
“Tahannuts adalah areal kontemplasi me-nyuwung-kan jasad memetik sukma yang mampu mengatasi ketidakterjangkauan raga meski amat lekat dalam jiwa.”
Oleh Suparto Wijoyo*
TANPA mengurangi perhatian kita terhadap gelegak perang di Timur Tengah dimana Iran tetap teguh melawan pengroyokan yang dilakukan Israel dan USA. Iran kini merebut hati publik internasional secara luas, negara yang mendapatkan simpati dan empati dari masyarakat global yang menghargai kedaulatan sebuah bangsa. Pada tataran demikian saya tengah membayangkan tata kehidupan di Ramadan 610 M. Ramadan yang memberikan cahaya baru sebaran gelombang peradaban yang tidak dibayangkan siapapun sebelumnya. Saat wahyu perdana turun kepada Nabi Muhammad Saw. 17 Ramadan di tahun Masehi 610 rasanya sangat super istimewa.
Itulah saat yang saya anggitkan Nabi Muhammad Saw sedang khusuk di sebuah pegunungan yang bergua. Alhamdulillah waktu umroh tahun lalu saya sendiri berkesempatan dapat masuk ke gua tersebut. Di masa itu tentu belum ada lampu penerangan jalan tetapi lampu alamiah yang berupa rembulan. Waktu saya dan jamaah umroh waktu itu yang banyak dari Turkiye sangat antusias dapat memasuki gua kecil di pegunungan yang sangat historis dalam pewahyuan Alquran. Kehadiran kami di puncak gunung itu tengah malam dengan rembulan yang bulat sempurna. Bulan itu seakan berbisik dengan wibawa yang sangat dekat di jiwa-jiwa para pendaki yang menuju gua. Sangat menggetarkan jiwa, butuh tenaga dan tekad untuk dapat memasukinya. Bagi saya sungguh ini karunia Allah swt yang amat besar, sehingga saya dapat menyujudkan diri di areal tempat turunnya wahyu perdana Alquran.
Kini. Pada tarikh dimana puasa Ramadan 1447 H dilaksankaan, terawang lamunan saya tertuju pada era dimaksud dan ingin menyelami maknanya. Tahukah para pembaca. Pegunungan itu bernama Jabal Nur yang berjarak sekitar 2 mil dari Makkah. Di tepian puncaknya “bertahta” Gua Hira yang panjangnya berukuran 1,8 meter dan lebar 0,8 meter. Gua ini fisiknya tampak sempit dan sulit dijangkau, saat itu saya dan semua orang yang ingin menggapainya, harus merunduk dan memampatkan badan untuk dapat sampai di ”mighrab” Gua Hira. Gua itu tampak sempit tetapi memiliki “keluasan yang mukjizati yang telah disematkan” hingga menjadi wahana dan saksi atas risalah kenabian Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Gua Hira memanggungkan daya jangkau yang sangat Rabbani. Semesta dikreasi oleh-Nya dan Allah SWT menuangkan sabda “rahmatan lil ‘alamin” justru bermula dari Gua Hira ini. Gua yang Nabi Muhammad SAW menemukan cara “menenangkan batin” dengan beruzla, berkhalwat, bertapa, menyendirikan diri, bertahannuts untuk menangkap pesan Rabb-nya dalam hening, dalam sunyi, dalam sepi.
Tahannuts adalah areal kontemplasi me-nyuwung-kan jasad memetik sukma yang mampu mengatasi ketidakterjangkauan raga meski amat lekat dalam jiwa. Kanjeng Nabi Muhammad SAW menempuh jalan hening itu pada saat situasi publiknya berada pada puncak kejahiliaan. Masyarakat jahiliyah yang membuncah tentu saja bukan gerombolan orang bodoh dalam artian literatif tetapi “keterhijaban” batin khalayaknya, sehingga “gelap-gulita” ruhaninya tanpa mampu menemukan cahaya Tuhannya. Penyembahan berhala dan pemberhalaan materi adalah wujud paling kelam tingkat kebiadaban yang tidak mengenal peradaban nalar sehat. Manusia-manusia itu seperti kerumunan tanpa adab yang jauh dari nilai-nilai hakikiyah penciptaan insani.
Pembunuhan dan penguburan bayi-bayi perempuan serta merendahkan derajat wanita merupakan “cawan kebelumterdidikan” yang melebihi batas-batas kehayatan. Kultur yang mentradisi ini hanya mampu “disemat” kaum yang berperadaban barbar tanpa petunjuk walau betapa majunya perekonomian dan perdagangan. Makkah sangat kaya dengan devisa dari hasil lintasan para kafila dagang dan ramainya ekspor-impor pada lingkup transaksi internasional. Pengusaha dan konglomerasi bertengger menjulangkan Makkah sebagai pusat perdagangan kawasan regionalnya tanpa mampu ditandingi yang lainnya. Keberadaan Ka’bah (Baitullah) maupun Sumur Zam-zam yang sejak semula merupakan tetenger supremasi teologis, justru digunakan sebagai arena “festival patung” sekaligus “kawasan ekonomi khusus” Bangsawan Quraisy yang jahil. Sampai tataran “era jahiliyah” ini niscaya “kejahiliaan itu” membutuhkan “pencerah zaman”.
Kondisi ini sangat perih dirasakan dalam kerangka misi penciptaan manusia yang telah lama mendapatkan bimbingan hidup melalui kehadiran para nabi dan rasul. Moralitas dan akhlak menurut ukuran “nalar iman yang sehat” telah runtuh serta manusia berada pada derajat yang dzalim. Kekelaman adab ini harus diatasi agar manusia memiliki peradaban. Atas itulah Muhammad SAW menunjukkan kualitasnya sebagai manusia agung yang bertanggungjawab dengan melakukan tahannuts, bertapa, menyatukan diri dengan gumparan semesta. Setiap gerak galaksi dan keluasan cakrawala alam ditafakuri dari “ruang kuliah” Gua Hira demi memperbaiki tabiat yang memartabatkan manusia.
Tepat 17 Ramadhan saat Muhammad SAW dalam hitungan Hijriyah berusia 40 tahun, 6 bulan, 12 hari, wahyu diterima melalui Malaikat Jibril yang kini termuat dalam Alquran, Surat Al-Alaq, ayat 1-5: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Renungkanlah ayat-ayat Illahi ini dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.
Permenungan paripurna atas galaunya batin Muhammad SAW benar-benar dijawab Allah SWT dengan menghadirkan ayat-ayat-Nya tersebut. Perintah “Bacalah” (iqra’) amatlah spektakuler melalui seruan “dengan menyebut nama Tuhanmu”. Sebuah konstruksi pencerahan yang sangat sistematis dengan struktur yang runtut dari ayat 1-5 QS. Al-Alaq dimaksud. Berbagai disiplin ilmu lahir dari ketentuan yang sangat menantang kemampuan berfikir itu.
Dan atas peristiwa inilah Nuzul Alquran (Nuzulul Quran) acapkali diperingati. Sebuah peringatan diniscayakan untuk menyadari tentang momentum tauhid ini. Alhamdulillah, selama ini di Republik ini dan di masjid-masjid kampung selalu diadakan peringatan Nuzul Alquran. Acaranya diselenggarakan mulai dari entitas negara sampai pada komunitas sosial. Ghirah ini harus diapresiasi dengan ajakan jangan pernah umat Islam surut membaca Alquran. Saat wulan poso ini ada kesempatan kolektif yang terbangun di Masjid-masjid, Langgar-langgar, Surau-surau dan Mushollah-mushollah yang memperdengarkan riuhnya tadarus. Bacalah dengan sungguh-sungguh Kitab Teragung ini. Kitab yang tidak mampu ditandingi oleh buku-buku manapun, karena ini memang Kitabullah.
Dari segi jumlah pembaca dan penghafalnya saja, pastinya tidak dapat diraih oleh kitab manapun. Berjuta-juta orang hafal teksnya, hafidz-hafidzah serta lembaga tahfidz Alquran tumbuh menghiasi deret waktu perkembangan Islam. Sepanjang sejarahnya terlihat bahwa keemasan Islam itu hadir dari masyarakat dan otoritas yang Qurani. Apabila pemangku mandat dan rakyatnya jauh dari Alquran, saat itulah “dering kemunduran” peradan Islam terbunyikan. Bacalah Alquran ini dan sukma-sukma yang berhidayah (tidak cukup yang berkecerdasan) akan mampu memetik hikmah tentang ketinggian maqomnya.
Alquran silahkan diuji dengan ilmu apapun yang telah ada, kau akan menemukan prinsip-prinsip dasarnya. Bacalah dan andai engkau belum menemukan sama sekali percikan hikmah dari Alquran, jangan lelah karena itu berarti saatnya engkau “mengosongkan jiwa yang tengah berkelambu tanpa hudan”. Suwungkan dirimu dan lakukanlah tahannuts untuk mensyukuri “rahmat-Nya” yang senantiasa ada dalam dirimu. Cobalah bercermin diri dan “bertafakkurlah” tentang dirimu, sekaligus “bertadabburlah” mengenai ayat-ayat Alquran, maka “nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak engkau dustakan”? Ramadan memang saatnya bertahanuts, menjelajahi kisah-kisah yang sangat epik dalam Nuzulul Quran. Barokallah.(*)




































