
“Standar sikap ini harusnya diseriusi. Di luar kasus ini, kita sering juga melihat bagaimana petugas memperlakukan tahanan . Walau sudah pakai baju tahanan, tetap diperlakukan dengan sopan santun ala bawahan.”
By Isfandiari MD
GIAT laku Taufik Hidayat si sadis penyiksa gadis ljuarbiasa keji atas nama kemanusiaan. Tapi begitulah, manusia macam begitu memang ada di muka bumi, di berbagai tempat dan jaman. Wajarnya orang normal pasti geram berujung dendam kesumat. Sampai orang yang dekat dunia kekerasanpun tak habis pikir, kok tega? Mereka marah, bahkan ingin partisipasi menghukum ala jalanan. Saking kejinya!
Diluar pelaku, hadir juga manusia-manusia sadis lainnya. Insan yang minim empati, komentar hanya berdasarkan ilmu bukan rasa dan atasnama jabatan. Simak respon dari Sondang Frishka, komisioner Komnas Perempuan, dengan enteng ia katakan lelaku Taufik belum masuk kategori penyiksaan dilihat dari Konvensi Menentang Penyiksaan PBB. Begitulah, kata PBB karena pelakunya harus pejabat/aparat atau non-negara yang bertindak atas suruhan,dorongan atau pembiaran negara. Bolehlah begitu, tapi apa perlu disampaikan di publik atas kasus sensisif begini? Publik tak perlu tahu jika menurut PBB ini tidak termasuk penyiksaan, beda konteks, beda penjabaran.
Jadi blunder sekali jika pejabat ini enteng mengabarkannya pada publik. Sadar-atau tidak sadar ia juga sadis karena zonder empati dan zero kecerdasan emosional sebagai pejabat publik. Karena heboh dan kontroversial, keluar permohonan maaf dari Ratna Batara, wakil ketua Komnas HAM. Tak perlu orang cerdas untuk tahu kalau isu sensitif begitu kalaupun ada yang kontradiktif, tak perlu diwartakan ke publik. Dikiranya hebat, eksis dan kredibel tapi jelas memuakkan dan hasilkan amarah publik. Pantas respon hujatan menggemuruh, mulai orang awal sampai publik figur semacam Hotman Paris. Ia jengkel-geram atas pernyataan itu termasuk usul keras agar presiden mengevaluasi jabatannya. Suka tidak suka, sadar ataupun tidak, Sondang masuk kategori orang sadis juga.
Moment kecil indikator minim empati juga ada. Ijin kritik! Pasukan lapangan penangkap Taufik, atau penjemput jika dia menyerahkan diri juga perlu dapat masukan. Dia lapor ke publik dan masuk medsos. Intinya pengumuman yang menggembirakan bahwa Taufik sudah ada bersama mereka. Sikap, body language, petugas mungkin layak diperbaiki. Terhadap pesakitan kita wajib menjaga jarak dan menunjukkan wibawa, bukannya perlakukan dia sebagai sahabat lama dirangkul segala. Kata yang disampaikan tak perlu keras-kasar tetapi wibawa dan mencerminkan bahwa ada batas tegas terukur antara petugas dan mantan buronan. Tone bahasa diperbaiki. Ajakan untuk kooperatif atau malah nasehat misalnya tidak disampaikan dengan halus bahkan mendekati sopan santun. Ingat, yang diajak bicara itu penjahat yang melakukan kejahatan kemanusiaan berat. ‘Perang’ urat syaraf harusnya sudah dimulai agar orang melihat bisa merasakan, rasa tidak nyaman, penyesalan yang luar biasa dimuali dari detik saat ia ditangkap. Okelah ini agar terlihat di depan publik. Di belakang layar siapa yang tahu, tapi justru karena terlihat, sikap profesional hadapi penjahat wajib tampak dan terasa getarannya.
Standar bersikap ini harusnya diseriusi. Diluar kasus ini, kita sering juga melihat bagaimana petugas memperlakukan tahanan korupsi misalnya. Walau sudah pakai baju tahanan, petugas tetap memperlakukannya dengan sopan santun ala bawahan. Ada etika yang tetap dijalankan walau salah tempat. Diperlakukan kaku berjarak pada orang bersalah tentu perlu sebagai efek jera dan menyesal luarbiasa dari awal dia jadi pesakitan.
Mode keras, dingin, kaku sepertinya diperlakukan di negri-negri lain katakanlah Korea Utara! (*)




































