DAMAI : Silaturahmi Kamtibmas dan Deklarasi Damai di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri (istimewa/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Dalam acara Silaturahmi Kamtibmas dan Deklarasi Damai dengan tema membangun daya cegah dan tangkal masyarakat terhadap tindakan anarkis guna wujudkan Kota Kediri aman dan damai digelar di Ruang Joyoboyo Balai Kota, Jumat kemarin. Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar hadir didampingi Kapolres Kediri AKBP Miko Indrayana dan Dandim 0809 Letkol Kav. Dwi Agung Sutrisno memberikan ruang dialog kepada undangan yang hadir.

Sarat rasa kekeluargaan meski diakui Wali Kota bahwa dirinya meminta maaf atas acara yang digelar secara mendadak. Bahwa maraknya aksi penyampaian aspirasi dan di dalamnya turut terlibat anak – anak masih duduk di bangku sekolah, menjadikan dasar utama digelarnya acara di atas. Dihadiri perwakilan Forkopimda, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda, Mas Abu sapaan akrabnya menyampaikan dirinya pernah dihubungi Gubernur Jawa Timur. Menanyakan terkait apakah di Kota Kediri tidak menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Namun berkat bantuan Bapak Kapolres, saya sampaikan kepada Ibu Gubernur bahwa Kota Kediri tidak akan menerapkan PSBB. Saya bersama Bapak Kapolres dan Bapak Dandim memiliki cara tersendiri dalam penerapan protokol kesehatan yang ketat tanpa harus harus menerapkan PSBB. Makanya dilakukan penerapan kawasan Physical Distancing, sejumlah jalur sengaja ditutup sementara untuk memutus mata rantai penyebaran,” ungkapnya.

Begitu juga saat perwakilan dunia pendidikan menanyakan kapan sekolah bisa kembali dibuka, apalagi untuk SMK karena materi praktek lebih dominan daripada teori. “Sekolah kami butuh banyak praktek, karena kami bukan SMK jurusan Sastra,” ungkapnya, dan disambut tertawa undangan yang hadir. Begitu juga saat usulan perwakilan Pemuda Pancasila meminta sekolah kembali dibuka namun menerapkan aturan yang ketat. “Saya melihat anak – anak mulai jenuh di rumah,” ucapnya.

Menanggapi sejumlah pertanyaan tersebut, Mas Abu meminta agar bersabar apalagi wabah pandemi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. “Negara kita belum menemukan vaksin-nya, saya berharap untuk bersabar. Termasuk jika boleh jujur, saya juga ditanya kapan tempat karaoke boleh kembali buka. Yang kita kuatirkan, bahwa saat tubuh kita sehat namun ternyata menjadi OTG menulari orang yang sebelumnya memiliki sakit bawaan,” jelasnya.

Resiko inilah yang menjadikan dasar, kenapa sejumlah tempat usaha seperti karaoke dan panti pijat juga sekolah diminta tidak dibuka lagi. Bahkan, bagaimana Satpol PP telah melakukan penertiban namun kesadaran masyarakat agar tidak berkerumun tetap saja terjadi. “Kita telah memiliki RS Kilisuci juga didukung rumah sakit lainnya, dimana jumlah kamarnya terbatas. Meski saat ini jumlah pasien yang sembuh di Jawa Timur cukup baik, namun pencegahan harus menjadi prioritas utama,” terang Wali Kota Kediri. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry