Terdakwa Dwi Handoko saat jalani sidang vonis di PN Surabaya, Selasa (9/8/2018). (DUTA.CO/Henoch Kurniawan)

SURABAYA | duta.co — Terdakwa Dwi Handoko (43) divonis berat oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang diketuai Hisbullah. Terdakwa yang mengaku mahasiswa ini dinyatakan terbukti bersalah telah melakukan penistaan agama dengan menyamakan Allah dengan Dajjal.

“Menjatuhkan hukuman penjara selama dua tahun serta denda sebesar Rp 500 ribu subsider enam bulan kurungan,” ujar Hisbullah membacakan amar putusannya, Kamis (9/8/2018).

Oleh hakim, terdakwa dinyatakan terbukti melanggar pasal 45A ayat 2 UU RI nomor  19 tahun 2016, tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE). Mendengar vonis yang diterimanya, terdakwa hanya bisa menunduk lesu.

Vonis tersebut sama dengan tuntutan (conform) Jaksa Penunut Umum (JPU) Agung Rohaniawan pada sidang sebelumnya.

“Hal yang memberatkan hukuman terdakwa adalah tindakanya yang meresahkan masyarakat, meksi terdakwa sudah menyesali perbuatanya,” lanjut Hisbullah.

Sebelum menutup sidangnya, Hisbullah sempat bertanya apakah Handoko sudah menjalankan salat di dalam tahanan. Handoko menjawab jika ia sudah menunaikan salat meksi belum lima waktu. Namun jawaban itu membuat Hisbullah agak sedikit lega. Sebab dalam sidang sebelumnya, Handoko mengaku selama di lapas tak pernah salat karena pemamahan sekulernya.

“Dengan kasus ini semoga kamu bisa bersyukur, sebab kami bisa menyembah Allah,” pungkas Hisbullah.

Kemudian setelah Handoko berkonsultasi dengan kuasa hukumnya, ia menerima semua putusan hakim. Seperti diketahui sebelumnya, Handoko sempat diamankan anggota Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak setelah sejumlah umat muslim resah dengan aksinya.

Saat itu, Handoko kedapatan memposting poster di sejumlah akun medsosnya yang berisi tentang menyebut Allah sebagai Dajjal dan menganjurkan agar berhenti menyembah Allah. Akhirnya, postingan itu direspon umat muslim dan menganggap jika Handoko telah melakukan penistaan agama. (eno)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.