Oleh Bey Arifin*

FENOMENA kedekatan amaliah antara Habib Rizieq Shihab dan sebagian tradisi Nahdlatul Ulama (NU) sering memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: Apakah Habib Rizieq dan gerakan yang dibangunnya merupakan bagian dari tradisi NU?

Pertanyaan ini muncul karena secara kasat mata terdapat sejumlah irisan ritual keagamaan yang cukup kuat antara keduanya. Namun, jika dikaji lebih mendalam, kesamaan amaliah ternyata tidak otomatis melahirkan kesamaan manhaj, kultur gerakan, maupun orientasi sosial-keagamaan. Itulah mengapa Habib Rozieq Shihab juga bukan pengurus NU.

Dalam konteks ritual dan ekspresi keberagamaan, Habib Rizieq memang memiliki sejumlah kedekatan dengan tradisi Sunni tradisional sebagaimana berkembang di lingkungan pesantren NU. Tradisi pembacaan maulid Nabi, kecintaan kepada habaib dan ulama, ziarah kubur, majelis dzikir, ratib, hingga penggunaan mazhab Syafi’i merupakan titik irisan yang cukup nyata.

Dalam aspek ini, Habib Rizieq jelas berbeda dengan corak Salafi puritan yang cenderung menolak tradisi-tradisi tersebut sebagai bid’ah.
Karena itu, secara amaliah, sebagian masyarakat awam melihat adanya kemiripan antara kultur majelis Habib Rizieq dengan tradisi keagamaan warga NU. Apalagi dalam sejarah Islam Nusantara, tradisi penghormatan kepada habaib, pembacaan shalawat, dan penguatan spiritualitas memang telah lama menjadi bagian dari kultur Sunni pesantren.

Namun, berhenti pada kesamaan amaliah semata justru akan melahirkan pembacaan yang dangkal. Sebab, NU bukan hanya kumpulan ritual keagamaan, melainkan sebuah manhaj sosial-keagamaan yang memiliki fondasi epistemologis, metodologi dakwah, dan orientasi kebangsaan yang khas.

Di titik inilah perbedaan mendasar mulai terlihat. NU tumbuh melalui tradisi pesantren yang menekankan sanad keilmuan, moderasi, dakwah kultural, serta pendekatan sosial yang gradual. Karakter Aswaja An-Nahdliyah dibangun di atas prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (proporsional).

Karena itu, NU cenderung memilih pendekatan dialogis, kultural, dan edukatif dalam merespons problem sosial maupun keagamaan.

Sebaliknya, gerakan yang dipimpin Habib Rizieq lebih dikenal melalui mobilisasi massa, retorika politik yang keras, serta model amar ma’ruf nahi munkar yang konfrontatif. Dalam banyak momentum, pendekatan gerakan semacam ini justru memunculkan ketegangan sosial dan polarisasi politik di tengah masyarakat. Di sinilah banyak kalangan kiai NU melihat bahwa meskipun terdapat irisan amaliah, karakter gerakan Habib Rizieq tidak sepenuhnya sejalan dengan manhaj sosial-keagamaan NU.

Secara sosiologis, fenomena ini menunjukkan bahwa amaliah ritual tidak selalu identik dengan orientasi ideologis organisasi. Seseorang dapat mencintai maulid, tahlil, dan ziarah kubur tanpa harus menjadi bagian dari NU.

Sebaliknya, seseorang yang lahir dari keluarga NU pun belum tentu memiliki cara pandang sosial-keagamaan yang identik dengan manhaj Aswaja An-Nahdliyah.

Karena itu, memahami hubungan antara Habib Rizieq dan NU membutuhkan kedewasaan berpikir agar tidak terjebak pada simplifikasi “sama” atau “berbeda” secara hitam-putih. Dalam realitas Islam Indonesia, terdapat banyak kelompok yang memiliki irisan tradisi keagamaan, tetapi berbeda dalam metode gerakan, orientasi politik, dan pendekatan dakwah.

Di tengah meningkatnya fragmentasi umat Islam akibat polarisasi politik dan perang narasi digital, sikap yang lebih bijak adalah membangun tradisi dialog dan literasi keislaman yang sehat.

Perbedaan manhaj seharusnya tidak menjadi bahan permusuhan, tetapi justru menjadi ruang pembelajaran untuk memahami kekayaan corak Islam Indonesia.

Akhir kata, yang lebih penting bukan sekadar mempertanyakan “siapa paling NU”, melainkan bagaimana seluruh elemen umat Islam mampu menjaga adab, persatuan, dan kemaslahatan bangsa tanpa kehilangan prinsip-prinsip keilmuan dan tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama. Semoga mencerahkan

*Bey Arifin adalah Pengurus LKSPHK PRESNAS IKAPETE.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry