
SIDOARJO | duta.co – Ratusan warga Desa Kebaron, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, tampak antusias menghadiri rangkaian kegiatan Ruwah Desa atau Bersih Desa yang digelar pada Sabtu malam (31/1/26). Forkopimka maupun perwakilan tampak hadir dalam puncak acara yang ditandai dengan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Ki Didik Iswandi.
Plh. Kepala Desa Kebaron, Nyoto, menyampaikan, bahwa Ruwah Desa bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan wujud rasa syukur masyarakat atas berbagai berkah yang telah diterima, sekaligus simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Nyoto mengapresiasi kebersamaan dan semangat gotong royong warga yang telah menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.
“Melalui pagelaran wayang kulit ini, kita tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga memetik filosofi hidup serta nilai-nilai moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Nyoto menjelaskan, pada pagelaran wayang Ruwah Desa tahun ini dipilih lakon Wahyu Mahkota Romo. Lakon tersebut memiliki makna mendalam tentang kepemimpinan, keadilan, dan amanah.
Ia mengisahkan, dalam lakon tersebut diceritakan masa hilangnya Negara Ngamarto, hingga akhirnya muncul kembali di Ngastino melalui keturunan Janaka dan Abimanyu yang bernama Parikesit.
“Lakon ini mengandung pesan tentang kelanjutan kepemimpinan yang berlandaskan kebajikan dan tanggung jawab,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nyoto berharap kegiatan Ruwah Desa dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari adat dan budaya masyarakat Kebaron. Menurutnya, selamatan desa bukan hanya untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh alam bumi yang ada dan masyarakat desa.
“Harapan kami sejak dulu, dengan adanya selamatan desa atau Ruwah Desa, yang pertama sebagai adat kebiasaan bersih desa. Kedua, masyarakat mendapatkan berkah dari Allah SWT,” ungkapnya.
“Ruwah desa ini bukan hanya untuk keluarga atau warga tertentu, tetapi untuk seluruh bumi yang ada di Desa Kebaron,” imbuhnya.
Nyoto berharap, Desa Kebaron senantiasa berada dalam kondisi yang digambarkan masyarakat Jawa sebagai gemah ripah loh jinawi, kerto tentrem tur raharjo. Sementara dalam perspektif Islam, ia menyebutnya sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
“Harapan kami, tradisi ini tetap menjadi adat istiadat dan terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang,” katanya.
Sementara itu, Dalang Ki Didik Iswandi, kepada duta.co dalam lakon kali ini menjelaskan filosofi Wahyu Mahkota Romo sebagai simbol pemimpin terpilih yang memiliki keutamaan budi pekerti.
Tokoh tersebut digambarkan sebagai reinkarnasi nilai-nilai kebajikan yang juga tercermin dalam sosok Bethoro Krisno.
“Bethoro Krisno adalah tokoh pilihan yang tetap mengabdi untuk memberantas angkara murka, meskipun ia seorang raja,” disampaikan dalam alur cerita wayang.
Lakon tersebut juga menggambarkan perjuangan Pandawa dalam menghadapi sisa-sisa kejahatan Rahwana, yang berusaha menjerumuskan (mengajak) mereka ke dalam perbuatan buruk.
Di akhir penyampaiannya, Ki Didik Iswandi menyampaikan pesan moral kepada para pemimpin dan pemerintah agar selalu mengedepankan kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat.
“Pemimpin harus jujur, adil, dan merakyat. Apa yang menjadi kemauan rakyat harus disepakati bersama. Jangan merasa paling terpilih kita nanti jadi Raja,atau dari pimpinan nomor 1 atau nomor 2,oh saya yang terpilih jangan seperti itu.
“Karena masyarakat punya bendera,meskipun benderanya tidak dikibarkan, kalau sudah dikibarkan akan jatuh pimpinan tersebut,”tegasnya.
Ia menutup dengan pesan bahwa kekuatan rakyat tetap menjadi penentu utama dalam keberlangsungan kepemimpinan. (loe)





































