Oleh Bey Arifin*

ADA filosofi sederhana, tetapi dalam, tentang langit. Ia luas, tinggi, dan menaungi. Langit tidak pernah bertanya siapa yang berdiri di bawahnya. Ia tidak memilih hanya menaungi mereka yang sepemikiran, satu kelompok, atau satu golongan. Semua berada dalam bentangan yang sama.

Begitulah semestinya ulama. Ulama seharusnya seperti langit: luas ilmunya, lapang hatinya, tinggi pandangannya, dan teduh kehadirannya.

Ulama bukan sekadar orang yang menguasai teks agama. Ulama adalah penjaga arah moral umat. Karena itu, semakin luas ilmunya, semestinya semakin luas pula daya tampungnya terhadap perbedaan. Ilmu yang membuat seseorang semakin mudah merendahkan orang lain patut dipertanyakan buahnya.

Ketinggian ilmu tidak seharusnya melahirkan jarak dengan umat. Justru ilmu harus membuat seorang ulama semakin dekat dengan manusia, memahami kegelisahan mereka, membaca perubahan zaman, dan mampu memberikan jawaban tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan.

Langit Tidak Memilih-Milih

Langit menaungi semuanya. Ia tidak hanya menaungi orang saleh, tetapi juga mereka yang sedang mencari jalan pulang. Ia tidak hanya menaungi orang yang sudah memahami agama, tetapi juga mereka yang masih belajar.

Demikian pula ulama. Ulama yang benar-benar matang tidak membangun pagar eksklusivitas di sekeliling dirinya. Ia hadir untuk membimbing, bukan menghakimi; menguatkan, bukan menakut-nakuti; menyatukan, bukan memperlebar jurang.

Perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam kehidupan umat. Tetapi perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan akhlak.

Ulama harus mampu berbeda tanpa bermusuhan, mengoreksi tanpa menghina, dan tegas tanpa kehilangan kasih sayang.

Semakin Tinggi, Semakin Teduh

Ada pelajaran penting dari langit: semakin tinggi posisinya, semakin luas wilayah yang dapat dinaunginya.

Begitu pula ulama. Ketinggian maqam keilmuan semestinya berbanding lurus dengan keluasan hati.

Ulama yang matang tidak sibuk mempertontonkan ketinggian dirinya. Ia tidak membutuhkan panggung untuk membuktikan bahwa dirinya paling benar. Wibawanya tumbuh dari ilmu, adab, istiqamah, keteladanan, dan khidmah yang panjang.

Dalam tradisi pesantren, ukuran seorang alim bukan hanya seberapa banyak kitab yang dibaca, tetapi juga seberapa dalam adab yang melekat pada dirinya.

Ilmu tanpa adab dapat4 berubah menjadi senjata. Kekuasaan tanpa hikmah dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Tetapi ilmu yang dibingkai adab akan melahirkan keteduhan.

Ulama Bukan Matahari bagi Kelompoknya Sendiri

Di tengah kehidupan organisasi dan politik umat yang semakin kompleks, filosofi langit menjadi semakin relevan.

Ulama jangan hanya menjadi “Matahari” bagi kelompoknya sendiri terang untuk orang-orang yang berada di lingkarannya, tetapi panas bagi mereka yang berada di luar.

Ulama justru harus menjadi langit bagi semuanya. Ia boleh memiliki sikap dan pendirian yang tegas. Tetapi ketegasan tidak identik dengan kebencian. Ia boleh mengkritik kebijakan, tetapi kritik tidak boleh kehilangan akhlak. Ia boleh berbeda pilihan, tetapi perbedaan pilihan tidak boleh menghapus persaudaraan.

Di sinilah kepemimpinan ulama diuji: mampukah ia tetap menjadi rumah bersama ketika umat sedang terpecah oleh kepentingan?

Keluasan Ilmu Harus Melahirkan Keluasan Pandangan

Zaman berubah dengan cepat. Teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan menghadirkan persoalan-persoalan baru yang tidak selalu ditemukan jawabannya secara langsung dalam bentuk persoalan klasik.

Ulama dituntut tidak hanya hafal jawaban, tetapi mampu memahami pertanyaan baru.

Karena itu, ulama masa depan membutuhkan dua sayap: kedalaman turats dan keluasan wawasan.

Kokoh dalam sanad, tetapi terbuka terhadap perkembangan ilmu. Berakar pada tradisi, tetapi tidak gagap membaca zaman. Teguh dalam prinsip, tetapi bijaksana menghadapi perubahan.

Ulama tidak boleh kehilangan masa lalu, tetapi juga tidak boleh kehilangan masa depan.

Mengayomi, Bukan Mendominasi

Kepemimpinan ulama pada akhirnya bukan tentang seberapa besar kekuasaan yang berada di tangannya, melainkan seberapa banyak manusia yang merasa terlindungi oleh kehadirannya.

Mengayomi berarti mampu mendengarkan sebelum menghakimi. Memahami sebelum menyimpulkan.
Membimbing sebelum menghukum.

Umat membutuhkan ulama yang dapat menjadi tempat bertanya ketika mereka bingung, tempat mengadu ketika mereka terpuruk, dan tempat menemukan kembali harapan ketika mereka kehilangan arah.
Ulama yang mengayomi tidak membuat umat bergantung kepada dirinya, tetapi menuntun umat agar semakin dekat kepada Allah

Di Tengah Kegaduhan, Umat Membutuhkan Langit yang Teduh

Hari ini umat hidup dalam suasana yang penuh kegaduhan. Media sosial mempercepat konflik. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Potongan video sering lebih cepat dipercaya daripada penjelasan yang utuh.

Dalam situasi seperti itu, ulama seharusnya menjadi penjernih, bukan penambah keruh.

Ketika masyarakat berebut berbicara, ulama perlu menghadirkan kebijaksanaan. Ketika banyak orang mudah menghakimi, ulama harus mengajarkan kehati-hatian. Ketika ruang publik dipenuhi kebencian, ulama harus menghidupkan kembali kasih sayang.
Ulama harus menjadi oasis di tengah kegersangan moral zaman.

Langit Tidak Pernah Berisik tentang Keluasaannya

Ada hal lain yang patut direnungkan. Langit tidak pernah mengatakan bahwa dirinya luas. Ia tidak perlu mengumumkan ketinggiannya. Keagungannya terlihat dari kenyataan bahwa ia mampu menaungi bumi.

Demikian pula ulama.
Tidak perlu terlalu banyak bicara tentang kealiman. Biarkan ilmu, akhlak, istiqamah, dan khidmah yang berbicara. Sebab ulama sejati tidak sibuk membangun citra keulamaan; ia sibuk membangun kemaslahatan umat.

Menjadi Langit bagi Umat

Pada akhirnya, filosofi langit adalah filosofi tentang keluasan. Keluasan ilmu. Keluasan hati. Keluasan pandangan. Keluasan kasih sayang. Dan keluasan kesediaan untuk mengayomi.

Umat tidak selalu membutuhkan ulama yang paling keras suaranya. Umat membutuhkan ulama yang paling dalam ilmunya dan paling luas dadanya. Umat tidak membutuhkan pemimpin yang selalu ingin menang dalam perdebatan. Umat membutuhkan ulama yang mampu menjaga persaudaraan setelah perdebatan selesai.

Maka, jadilah seperti langit. Tinggi tanpa merendahkan. Luas tanpa kehilangan batas.
Teduh tanpa kehilangan ketegasan. Mengayomi tanpa membeda-bedakan.
Dan hadir tanpa haus dipuji.

Sebab kemuliaan ulama bukan terletak pada seberapa tinggi ia berdiri di atas umat, tetapi pada seberapa luas umat merasa dinaungi oleh ilmu, akhlak, dan keteladanannya.

*Bey Arifin adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry