Keterangan foto fajar.co.id

 Akulah Penjagamu, Akulah Pelindungmu

Akulah Pendampingmu, Di setiap langkah-langkahmu

Kau bawa diriku ke dalam hidupmu

Kau basuh diriku dengan rasa sayang

Senyummu juga sedihmu adalah hidupku

Kau sentuh cintaku dengan lembut

Dengan sejuta warna ………………………………

OLEH : DEDI SUYANTO S.SOS

MANDI sambil menyanyikan lagu yang penuh kenangan, menghanyutkan lamunanku ke masa-masa indah beberapa tahun silam. Namun tiba-tiba aku dikagetkan ‘teguran lembut’ dari sosok Bapak Soekarno. Wajah beliau bersliweran.

Jadi teringat pesan beliau: “……perpisahan itu memang berat, Bapak juga pernah mengalaminya dulu. Namun yakinlah semua ini takkan berakhir dengan kesia-siaan. Dengan sisa waktu yang ada, kalian akan dipersatukan kembali……”

Tanpa terasa airmataku mengalir dan aku terduduk lunglai menangis tersedu di dalam kamar mandiku.

Begitu selesai mandi dan sholat dhuha langsung buka HP. Ada WA yang berupa slip transferan dari teman lelaku asal Surabaya, Ki Agus Dhimas Sodiq. Nominalnya bikin kaget, dengan pesan singkat: “ijin bantu ongkos tukang, Prof!” Begitu beliau biasa memanggilku. Subhanallah, Allahu Akbar

Rejeki dari jalan tak terduga pada saat yang tepat. Saat aku bingung untuk beli bahan dan ongkos tukang perbaikan ‘rumah’ yang sudah mau roboh. Allah mengirimkan ‘malaikat tanpa sayap’.

Setelah menyelesaikan urusan tukang dan beli bahan, aku segera bergegas menuju ke Makam Eyang Panembahan Joyolelono di Dusun Keramat Paras, di mana pertama kali Bapak Soekarno ‘menemuiku’ saat aku bersama Sang Wisanggeni.

Menjelang sampai di lokasi tujuan, sudah ada ‘kabar’ dari Wisanggeni tentang pesan Bapak Soekarno 5 hari yang lalu, agar aku sowan ke Blitar.

Sesampai di pesarean Eyang Panembahan Joyolelono, aku meditasi dan ritual di tempat beliau yang pagi ini terlihat begitu bersih dan asri sejak aku menyerangi sungai kecil dan menyusuri jalan menuju pintu gerbang yang terbuat dari bambu.

Ternyata menurut keterangan Pak Purnomo si Juru Kunci, pagi-pagi tadi kedatangan tamu seorang Bapak, agak tua dengan sepeda butut, minta ijin untuk bersih-bersih sekalian ‘ngalap berkah’ katanya.

Setelah meditasi ada ‘perintah’ Eyang agar aku mengambil kantong kuning butut peninggalan beliau dan disuruh bawa pulang untuk dirawat.

Di dalam kantong kuning yang sudah berusia tua tersebut, terdapat 2 (dua) buah koin, yang satu ada angka 21 dan tulisan Gaming Tokens dan satunya lagi bertuliskan Cash Value Indonesia.

Juga ada satu batu kapur yang sepertinya ada kaitannya dengan Gunung Puger Jember dan satu batu putih licin. Disamping itu ada lagi kantong kecil putih lusuh dan ternyata berisi sebilah keris kecil yang ujungnya patah.

Tepat jam 3 sore bis berangkat dari terminal Bayuangga Probolinggo menuju ke terminal Arjosari Malang, lalu pindah bis menuju Kota Blitar.

Sekitar jam 20.15 diiringi gerimis tipis sampailah di simpang masuk Kota Blitar dimana terdapat Patung Sang Proklamator.

Sekitar jam 21.00 sudah masuk areal Makam Bung Karno, tampak serombongan peziarah mulai memasuki pelataran Museum Bung Karno.

Saya mengikuti dari belakang tapi akhirnya masuk duluan. Sambil mengikuti do’a tahlil do’a lain dari rombongan tersebut, aku melemaskan kaki dan punggung dengan bersandar di salah satu tiang penyangga makam.

Begitu rombongan menyelesaikan ritualnya, aku mendekati Pusara Bapak dan di seberang pusara ada dua anak muda laki-laki, malah yang satu masih seusia anak SMP. Kami bertiga ritual ‘bareng’, sempat saya tanyakan kepada keduanya, ternyata berasal dari Malang.

Setelah merasa ‘cukup’ saya mengakhiri ritual (do’a) dan bergegas menuju gerbang masuk makam yang masih terbuka dan ditinggal petugasnya. Saya menuju ke hotel dimana kami biasa stay setiap kali ke Makam Bung Karno.

Saya istirahat dan sebelumnya WA Wisanggeni barangkali ada ‘petunjuk’ dari Bapak sampai saya terlelap tidak ada jawaban dan ‘dibangunkan’ tepat jam 02.00 WIB.

Buka HP dan baca jawaban WA dari Wisanggeni, ada beberapa hal antara lain : “Bapak kangen kamu karena lama tidak sowan”.

“Mau update ilmunya ke kamu”. “Baca yang biasanya kamu baca”. “Yang lain-lain disampaikan ke kamu lewat mimpi. Waallahu’alam.

Benarlah, dalam tidur aku bermimpi diajak keliling ditunjukkan harta amanah yang nyata, titik-titiknya dan kelengkapan data untuk memilikinya.

Terpampang seperti matrik di papan besar. Di samping itu juga dijelaskan makna dan kegunaan ‘barang-barang’ yang saya bawa dari Panembahan Joyolelono siang tadi di Probolinggo. Disamping itu juga dijelaskan rahasia di balik jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu 9 Januari 2021, menurut terawang Manajemen Ghaib, ini mengirimkan sinyal isyarat bahwa akan adanya dinasti yang jatuh. SJ, saatnya jatuh.

Sementara angka 182 lebih merujuk ke tanggal 18 Februari. Kalau isyarat ini disambungkan dengan ‘dawuh’ Prabu Ajisoko saat ritual di Bromo, maka tanggal tersebut dapat dikaitkan dengan pelantikan para Kepala Daerah terpilih yang serentak, dan akan dilantik pada tanggal 17 Februari 2021.

Bahwa Kepala Daerah yang terpilih secara tidak ‘fair’ menurut hukum langit, tapi ‘dipaksakan’ menang dan jadi dengan campur tangan tirani. Maka akan segera menuai ‘tuah’nya sejak setelah dilantik. Apalagi dalam perjalanan kepemimpinannya jauh dari amanah, maka akan mempercepat proses kejatuhannya.

Prabu Ajisoko yang merupakan pencipta aksara Jawa Hanacaraka, memberikan tiga pilihan bagi penguasa zalim yaitu, mati, roboh (jatuh), edan (gila).

Dan kata-kata itu beliau selipkan diantara akasara yang juga mengandung filosofi dan daya magis tinggi, hanacaraka, datasawala, padajayanya, magabathanga.

Selamat datang para pemimpin baru, semoga amanah dan membawa manfaat bagi ummat. Ingat kekuasaan itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dan ukurannya adalah kemanfaatan bagi ummat. (*)

*DEDI SUYANTO S.SOS adalah pengasuh Managemen Ghaib HU Duta Masyarakat.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry