
JOMBANG | duta.co – Di sebuah bekas toko kecil di tepi jalan Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, suara sendok beradu dengan kaleng bekas terdengar pelan. Di sudut ruangan sempit itu, Ika Ning Rahayu (37) mencoba menanak nasi dengan tungku sederhana, ditemani ibunya yang renta dan dua anaknya yang masih kecil.
Sudah sepekan mereka tinggal di ruangan pengap itu bukan karena pilihan, melainkan karena rumah yang mereka tempati selama ini hangus terbakar. Sisa dinding hitam dan atap bolong masih berdiri di halaman, seolah menjadi saksi bisu dari kehilangan yang belum sempat diratapi.
“Kalau hujan turun, air masuk semua. Rumahnya banjir, nggak bisa ditempati,” ucap Ika lirih, Rabu (5/11) dengan menatap puing rumahnya yang belum tersentuh perbaikan.
Faktor ekonomi yang serba kekurangan membuat janda dua anak ini tak berdaya memperbaiki tempat tinggalnya. Sehari-hari, ia bekerja di sebuah pabrik plastik dengan upah harian Rp75 ribu. Uang itu habis untuk makan dan kebutuhan anak-anaknya yang masih sekolah.

Dari Dinas Sosial (Dinsos) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang, Ika memang telah menerima bantuan alas tidur, beberapa lembar seng, dan kayu untuk atap. Tapi, semua itu hanya tergeletak di samping rumah.
“Diserahkan saja, nggak dipasangkan. Saya nggak punya biaya buat bayar tukang, dan di rumah juga nggak ada laki-laki,” tuturnya.
Seng dan kayu itu kini menjadi simbol harapan yang belum tersentuh. Sementara anak-anaknya mulai terbiasa tidur berdesakan di bekas toko yang hanya berukuran tiga kali empat meter.
“Kalau malam anak-anak kedinginan, apa lagi sekarang musim hujan, tapi mau bagaimana lagi,” kata Ika, berusaha menahan air mata.
Meski hidup dalam kesulitan, Ika tidak pernah berhenti berharap. Ia terus berjuangan dengan sekuat tenaga terus berkerja dan tidak lupa lantunan doa pun terus dilakukan, semoga diberikan kemudahan dan kelancaran memberikan tempat yang layak untuk anaknya.
“Saya cuma ingin bisa tinggal di rumah sendiri lagi. Yang penting anak-anak bisa tidur nyenyak tanpa takut hujan,” ujarnya pelan. (din)





































