lebih mendalam, berguru kepada orang yang memang alim, agar tidak terjebak dengan berbagai pemahaman ekstrem. Dirinya mencontohkan ketika memahami Quran harus mempertimbangkan berbagai perbedaan tafsir yang ditulis oleh para ulama dalam membantu memahami isi kandungan al-Quran.

Novianto S.Pd selaku pegiat media sosial mengungkapkan bahwa terjadi trend yang cukup signifikan pertumbuhan pengguna media sosial berbasis smartphone di Indonesia yang semakin tahun semakin meningkat.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa kecenderungan pengguna internet termasuk di kalangan generasi muda lebih banyak dilakukan untuk mencari informasi maupun ide-ide baru termasuk di dalamnya tentang informasi keagamaan.

Ia menyampaikan bahwa perlu ada filter atau penyaring saat berinteraksi dan menggunakan informasi yang ada diinternet. Karena menurutnya internet merupakan sungai besar yang juga memuat limbah beracun didalamnya seperti maraknya konten ujaran kebencian dan anti Pancasila.

“Selain mewaspadai dan melokalisir berbagai konten negatif yang beredar di internet, para pemuda hendaknya turut aktif membanjiri jagat internet dengan berbagai konten positif semisal aktif menyebarkan konten bermuatan nilai-nilai Pancasila, serta mensupport berbagai akun yang menyebarkan konten positif seperti salah satunya akun yang dikelola oleh FKUB Kalbar”, ujarnya.

Dr. Ridwan Rosdiawan, MA menyampaikan salah satu penyebab menyebarnya pemahaman ekstrem dikalangan pemuda adalah karena kalangan pemuda sendiri masih terjebak pada pemahaman-pemahaman yang serba harus memilih (binary) antara satu hal dengan hal lain, yang berbeda dari aku adalah lawan.

“Salah satu contohnya adalah kita sering dihadapkan pada pilihan untuk memilih antara Pancasila dan Islam. Cara pandang biner ini seringkali memandang keberadaan kita sebagai lawan dari keberadaan orang lain. Hal ini termasuk juga ketika memandang berbagai idologi, konsep, dan sebagainya. Pendekatan binary ini kemudian menjadi alat untuk melakukan cuci otak oleh kelompok-kelompok ekstrem dan anti Pancasila ini”, ujar Akademisi IAIN Pontianak.

Menurutnya, pemuda hendaknya memiliki pola pemikiran yang utuh dalam mengintegrasikan sebuah konsep dalam bangunan yang utuh pula.

Ia juga mengaskan bahwa Pancasila sudah teruji setidaknya dalam 3 fase sejarah yakni Pertama, ketika peristiwa Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kedua di era orde baru, dan Ketiga, saat era reformasi.

Dirinya juga menegaskan pada dasarnya Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia yang asli itu mengerucut pada 3 nilai utama yakni ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan yang kemudian menjadi ciri kepribadian bangsa jauh sebelum deklarasi hak asasi manusia yang menjadi dasar berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurutnya, Pancasila ini merupakan kesepakatan yang terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika membuat kesepakatan yang sama dalam bentuk konsensus Piagam Madinah dengan berbagai kabilah yang ada saat itu. Inilah yang menyebabkan ketika Pancasila diterapkan menjadi konsensus bangsa Indonesia maka bangsa Indonesia itu tidak mudah dipecah belah.

Ia mengajak para pemuda dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila adalah dimulai dengan merubah mindset dari pola pikir binary menuju pola pikir yang lebih komprehensif.

Kegiatan seminar ini juga dirangkai dengan pengumuman pemenang lomba Tiktok dan Reels Instagram yang telah dilaksanakan FKUB Kalbar beberapa waktu yang lalu. (*)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry