“Jika Indonesia mampu menjaga garis itu, maka terima kasih warga Iran bukanlah akhir cerita.”
OLEH BEY ARIFIN*

GELOMBANG ucapan terima kasih dari rakyat Iran kepada Indonesia bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ia adalah cermin: bagaimana sebuah bangsa dipandang oleh dunia ketika memilih berdiri bukan di atas kepentingan, tetapi di atas nilai.

Di tengah memanasnya konflik antara Iran dengan blok Amerika Serikat–Israel, Indonesia muncul sebagai suara yang berbeda. Bukan negara dengan kekuatan militer besar, bukan pula pemain utama dalam percaturan geopolitik global, tetapi justru di situlah letak kekuatannya: otoritas moral.

Rakyat Iran melihat Indonesia bukan sebagai sekutu politik, melainkan sebagai sahabat kemanusiaan.

Rakyat Iran melihat Indonesia bukan sebagai sekutu politik, melainkan sebagai sahabat kemanusiaan.

Namun pertanyaannya: apakah kita sendiri memahami posisi itu secara jernih?

Antara Empati dan Euforia

Dukungan masyarakat Indonesia terhadap Iran baik dalam bentuk doa, donasi, maupun sikap politik tidak lahir dari ruang hampa. Ia berakar pada empati. Pada rasa keadilan yang terusik ketika melihat korban sipil berjatuhan. Pada naluri kemanusiaan yang menolak penindasan.

Tetapi di sinilah ujian dimulai.

Empati bisa berubah menjadi euforia. Solidaritas bisa tergelincir menjadi fanatisme. Dan dukungan kemanusiaan bisa diseret menjadi dukungan ideologis tanpa sadar.

Dalam konteks inilah, cara pandang Nahdlatul Ulama (NU) menjadi relevan bahkan mendesak untuk dihadirkan.

NU: Menjaga Jernih di Tengah Keruh

Dalam tradisi NU, ada prinsip yang tidak pernah usang: tawazun (keseimbangan) dan tawasuth (moderat).

NU tidak pernah mengajarkan umat untuk melihat dunia dalam dikotomi sempit: “kita vs mereka”, “Islam vs Barat”, atau “timur vs barat”. Dunia jauh lebih kompleks dari itu.

Maka ketika konflik Iran memanas, NU tidak serta-merta berkata: dukung Iran sepenuhnya. Tidak juga membenarkan agresi siapa pun. Sikapnya lebih dalam: membela yang tertindas, tanpa kehilangan kejernihan berpikir.

Bagi NU, kebenaran tidak melekat pada aktor, tetapi pada nilai. Siapa pun yang menindas harus dikritik.

Siapa pun yang menjadi korban berhak dibela.
Itulah yang membuat solidaritas Indonesia terasa tulus di mata Iran karena ia tidak dibungkus kepentingan tersembunyi.

Indonesia: Kekuatan yang Tidak Disadari
Ucapan terima kasih dari Iran sejatinya adalah pengakuan atas satu hal: Indonesia masih dipercaya sebagai bangsa yang punya nurani.

Di saat banyak negara terseret dalam orbit kepentingan global, Indonesia setidaknya di mata publik dunia masih mampu berdiri dengan prinsip bebas aktif. Tidak menjadi satelit, tidak pula menjadi provokator.

Namun kekuatan ini rapuh jika tidak dijaga.

Jika solidaritas berubah menjadi kebencian terhadap pihak lain, maka Indonesia kehilangan posisi moralnya. Jika narasi kemanusiaan berubah menjadi propaganda geopolitik, maka Indonesia tak lagi berbeda dari aktor-aktor besar yang selama ini dikritik.

Ujian Sebenarnya: Menahan Diri

Mengucapkan terima kasih itu mudah. Mendapat simpati global itu membanggakan. Tetapi mempertahankan integritas jauh lebih sulit.

Di sinilah pesan NU menjadi penting:
bahwa membela kemanusiaan tidak boleh membuat kita kehilangan kemanusiaan itu sendiri.

Solidaritas kepada Iran harus tetap berada dalam koridor: membela korban, bukan membenarkan perang menolak penindasan, bukan membenci kelompok lain mendorong perdamaian, bukan memperpanjang konflik

Karena sejatinya, tujuan akhir bukanlah kemenangan satu pihak, tetapi terhentinya penderitaan manusia.

Dari Terima Kasih Menuju Tanggung Jawab

Ucapan terima kasih dari rakyat Iran seharusnya tidak membuat Indonesia terlena, tetapi justru tersadar.

Bahwa dunia sedang melihat.
Bahwa setiap sikap akan dibaca.
Dan bahwa Indonesia sedang diuji: tetap menjadi bangsa yang menjunjung nilai, atau tergelincir menjadi bagian dari pusaran konflik global.

Jika Indonesia mampu menjaga garis itu, maka terima kasih Iran bukanlah akhir cerita.
Ia adalah awal dari peran yang lebih besar:
menjadi jembatan, bukan tembok di dunia yang semakin terbelah.

*BEY ARIFIN adalah Pengurus IKAPETE Jombang
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry