(ki-ka) pengurus Koalisi Indonesia Bebas Tar (Kabar) Ariyo Bimmo dan pengurus Forum Musyarawah Pondok Pesantren se-Jawa Madura (FMPP) Halimi di sela Sosialisasi Rekomendasi NU mengenai Produk Tembakau Alternatif di Surabaya, Minggu (26/5). DUTA/endang 

SURABAYA | duta.co – Ada sebuah guyonan {candaan), jika ingin tahu yang mana warga Nahdlatul Ulama (NU) dan mana yang bukan, carilah mana yang merokok. Jika dia merokok pasti dia orang NU.

Memang selama ini merokok sudah menjadi budaya di masyarakat NU. Bahkan konon dari hasil penelitian 90 persen warga NU adalah perokok.

Itu juga dipertegas oleh salah satu pengurus Forum Musyarawah Pondok Pesantren se-Jawa Madura (FMPP) Halimi di sela Sosialisasi Rekomendasi NU mengenai Produk Tembakau Alternatif di Surabaya, Minggu (26/5).

Dikatakan Halimi, selama ini pihaknya sudah melakukan pertemuan secara intens terkait masalah ini.

Mereka menyadari bahwa dampak merokok sangat luas. Tidak hanya pada diri si perokok tapi pada orang—orang di sekitarnya.

Karenanya ketika ada pihak-pihak yang menghembuskan adanya tembakau alternatif yang bisa mengurangi risiko kesehatan seperi halnya rokok konvensional, Halimi mengungkapkan sangatlah mendukung.

“Jika benar-benar terbukti itu bisa mengurangi risiko, maka kita akan sangat menganjurkan untuk beralih,” ujar Halimi.

Namun, Halimi menegaskan jika masalah ini harus disertai dengan penelitian-penelitian yang benar-benar serius. Selama informasi yang diterima simpang siur.

Ada yang mengatakan bahwa tembakau alternatif tetap berisiko terhadap kesehatan, ada yang bilang risikonya sangat rendah.

Jika nantinya, kata Halimi, ada penelitian yang bisa menyebutkan tembakau alternatif ini lebih rendah, maka secara otomatis pihaknya akan merekomendasi warga NU untuk menggunakan tembakau alternatif itu.

“Dan tidak hanya itu, kami akan mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi terkait masalah itu, agar produk tembakau alternatif itu bisa diproduksi secara massal,” tegasnya.

Di kesempatan yang sama, salah satu pengurus Koalisi Indonesia Bebas Tar (Kabar) Ariyo Bimmo mengatakan pengobatan sebagai dampai dari merokok sebesar Rp 190 triliun per tahun.

Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan rokok yang hanya sebesar Rp 138 triliun per tahun.

Sehingga pemerintah menargetkan prevalensi merokok bisa ditekan sebsar 5 persen. Namun kenyataannya pada 2017 lalu,  justru jumlahnya meningkat dari tujuh persen menjadi 8,8 persen.

“Jelas target ini gagal karena apa? Pemerintah tidak menyiapkan alternatif pengganti tembakau konvensional,” tukasnya.

Ariyo pun menjelaskan, bahwa pada dasarnya tembakau alternatif itu merupakan kemajuan teknologi yang bisa mengurangi dampak dari merokok.

“Sebenarnya bahaya merokok itu adalah tar-nya. Tar itu dihasilkan dari tembakau konvensional yang dibakar. Sementara kalau menggunakan tembakau alternatif, tidak dibakar melainkan dipanaskan yang menghasilkan uap. Kita hirup uap itu sama dengan menghirup kuah bakso,” jelasnya.

Karena itu, Ariyo menyebutkan memang pemerintah perlu untuk mengatur atau mengeluarkan regulasi terkait tembakau altenatif ini.

Selama ini regulasi tentang ini menjadi satu aturan yang didalamnya justru banyak berisi tentang rokok.

“Karenanya kami berusaha untuk menghadirkan regulasi sendiri. Harusnya regulasinya diatur terpisah, walau ada beberapa pasal yang sama misalnya tidak dibeli anak-anak atau dihisap di depan orang hamil dan sebagainya,” jelasnya.

Indonesia sudah saatnya untuk memikirkan masalah ini. Karena di negara maju, vape sebagai salah satu produk dari tembakau alternatif sudah banyak digunakan.

“Di Indonesia sudah banyak yang menggunakan tapi belum ada regulasi yang jelas. Kalau di luar negeri sudah jelas. Jepang misalnya bagi yang merokok konvensional tidak bolek di dalam mal, tapi kalau pakai vape boleh,” tuturnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry