SURABAYA | duta.co – Setelah ada Bulan Bung Karno, kini digagas Bulan Pak Harto. Adalah Jamaah Dzikir Nurul Wathan (NW) al-Hambalangi wal Khittah Indonesia yang ingin menyatukan sejarah perjuangan Presiden Republik Indonesia Pertama (Ir Soekarno) sampai Presiden RI Ke-8, Prabowo Subianto.

“Kita harus pakai falsafah Pak Harto, Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Artinya sebagai manusia para presiden republik ini, tidak luput dari salah. Tetapi kontribusi dalam perjuangan bangsa, NKRI, sungguh patut kita kenang bersama,” demikian disampaikan KH Mukhlas Syarkun, Ketu Umum Jamaah Dzikir Nurul Wathan (NW) al-Hambalangi kepada duta.co, Jumat (30/5/25).

Cak Mukhlas, demikian ia akrab dipanggil, menegaskan, bahwa, mulai tanggal 8 Juni, seluruh jamaah dzikir NW akan menggelar berbagai acara. Puncaknya di Astana Giribangun. Tanggal 8 Juni itu, karena merupakan kelahiran Pak Harto.

“Kita deklarasikan sebagai Bulan Pak Harto. Menyambung Bulan Bung Karno. Lalu, kita doakan seluruh pejuang dan pemimpin bangsa, agar negeri ini gemah ripah loh jinawi, toto, tentrem kerto raharjo. Artinya tertib, tentram, sejahtera, dan berkecukupan dalam segala hal,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan KH Syuthi Thoha, Mursyidul Aam Jamaah Dzikir NW. Ia mengajak jamaah untuk memegang teguh falsafah hidup HM Soeharto, notabene Presiden Kedua Republik Indonesia. Salah satu falsafah hidup yang sering disampaikan Pak Harto adalah ‘Mikul Dhuwur Mendhem Jero’.

“Ini harus menjadi landasan bangsa kita (Indonesia) untuk maju ke depan. Jamaah dzikir Nurul Wathon akan menggelar dzikir bersama di sarehan beliau,” demikian disampaikan KH Suyuthi Thoha, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, Tegaldlimo, Banyuwangi .

Menurut Kiai Suyuthi, Pak Harto memiliki jasa besar yang tak terlupakan. Ia teringat sebuah peristiwa, usai gelar muktamar ke-27 NU di Situbondo (1984). Saat itu, Pak Harto melakukan penyederhaan partai, kemudian menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal. Pak Harto pernah menghajikan 40 kiai, membangunan ribuan masjid.

“Masih terngiang di teliga saya. Saat almaghfurlah Kiai As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo — sekaligus tuan rumah Muktamar NU — bertanya kepada Pak Harto: Republik Indonesia ini mau dibawa ke mana? Jawab Pak Harto singkat: Menuju qul huwallahu ahad,” kata Kiai Suyuthi.

Di sektor pendidikan, tegasnya, Pak Harto sudah mempondasi dengan lahirnya ribuan SD Inpres. “Ada yang bilang, andai tidak ada SD Inpres bisa jadi buta huruf sekarang. Ini sangat penting. Rasanya perlu disematkan kalimat minadhulumati ilannur. Dengan sekolah-sekolah itu bangsa ini bisa tertuntun dari kegelapan menuju cahaya Allah swt.,” tegas KH Suyuthi sambil berharap pada era Presiden Prabowo ini bisa menjadi momentum kebangkitan kedua RI. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry