Khotbah Jumat

Tahun baru 2017 sudah di depan mata. Marilah kita menyesali terlebih dahulu, berbagai kesalahan yang kita lakukan, maupun berbagai kebaikan yang belum sempat kita kerjakan. Karenanya, jadikan tahun baru menjadi ajang intropeksi diri untuk menjadi lebih baik.

Berangkat dari penyesalan itulah kita bangun harapan setinggi-tingginya, harapan untuk mengurangi kesalahan dan menambah berbagai amal kebaikan.

Oleh karena itu janganlah sampai kita menjadi orang yang merugi. Orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Kita harus optimis bahwa hari ini lebih baik dari hari kemarin dan besok akan lebih baik dari pada hari ini.

Marilah dalam menyongsong tahun baru ini kita bersama-sama membulatkan sekuat tenaga saling menjaga diri, dan jiwa kita agar tetap berada di jalan Ilahi. Ada baiknya penjagaan ini kita lakukan secara kolektif. Bukankah keamanan akan semakin mudah tercapai jika penjagaan itu dilakukan bersama-sama?

Artinya, penjagaan diri dari berbagai kesalahan dan dosa alangkah baiknya jika kita lakukan bersama, dengan cara saling mengingatkan. Andaikan ada salah pada diri saya mohonlah ingatkan saya, dan jika saya mengingatkan anda janganlah anda tersinggung. Insyaallah saya juga tidak tersinggung bila diingatkan. Karena hanya mereka yang mau saling mengingatkanlah yang akan mendapatkan keuntungan.

Dalam surat al-Ashr dapat kita petik pelajaran. Di ayat pertama menegaskan “Demi masa” marilah dalam tahun baru nanti kita mulai kesepakatan baru untuk saling mengingatkan dan menasihati. Jika benar kesepakatan ini telah kita tanamkan bersama di dalam hati, Insyaallah ke depan hidup kita dapat terkontrol.

Meski demikian, tidak berarti kita menggantungkan penjagaan diri kita seratus persen dengan orang lain. Dengan harapan mereka menegur kita ketika kita melakuka kesalahan, tidak. Demikian itu juga kurang bijak adanya. Baiknya kita sendiri harus mau menerima nasihat dari hati kecil kita. Harus rela menerima nilai yang diberikan oleh hati kecil kita.

Ketika hati kecil itu berkata ‘ini buruk’, kita harus menghormati keputusan itu segera mengurungkan niat tersebut. Begitu juga sebaliknya. Jika hati kita mengatakan “ini baik”, segeralah kita lakukan walaupaun dalam keterpaksaan. Karena hati kecil selalu mengatakan kemurnian dan disitulah tempat tumbuhnya nilai universal.

Karena itu al-Ghazali berkata: “Mintalah fatwa hati kecilmu walaupun mereka (orang lain) telah menasihatimu, menasehatimu dan menasehatimu.”

Lantas bagaimana praktiknya mempermudah penjagaan diri itu? Mungkin kisah yang dihadirkan oleh Ma’ruf Al-Karkhi berikut ini bisa menjadi bahan renungan mengukur diri secara bertahap.

Ma’ruf al-Karhi berkata, bahwa manusia itu seringkali orang-orang mengakui tiga hal, tetapi sesering itu pula mereka menyalahinya. Pertama, mereka mengaku sebagai hamba Allah, tetapi kelakukannya sangat tercela.

Marilah kita raba diri kita bersama, apakah kita termasuk di dalamnya? Kalau tahun kemaren kita akui termasuk di dalam golongan ini. Marilah kita berjanji akan segera keluar dari kelompok ini dan menjadi orang yang benar-benar ‘abidullah’.

Kedua, mereka menegaskan bahwa Allahlah yang mencukupi kehidupannya, tetapi perhatian dan hati mereka terborgol dengan keduniawian.

Nah inilah yang kedua saudara. Betapa berat kita tidak mengakuinya. Namun demikian, kita wajib berusaha melatih diri untuk meninggalkan kelompok ini. Dan setahap demi setahap belajar menyandarkan kehidupan ini kepada Allah Yang Maha Kaya. Latihan itu dapat kita awali dengan hal-hal yang ringan semenjak bangun tidur. Misalkan semenjak mata melek hindari berpikir mengenai bendawi.

Biasakan bertanya terlebih dahulu kepada istri sudah shalat subuh belum, lalu kepada anak sudah subuh belum. Lalu membaca al-qur’an semampunya, baru kita melakukan aktifitas segalanya. Itu adalah langkah terkecil yang dapat dikembangkan oleh masing-masing pribadi sesuai keadaannya.

Ketiga, mereka mengetahui bahwa kematian itu pasti, tetapi mereka bekerja seolah-olah akan hidup selamanya.

Jika kita berhasil keluar dari da golongan di atas, insyaallah langkah terakhir ini akan terasa lebih mudah. Minimal apa yang pernah terjadi pada Nabi Ya’kub as. ini akan menjadi teladan bagi kita semua.

Dikisahkan dalam Irsyadul Ibad bahwa Nabi Ya’kub as. sedang asyik berbincang dengan Malaikat Maut. Diantara perbincangan itu membahas mengenai kematian. Dengan nada santai Nabi Ya’kub berkata “aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabariku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti. “Gimana caranya?” Tanya Malaikat Maut. “Ya gampanglah, masak gitu aja bingung, kirim surat atau kirim utusan kan bisa!” jawab Nabi Ya’kub. Malaikat Mautpun menjawab “oke… nanti akan ku kirimkan  kepadamu dua atau tiga kabar”

Selang beberapa lama datanglah kemudian Malaikat Maut menemui Nabi Ya’kub as. Sambil menyapa sekaligus bertanyalah Nabi Ya’kub “kali ini kamu kesini mau mejemput ajalku, atau sekedar bertamu seperti biasanya?”. “Ya mencabut nyawa” jawaban singkat Malaikat maut. “lho bukankah aku pernah memesanmu untuk mengingatkanku sebelum kau mencabut nyawaku”? tuntut Nabi Ya’kub. “Udah, Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga; pertama  rambutmu yang mulai memutih, dua badanmu yang mulai melemah dan ketiga badanmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang ku kirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka.

Begitulah sejatinya Allah telah memberikan peringatan kepada segenap manusia akan datangnya kematian, akan tetapi manusia lebih suka berpura-pura melupakannya. Semoga Khotbah Jumat ini membawa manfaat bagi kita semua. Amin. * sir, nuo

Tinggalkan Balasan